Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Periset Pesantren (2) Perspektif Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.

M. Ainul Budi
Penulis: M. Ainul Budi❯
Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, M.A.
Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, M.A.

Advertisement

 

PERISET PESANTREN (2)

Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.

Advertisement

Karena itu karya riset pesantren penting dikaji ulang agar terus dipahami dan diupdate untuk melihat implikasinya terhadap riset pesantren masa depan, khususnya ketika pesantren bersentuhan dengan perubahan zaman, perubahan kebijakan dan perubahan ekspektasi masyarakat.

Dinamika pesantren ditandai dengan wacana apakah dalam dinamika yang terjadi pesantren tetap eksis seperti sekarang atau harus berubah mengikuti irama perubahan. Mempertahankan wujud lama dalam merespons arus baru, arus global dirasa tidak mungkin, sebaliknya, larut dalam arus global harus dihindari karena pesantren bisa kehilangan jati diri, akhirnya inovasi pesantren memilih jalan aman: “continuity and change”, sehingga perubahan di pesantren tidak memutus akar-akar dan mata rantai sebelumnya, pesantren terus menjaga kesinambungan dan perubahan.

Masalahnya, yang penting ditelusuri lebih lanjut adalah bagaimanakah riset pesantren masa perintisan, masa pengembangan dan masa reformasi?. Penelusuran terhadap pertanyaan ini penting, untuk melihat implikasi ketiga masa ini terhadap riset pesantren pada masa berikutnya dan pada masa depan.  

Advertisement

Clifford Geertz, adalah periset pertama tentang pesantren (1960), karena memang belum ditemukan karya riset sebelumnya. Geertz, dalam karyanya “The Javanese Kiyayi: The Changing Roles of a Cultural Broker”, menyebut kiai sebagai penghubung budaya antara pesantren dan “dunia luar”. Kiai menyaring mana unsur budaya yang boleh masuk dan yang tidak.

Tetapi, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, yang membuat massifnya arus informasi, membuat kiai tak mungkin lagi dapat menyaringnya. Kiai menjadi kehilangan perannya dan kemudian sekedar menjalankan posisi yang sekunder dan tidak kreatif.

Kiai akan menjalani kesenjangan budaya dalam masyarakat sekitarnya. Sebagai peneliti pemula, belum banyak data yang berhasil dihimpun, tetapi cukup berhasil menginspirasi peneliti berikutnya. 

Data pesantren relatif memadai setelah LP3ES berhasil memetakan pesantren dengan karya Profil Pesantren: Laporan Hasil Penelitian Pesantren Al-Falak dan Delapan Pesantren Lain di Bogor (Sudjoko Prasojo, ed., Profil Pesantren: Laporan Hasil Penelitian Pesantren Al-Falak dan Delapan Pesantren Lain di Bogor, Jakarta: LP3ES, 1974). Sebagai hasil riset awal menggambarkan betapa tidak sederhananya usaha untuk mengumpulkan data-data kuantitatif dan kualitatif tentang pesantren. Penelitian kuantitatif telah dilakukan oleh tim LP3ES bekerjasama dengan Pusat Dakwah Islam, Perguruan Tinggi Dakwah Islam, Lembaga Penelitian Agama dan Kemasyarakatan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang baru selesai pada kwartal I tahun 1973, sedangkan pengumpulan data dan analisis kualitatif ternyata lebih lama lagi, dan berlangsung hingga kwartal IV tahun 1973.

Advertisement

Artikel Terkait

Refleksi Misi Utama Pendidikan Agama

Refleksi Misi Utama Pendidikan Agama

Refleksi Misi Utama Pendidikan Agama Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.* SEJAK Indonesia merdeka, delapan puluh satu tahun yang lalu, pendidikan agama termasuk salah satu topik yang sering memicu perdebatan.

Sanad Keilmuan Pengasuh Pesantren: Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan

Sanad Keilmuan Pengasuh Pesantren: Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan

Artikel opini ini mengulas rihlah ilmiah, sanad keilmuan, dan etos spiritual Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan dalam melahirkan kiai-kiai besar pendiri pesantren Nusantara.

Periset Pesantrren (5): Implikasi terhadap Riset Pesantren Masa Depan

Periset Pesantrren (5): Implikasi terhadap Riset Pesantren Masa Depan

Bukan Lagi Sekadar Profiling, Guru Besar UIN KHAS Jember Bongkar Skenario Radikal Fokus Riset Santri Era Reformasi

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer