BALUNG, Radar Jember - Kecamatan Balung menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah, khususnya di Desa Gumelar dan Balung Lor.
Di Dusun Rejosari, Desa Gumelar, air sungai yang bermuara ke Bedadung meluap hebat hingga masuk ke pemukiman setinggi pinggang orang dewasa.
Hal ini memaksa puluhan warga meninggalkan rumah mereka di kegelapan malam.
Masjid setempat menjadi tumpuan harapan bagi para pengungsi.
Puluhan warga, didominasi oleh perempuan dan anak-anak, terlihat berkumpul di area masjid sejak dini hari.
Mereka harus terjaga untuk menghindari terjangan air yang terus meningkat volumenya seiring dengan hujan yang tidak kunjung reda sejak Kamis siang.
Sementara kaum perempuan dan anak-anak berlindung di tempat ibadah, para pria di desa tersebut tetap aktif berjaga-jaga. Mereka memantau pergerakan debit air di pinggir sungai dan menjaga hewan ternak yang diungsikan.
Sapi dan kambing warga terpaksa diletakkan di pinggiran jalan raya agar tidak hanyut terseret arus banjir.
Ketangguhan warga juga terlihat dari aksi gotong royong yang spontan. Sebelum subuh, salah satu warga bahkan berinisiatif memasak makanan di dapur untuk diberikan kepada para pengungsi di masjid.
Meski rumah mereka sendiri terendam, semangat untuk membantu sesama tetap menyala di tengah bencana.
"Anak-anak sudah saya bawa ke masjid sejak jam 1 malam karena air sudah sepinggang. Barang-barang tidak sempat diselamatkan sudah, air semakin tinggi," aku Nurul, warga setempat.
Meski sempat mengungsi, banjir yang tercatat terbesar kedua setelah banjir bandang Panti 2006 di Jember ini perlahan mulai surut.
Sejak Jum'at pagi, mayoritas warga sudah kembali ke rumah masing-masing dan melakukan pembersihan sisa-sisa endapan material banjir yang masuk ke rumah. (mau)
Editor : M. Ainul Budi