alexametrics
28.3 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Mengarifi Perbedaan

Oleh: Dr. Khoirul Faizin, M.Ag.

Mobile_AP_Rectangle 1

Relawan atas nama lembaga apapun yang datang ke Lumajang, tapi memiliki agenda selain kemanusiaan, silakan keluar dari Lumajang”, demikian kalimat penutup yang disampaikan oleh bupati Lumajang, Thoriqul Haq saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi swasta (11/1/2022). Ungkapan penuh ketegasan sekaligus mengekspresikan kekecewaan yang luar biasa tersebut merespon sikap dan tindakan seseorang yang melempar dan menendang sesajen di lokasi bencana letusan Semeru.  

Saya pastikan bahwa pelaku bukan warga Lumajang”, yakin bupati saat pertama kali mendapatkan informasi tentang hal itu. Dalam perkembangannya, sebagaimana identitas pelaku yang beredar, ia memang bukan warga Lumajang. Menurut hemat penulis, pernyataan Cak Thoriq, demikian ia biasa dipanggil, mewakili perasaan mayoritas, bukan hanya masyarakat Lumajang, tetapi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, di tengah suasana gegap gempita karena semua pihak berupaya bahu-membahu meringankan penderitaan masyarakat Lumajang korban letusan Semeru, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak mencerminkan (bahkan) jauh dari simpati, apalagi empati! 

Saat tulisan ini dibuat, si pelaku belum tertangkap hanya saja aparat kepolisian telah mengantongi identitasnya, dan kini sedang memburunya. Sehingga, motif yang melandasi sikap dan tindakannya, belum secara jelas diungkap, sekaligus dibaca secara mendalam. Oleh karena itu, tulisan sederhana ini tidak hendak mengesplorasi secara mendetail mengenai motif si pelaku. Meskipun demikian, atas nama motif apapun, termasuk agama sekalipun, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak dapat dibenarkan!

Mobile_AP_Rectangle 2

Lumajang adalah Sebuah Mozaik

Membaca Lumajang atau lebih luas Indonesia, meminjam Clifford Geertz merupakan new state of old societes, negara baru yang terbentuk dari komunitas-komunitas lama, berupa kerajaan, komunitas budaya, kelompok suku, agama, dan lainnya. Atas dasar kenyataan inilah, Indonesia disebut sebagai bangsa yang majemuk (plural). Di satu sisi, kemajemukan merupakan sebuah modal sosial yang luar biasa berharga bagi sebuah bangsa, namun kondisi ini juga berpotensi dan membuka peluang bagi sikap saling berseteru dan mendominasi, di sisi berseberangan. Atau dalam istilah lain, kemajemukan adalah kondisi tempat terjadinya masalah, bukan penyelesaian masalah. 

Sedikit menengok ke belakang, kemajemukan inilah yang kemudian menjadi kondisi yang kondusif bagi kolonialisme untuk melancarkan politik adu domba (divide et impera). Belanda merangkul komunitas etnis atau agama tertentu sebagai sekutunya dan komunitas atau kelompok etnis lain dihadapi sebagai musuh. Dampaknya, batas-batas dan sekat antaretnis dan kelompok yang dibangun Belanda itu pada akhirnya diwariskan dan cenderung membentuk semacam sikap mental yang tetap bertahan sampai masa setelah kemerdekaan, bahkan hingga sekarang. 

Menjejak pada realitas itu, perjuangan melawan kolonialisme Belanda untuk merebut kemerdekaan terasa hanya berhasil menyingkirkan sikap impera, sementara mental divide tetap membekas dan dipegang teguh oleh sebagian masyarakat kita. Kondisi sedemikian, dengan sangat mudah kita temukan dalam semua lingkup keseharian. Sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan, kemerdekaan kita hanya sebatas merdeka sebagai new state, tanpa melepaskan sekatan-sekatan old societes.

- Advertisement -

Relawan atas nama lembaga apapun yang datang ke Lumajang, tapi memiliki agenda selain kemanusiaan, silakan keluar dari Lumajang”, demikian kalimat penutup yang disampaikan oleh bupati Lumajang, Thoriqul Haq saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi swasta (11/1/2022). Ungkapan penuh ketegasan sekaligus mengekspresikan kekecewaan yang luar biasa tersebut merespon sikap dan tindakan seseorang yang melempar dan menendang sesajen di lokasi bencana letusan Semeru.  

Saya pastikan bahwa pelaku bukan warga Lumajang”, yakin bupati saat pertama kali mendapatkan informasi tentang hal itu. Dalam perkembangannya, sebagaimana identitas pelaku yang beredar, ia memang bukan warga Lumajang. Menurut hemat penulis, pernyataan Cak Thoriq, demikian ia biasa dipanggil, mewakili perasaan mayoritas, bukan hanya masyarakat Lumajang, tetapi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, di tengah suasana gegap gempita karena semua pihak berupaya bahu-membahu meringankan penderitaan masyarakat Lumajang korban letusan Semeru, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak mencerminkan (bahkan) jauh dari simpati, apalagi empati! 

Saat tulisan ini dibuat, si pelaku belum tertangkap hanya saja aparat kepolisian telah mengantongi identitasnya, dan kini sedang memburunya. Sehingga, motif yang melandasi sikap dan tindakannya, belum secara jelas diungkap, sekaligus dibaca secara mendalam. Oleh karena itu, tulisan sederhana ini tidak hendak mengesplorasi secara mendetail mengenai motif si pelaku. Meskipun demikian, atas nama motif apapun, termasuk agama sekalipun, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak dapat dibenarkan!

Lumajang adalah Sebuah Mozaik

Membaca Lumajang atau lebih luas Indonesia, meminjam Clifford Geertz merupakan new state of old societes, negara baru yang terbentuk dari komunitas-komunitas lama, berupa kerajaan, komunitas budaya, kelompok suku, agama, dan lainnya. Atas dasar kenyataan inilah, Indonesia disebut sebagai bangsa yang majemuk (plural). Di satu sisi, kemajemukan merupakan sebuah modal sosial yang luar biasa berharga bagi sebuah bangsa, namun kondisi ini juga berpotensi dan membuka peluang bagi sikap saling berseteru dan mendominasi, di sisi berseberangan. Atau dalam istilah lain, kemajemukan adalah kondisi tempat terjadinya masalah, bukan penyelesaian masalah. 

Sedikit menengok ke belakang, kemajemukan inilah yang kemudian menjadi kondisi yang kondusif bagi kolonialisme untuk melancarkan politik adu domba (divide et impera). Belanda merangkul komunitas etnis atau agama tertentu sebagai sekutunya dan komunitas atau kelompok etnis lain dihadapi sebagai musuh. Dampaknya, batas-batas dan sekat antaretnis dan kelompok yang dibangun Belanda itu pada akhirnya diwariskan dan cenderung membentuk semacam sikap mental yang tetap bertahan sampai masa setelah kemerdekaan, bahkan hingga sekarang. 

Menjejak pada realitas itu, perjuangan melawan kolonialisme Belanda untuk merebut kemerdekaan terasa hanya berhasil menyingkirkan sikap impera, sementara mental divide tetap membekas dan dipegang teguh oleh sebagian masyarakat kita. Kondisi sedemikian, dengan sangat mudah kita temukan dalam semua lingkup keseharian. Sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan, kemerdekaan kita hanya sebatas merdeka sebagai new state, tanpa melepaskan sekatan-sekatan old societes.

Relawan atas nama lembaga apapun yang datang ke Lumajang, tapi memiliki agenda selain kemanusiaan, silakan keluar dari Lumajang”, demikian kalimat penutup yang disampaikan oleh bupati Lumajang, Thoriqul Haq saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi swasta (11/1/2022). Ungkapan penuh ketegasan sekaligus mengekspresikan kekecewaan yang luar biasa tersebut merespon sikap dan tindakan seseorang yang melempar dan menendang sesajen di lokasi bencana letusan Semeru.  

Saya pastikan bahwa pelaku bukan warga Lumajang”, yakin bupati saat pertama kali mendapatkan informasi tentang hal itu. Dalam perkembangannya, sebagaimana identitas pelaku yang beredar, ia memang bukan warga Lumajang. Menurut hemat penulis, pernyataan Cak Thoriq, demikian ia biasa dipanggil, mewakili perasaan mayoritas, bukan hanya masyarakat Lumajang, tetapi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, di tengah suasana gegap gempita karena semua pihak berupaya bahu-membahu meringankan penderitaan masyarakat Lumajang korban letusan Semeru, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak mencerminkan (bahkan) jauh dari simpati, apalagi empati! 

Saat tulisan ini dibuat, si pelaku belum tertangkap hanya saja aparat kepolisian telah mengantongi identitasnya, dan kini sedang memburunya. Sehingga, motif yang melandasi sikap dan tindakannya, belum secara jelas diungkap, sekaligus dibaca secara mendalam. Oleh karena itu, tulisan sederhana ini tidak hendak mengesplorasi secara mendetail mengenai motif si pelaku. Meskipun demikian, atas nama motif apapun, termasuk agama sekalipun, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak dapat dibenarkan!

Lumajang adalah Sebuah Mozaik

Membaca Lumajang atau lebih luas Indonesia, meminjam Clifford Geertz merupakan new state of old societes, negara baru yang terbentuk dari komunitas-komunitas lama, berupa kerajaan, komunitas budaya, kelompok suku, agama, dan lainnya. Atas dasar kenyataan inilah, Indonesia disebut sebagai bangsa yang majemuk (plural). Di satu sisi, kemajemukan merupakan sebuah modal sosial yang luar biasa berharga bagi sebuah bangsa, namun kondisi ini juga berpotensi dan membuka peluang bagi sikap saling berseteru dan mendominasi, di sisi berseberangan. Atau dalam istilah lain, kemajemukan adalah kondisi tempat terjadinya masalah, bukan penyelesaian masalah. 

Sedikit menengok ke belakang, kemajemukan inilah yang kemudian menjadi kondisi yang kondusif bagi kolonialisme untuk melancarkan politik adu domba (divide et impera). Belanda merangkul komunitas etnis atau agama tertentu sebagai sekutunya dan komunitas atau kelompok etnis lain dihadapi sebagai musuh. Dampaknya, batas-batas dan sekat antaretnis dan kelompok yang dibangun Belanda itu pada akhirnya diwariskan dan cenderung membentuk semacam sikap mental yang tetap bertahan sampai masa setelah kemerdekaan, bahkan hingga sekarang. 

Menjejak pada realitas itu, perjuangan melawan kolonialisme Belanda untuk merebut kemerdekaan terasa hanya berhasil menyingkirkan sikap impera, sementara mental divide tetap membekas dan dipegang teguh oleh sebagian masyarakat kita. Kondisi sedemikian, dengan sangat mudah kita temukan dalam semua lingkup keseharian. Sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan, kemerdekaan kita hanya sebatas merdeka sebagai new state, tanpa melepaskan sekatan-sekatan old societes.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca