22.8 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Mengarifi Perbedaan

Oleh: Dr. Khoirul Faizin, M.Ag.

Mobile_AP_Rectangle 1

Relawan atas nama lembaga apapun yang datang ke Lumajang, tapi memiliki agenda selain kemanusiaan, silakan keluar dari Lumajang”, demikian kalimat penutup yang disampaikan oleh bupati Lumajang, Thoriqul Haq saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi swasta (11/1/2022). Ungkapan penuh ketegasan sekaligus mengekspresikan kekecewaan yang luar biasa tersebut merespon sikap dan tindakan seseorang yang melempar dan menendang sesajen di lokasi bencana letusan Semeru.  

Saya pastikan bahwa pelaku bukan warga Lumajang”, yakin bupati saat pertama kali mendapatkan informasi tentang hal itu. Dalam perkembangannya, sebagaimana identitas pelaku yang beredar, ia memang bukan warga Lumajang. Menurut hemat penulis, pernyataan Cak Thoriq, demikian ia biasa dipanggil, mewakili perasaan mayoritas, bukan hanya masyarakat Lumajang, tetapi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, di tengah suasana gegap gempita karena semua pihak berupaya bahu-membahu meringankan penderitaan masyarakat Lumajang korban letusan Semeru, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak mencerminkan (bahkan) jauh dari simpati, apalagi empati! 

Saat tulisan ini dibuat, si pelaku belum tertangkap hanya saja aparat kepolisian telah mengantongi identitasnya, dan kini sedang memburunya. Sehingga, motif yang melandasi sikap dan tindakannya, belum secara jelas diungkap, sekaligus dibaca secara mendalam. Oleh karena itu, tulisan sederhana ini tidak hendak mengesplorasi secara mendetail mengenai motif si pelaku. Meskipun demikian, atas nama motif apapun, termasuk agama sekalipun, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak dapat dibenarkan!

Mobile_AP_Rectangle 2

Lumajang adalah Sebuah Mozaik

Membaca Lumajang atau lebih luas Indonesia, meminjam Clifford Geertz merupakan new state of old societes, negara baru yang terbentuk dari komunitas-komunitas lama, berupa kerajaan, komunitas budaya, kelompok suku, agama, dan lainnya. Atas dasar kenyataan inilah, Indonesia disebut sebagai bangsa yang majemuk (plural). Di satu sisi, kemajemukan merupakan sebuah modal sosial yang luar biasa berharga bagi sebuah bangsa, namun kondisi ini juga berpotensi dan membuka peluang bagi sikap saling berseteru dan mendominasi, di sisi berseberangan. Atau dalam istilah lain, kemajemukan adalah kondisi tempat terjadinya masalah, bukan penyelesaian masalah. 

Sedikit menengok ke belakang, kemajemukan inilah yang kemudian menjadi kondisi yang kondusif bagi kolonialisme untuk melancarkan politik adu domba (divide et impera). Belanda merangkul komunitas etnis atau agama tertentu sebagai sekutunya dan komunitas atau kelompok etnis lain dihadapi sebagai musuh. Dampaknya, batas-batas dan sekat antaretnis dan kelompok yang dibangun Belanda itu pada akhirnya diwariskan dan cenderung membentuk semacam sikap mental yang tetap bertahan sampai masa setelah kemerdekaan, bahkan hingga sekarang. 

Menjejak pada realitas itu, perjuangan melawan kolonialisme Belanda untuk merebut kemerdekaan terasa hanya berhasil menyingkirkan sikap impera, sementara mental divide tetap membekas dan dipegang teguh oleh sebagian masyarakat kita. Kondisi sedemikian, dengan sangat mudah kita temukan dalam semua lingkup keseharian. Sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan, kemerdekaan kita hanya sebatas merdeka sebagai new state, tanpa melepaskan sekatan-sekatan old societes.

Terdapat dua model masyarakat yang populer, yakni “bowl of salad”, masyarakat plural hidup bersama, tetapi tetap mempertahankan sekat-sekat yang menunjukkan identitas budaya masing-masing, dan “melting pot”, budaya-budaya yang mengalami perjumpaan dalam sebuah masyarakat akan dilebur menjadi satu budaya baru. Diakui atau tidak, kedua model tersebut kurang cocok untuk memaknai Indonesia, khususnya Lumajang. Model pertama, lebih mencerminkan warisan kolonialisme, melestarikan dan menegasikan kelompok-kelompok demi kepentingan kolonial. Sedangkan konsep kedua, dalam konteks Lumajang, merupakan satu konsep dan program yang mustahil dilaksanakan. Hal ini disebabkan, budaya, bukan hanya soal sikap dan perilaku yang mudah dilebur, karena budaya mencakup nilai-nilai dan asumsi serta identitas yang mustahil untuk dilebur begitu saja.

Model yang paling tepat untuk menggambarkan Lumajang bukanlah melting pot, juga bukan bowl of salad. Meminjam Parsudi Suparlan, konsep yang paling tepat untuk memaknai Lumajang adalah mozaik. Sebagaimana dalam konstitusi kita disebutkan bahwa kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah. Penilaian ini sepenuhnya benar apabila membaca Lumajang, budaya-budaya di Lumajang tidak berdiri sendiri-sendiri (bowl of salad), juga tidak melebur menjadi satu (melting pot), tetapi bersama-sama membentuk satu mozaik indah yang bernama Lumajang.

Mozaik mengandaikan adanya penataan diri sehingga menghasilkan suatu perwujudan yang indah. Mozaik yang indah tidak mungkin dapat dibentuk tanpa ada keterpaduan yang integral. Membaca Lumajang yang hampir nir-konflik SARA merupakan wujud nyata dari bekerjanya keterpaduan yang integral itu. Hal ini bukan berarti konflik berlatar SARA tidak pernah terjadi di Lumajang, hanya saja keterpaduan integral yang diwujudkan secara bersama oleh semua elemen yang ada di Lumajang, membuat konflik berhasil direda dan diselesaikan. Pada titik inilah, kita dapat menemukan titik temu dari keyakinan bupati akan asal-usul si pelaku, sekaligus urgensi dari “pengusiran” bupati atas semua pihak yang mencoba mengotori dan (bahkan) menghancurkan mozaik itu.

Mencoba memahami sikap dan tindakan si pelaku itu, satu hal perlu dibaca ulang, apabila perbedaan etnis dan agama, juga anasir lainnya, pada dirinya sendiri bermasalah, pasti masyarakat kita tidak lagi hidup dalam masyarakat Gesellschaft (society), tetapi akan menarik diri ke dalam masyarakat Gemeinschaft (community). Dan apa yang dipraktikkan oleh masyarakat Lumajang secara kasat mata mencerminkan  pilihan Gesellschaft, bukan Gemeinschaft. Kenyataan ini mengajarkan kepada kita agar lebih arif dan bijaksana dalam melihat dan memaknai perbedaan, bukan justru menumbuh-suburkan skeptisisme dalam memandang perbedaan. Wallahua’lam

 

*Dr. Khoirul Faizin, M.Ag., Dosen Pascasarjana UIN KH. Achmad Siddiq Jember.

- Advertisement -

Relawan atas nama lembaga apapun yang datang ke Lumajang, tapi memiliki agenda selain kemanusiaan, silakan keluar dari Lumajang”, demikian kalimat penutup yang disampaikan oleh bupati Lumajang, Thoriqul Haq saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi swasta (11/1/2022). Ungkapan penuh ketegasan sekaligus mengekspresikan kekecewaan yang luar biasa tersebut merespon sikap dan tindakan seseorang yang melempar dan menendang sesajen di lokasi bencana letusan Semeru.  

Saya pastikan bahwa pelaku bukan warga Lumajang”, yakin bupati saat pertama kali mendapatkan informasi tentang hal itu. Dalam perkembangannya, sebagaimana identitas pelaku yang beredar, ia memang bukan warga Lumajang. Menurut hemat penulis, pernyataan Cak Thoriq, demikian ia biasa dipanggil, mewakili perasaan mayoritas, bukan hanya masyarakat Lumajang, tetapi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, di tengah suasana gegap gempita karena semua pihak berupaya bahu-membahu meringankan penderitaan masyarakat Lumajang korban letusan Semeru, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak mencerminkan (bahkan) jauh dari simpati, apalagi empati! 

Saat tulisan ini dibuat, si pelaku belum tertangkap hanya saja aparat kepolisian telah mengantongi identitasnya, dan kini sedang memburunya. Sehingga, motif yang melandasi sikap dan tindakannya, belum secara jelas diungkap, sekaligus dibaca secara mendalam. Oleh karena itu, tulisan sederhana ini tidak hendak mengesplorasi secara mendetail mengenai motif si pelaku. Meskipun demikian, atas nama motif apapun, termasuk agama sekalipun, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak dapat dibenarkan!

Lumajang adalah Sebuah Mozaik

Membaca Lumajang atau lebih luas Indonesia, meminjam Clifford Geertz merupakan new state of old societes, negara baru yang terbentuk dari komunitas-komunitas lama, berupa kerajaan, komunitas budaya, kelompok suku, agama, dan lainnya. Atas dasar kenyataan inilah, Indonesia disebut sebagai bangsa yang majemuk (plural). Di satu sisi, kemajemukan merupakan sebuah modal sosial yang luar biasa berharga bagi sebuah bangsa, namun kondisi ini juga berpotensi dan membuka peluang bagi sikap saling berseteru dan mendominasi, di sisi berseberangan. Atau dalam istilah lain, kemajemukan adalah kondisi tempat terjadinya masalah, bukan penyelesaian masalah. 

Sedikit menengok ke belakang, kemajemukan inilah yang kemudian menjadi kondisi yang kondusif bagi kolonialisme untuk melancarkan politik adu domba (divide et impera). Belanda merangkul komunitas etnis atau agama tertentu sebagai sekutunya dan komunitas atau kelompok etnis lain dihadapi sebagai musuh. Dampaknya, batas-batas dan sekat antaretnis dan kelompok yang dibangun Belanda itu pada akhirnya diwariskan dan cenderung membentuk semacam sikap mental yang tetap bertahan sampai masa setelah kemerdekaan, bahkan hingga sekarang. 

Menjejak pada realitas itu, perjuangan melawan kolonialisme Belanda untuk merebut kemerdekaan terasa hanya berhasil menyingkirkan sikap impera, sementara mental divide tetap membekas dan dipegang teguh oleh sebagian masyarakat kita. Kondisi sedemikian, dengan sangat mudah kita temukan dalam semua lingkup keseharian. Sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan, kemerdekaan kita hanya sebatas merdeka sebagai new state, tanpa melepaskan sekatan-sekatan old societes.

Terdapat dua model masyarakat yang populer, yakni “bowl of salad”, masyarakat plural hidup bersama, tetapi tetap mempertahankan sekat-sekat yang menunjukkan identitas budaya masing-masing, dan “melting pot”, budaya-budaya yang mengalami perjumpaan dalam sebuah masyarakat akan dilebur menjadi satu budaya baru. Diakui atau tidak, kedua model tersebut kurang cocok untuk memaknai Indonesia, khususnya Lumajang. Model pertama, lebih mencerminkan warisan kolonialisme, melestarikan dan menegasikan kelompok-kelompok demi kepentingan kolonial. Sedangkan konsep kedua, dalam konteks Lumajang, merupakan satu konsep dan program yang mustahil dilaksanakan. Hal ini disebabkan, budaya, bukan hanya soal sikap dan perilaku yang mudah dilebur, karena budaya mencakup nilai-nilai dan asumsi serta identitas yang mustahil untuk dilebur begitu saja.

Model yang paling tepat untuk menggambarkan Lumajang bukanlah melting pot, juga bukan bowl of salad. Meminjam Parsudi Suparlan, konsep yang paling tepat untuk memaknai Lumajang adalah mozaik. Sebagaimana dalam konstitusi kita disebutkan bahwa kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah. Penilaian ini sepenuhnya benar apabila membaca Lumajang, budaya-budaya di Lumajang tidak berdiri sendiri-sendiri (bowl of salad), juga tidak melebur menjadi satu (melting pot), tetapi bersama-sama membentuk satu mozaik indah yang bernama Lumajang.

Mozaik mengandaikan adanya penataan diri sehingga menghasilkan suatu perwujudan yang indah. Mozaik yang indah tidak mungkin dapat dibentuk tanpa ada keterpaduan yang integral. Membaca Lumajang yang hampir nir-konflik SARA merupakan wujud nyata dari bekerjanya keterpaduan yang integral itu. Hal ini bukan berarti konflik berlatar SARA tidak pernah terjadi di Lumajang, hanya saja keterpaduan integral yang diwujudkan secara bersama oleh semua elemen yang ada di Lumajang, membuat konflik berhasil direda dan diselesaikan. Pada titik inilah, kita dapat menemukan titik temu dari keyakinan bupati akan asal-usul si pelaku, sekaligus urgensi dari “pengusiran” bupati atas semua pihak yang mencoba mengotori dan (bahkan) menghancurkan mozaik itu.

Mencoba memahami sikap dan tindakan si pelaku itu, satu hal perlu dibaca ulang, apabila perbedaan etnis dan agama, juga anasir lainnya, pada dirinya sendiri bermasalah, pasti masyarakat kita tidak lagi hidup dalam masyarakat Gesellschaft (society), tetapi akan menarik diri ke dalam masyarakat Gemeinschaft (community). Dan apa yang dipraktikkan oleh masyarakat Lumajang secara kasat mata mencerminkan  pilihan Gesellschaft, bukan Gemeinschaft. Kenyataan ini mengajarkan kepada kita agar lebih arif dan bijaksana dalam melihat dan memaknai perbedaan, bukan justru menumbuh-suburkan skeptisisme dalam memandang perbedaan. Wallahua’lam

 

*Dr. Khoirul Faizin, M.Ag., Dosen Pascasarjana UIN KH. Achmad Siddiq Jember.

Relawan atas nama lembaga apapun yang datang ke Lumajang, tapi memiliki agenda selain kemanusiaan, silakan keluar dari Lumajang”, demikian kalimat penutup yang disampaikan oleh bupati Lumajang, Thoriqul Haq saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi swasta (11/1/2022). Ungkapan penuh ketegasan sekaligus mengekspresikan kekecewaan yang luar biasa tersebut merespon sikap dan tindakan seseorang yang melempar dan menendang sesajen di lokasi bencana letusan Semeru.  

Saya pastikan bahwa pelaku bukan warga Lumajang”, yakin bupati saat pertama kali mendapatkan informasi tentang hal itu. Dalam perkembangannya, sebagaimana identitas pelaku yang beredar, ia memang bukan warga Lumajang. Menurut hemat penulis, pernyataan Cak Thoriq, demikian ia biasa dipanggil, mewakili perasaan mayoritas, bukan hanya masyarakat Lumajang, tetapi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, di tengah suasana gegap gempita karena semua pihak berupaya bahu-membahu meringankan penderitaan masyarakat Lumajang korban letusan Semeru, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak mencerminkan (bahkan) jauh dari simpati, apalagi empati! 

Saat tulisan ini dibuat, si pelaku belum tertangkap hanya saja aparat kepolisian telah mengantongi identitasnya, dan kini sedang memburunya. Sehingga, motif yang melandasi sikap dan tindakannya, belum secara jelas diungkap, sekaligus dibaca secara mendalam. Oleh karena itu, tulisan sederhana ini tidak hendak mengesplorasi secara mendetail mengenai motif si pelaku. Meskipun demikian, atas nama motif apapun, termasuk agama sekalipun, sikap dan tindakan si pelaku sama sekali tidak dapat dibenarkan!

Lumajang adalah Sebuah Mozaik

Membaca Lumajang atau lebih luas Indonesia, meminjam Clifford Geertz merupakan new state of old societes, negara baru yang terbentuk dari komunitas-komunitas lama, berupa kerajaan, komunitas budaya, kelompok suku, agama, dan lainnya. Atas dasar kenyataan inilah, Indonesia disebut sebagai bangsa yang majemuk (plural). Di satu sisi, kemajemukan merupakan sebuah modal sosial yang luar biasa berharga bagi sebuah bangsa, namun kondisi ini juga berpotensi dan membuka peluang bagi sikap saling berseteru dan mendominasi, di sisi berseberangan. Atau dalam istilah lain, kemajemukan adalah kondisi tempat terjadinya masalah, bukan penyelesaian masalah. 

Sedikit menengok ke belakang, kemajemukan inilah yang kemudian menjadi kondisi yang kondusif bagi kolonialisme untuk melancarkan politik adu domba (divide et impera). Belanda merangkul komunitas etnis atau agama tertentu sebagai sekutunya dan komunitas atau kelompok etnis lain dihadapi sebagai musuh. Dampaknya, batas-batas dan sekat antaretnis dan kelompok yang dibangun Belanda itu pada akhirnya diwariskan dan cenderung membentuk semacam sikap mental yang tetap bertahan sampai masa setelah kemerdekaan, bahkan hingga sekarang. 

Menjejak pada realitas itu, perjuangan melawan kolonialisme Belanda untuk merebut kemerdekaan terasa hanya berhasil menyingkirkan sikap impera, sementara mental divide tetap membekas dan dipegang teguh oleh sebagian masyarakat kita. Kondisi sedemikian, dengan sangat mudah kita temukan dalam semua lingkup keseharian. Sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan, kemerdekaan kita hanya sebatas merdeka sebagai new state, tanpa melepaskan sekatan-sekatan old societes.

Terdapat dua model masyarakat yang populer, yakni “bowl of salad”, masyarakat plural hidup bersama, tetapi tetap mempertahankan sekat-sekat yang menunjukkan identitas budaya masing-masing, dan “melting pot”, budaya-budaya yang mengalami perjumpaan dalam sebuah masyarakat akan dilebur menjadi satu budaya baru. Diakui atau tidak, kedua model tersebut kurang cocok untuk memaknai Indonesia, khususnya Lumajang. Model pertama, lebih mencerminkan warisan kolonialisme, melestarikan dan menegasikan kelompok-kelompok demi kepentingan kolonial. Sedangkan konsep kedua, dalam konteks Lumajang, merupakan satu konsep dan program yang mustahil dilaksanakan. Hal ini disebabkan, budaya, bukan hanya soal sikap dan perilaku yang mudah dilebur, karena budaya mencakup nilai-nilai dan asumsi serta identitas yang mustahil untuk dilebur begitu saja.

Model yang paling tepat untuk menggambarkan Lumajang bukanlah melting pot, juga bukan bowl of salad. Meminjam Parsudi Suparlan, konsep yang paling tepat untuk memaknai Lumajang adalah mozaik. Sebagaimana dalam konstitusi kita disebutkan bahwa kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah. Penilaian ini sepenuhnya benar apabila membaca Lumajang, budaya-budaya di Lumajang tidak berdiri sendiri-sendiri (bowl of salad), juga tidak melebur menjadi satu (melting pot), tetapi bersama-sama membentuk satu mozaik indah yang bernama Lumajang.

Mozaik mengandaikan adanya penataan diri sehingga menghasilkan suatu perwujudan yang indah. Mozaik yang indah tidak mungkin dapat dibentuk tanpa ada keterpaduan yang integral. Membaca Lumajang yang hampir nir-konflik SARA merupakan wujud nyata dari bekerjanya keterpaduan yang integral itu. Hal ini bukan berarti konflik berlatar SARA tidak pernah terjadi di Lumajang, hanya saja keterpaduan integral yang diwujudkan secara bersama oleh semua elemen yang ada di Lumajang, membuat konflik berhasil direda dan diselesaikan. Pada titik inilah, kita dapat menemukan titik temu dari keyakinan bupati akan asal-usul si pelaku, sekaligus urgensi dari “pengusiran” bupati atas semua pihak yang mencoba mengotori dan (bahkan) menghancurkan mozaik itu.

Mencoba memahami sikap dan tindakan si pelaku itu, satu hal perlu dibaca ulang, apabila perbedaan etnis dan agama, juga anasir lainnya, pada dirinya sendiri bermasalah, pasti masyarakat kita tidak lagi hidup dalam masyarakat Gesellschaft (society), tetapi akan menarik diri ke dalam masyarakat Gemeinschaft (community). Dan apa yang dipraktikkan oleh masyarakat Lumajang secara kasat mata mencerminkan  pilihan Gesellschaft, bukan Gemeinschaft. Kenyataan ini mengajarkan kepada kita agar lebih arif dan bijaksana dalam melihat dan memaknai perbedaan, bukan justru menumbuh-suburkan skeptisisme dalam memandang perbedaan. Wallahua’lam

 

*Dr. Khoirul Faizin, M.Ag., Dosen Pascasarjana UIN KH. Achmad Siddiq Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/