
RADAR JEMBER - Rabu (27/5/2026), seluruh umat Islam akan merayakan Hari Raya Iduladha, atau Hari Raya Haji. Saya ingin me-refresh ingatan soal haji itu sendiri. Siapa tahu lebih mudeng lagi. Tulisan ini agak panjang, lebih asyik membacanya sambil seruput Koptagul, wak!
Haji itu ibadah yang membuat manusia rela menjual sawah, motor, emas, bahkan kadang kambing satu kampung demi satu kalimat sederhana, Labbaik Allahumma Labbaik. Panggilan suci. Panggilan yang membuat jutaan orang rela antre 20 sampai 30 tahun hanya untuk berdiri sebentar di Padang Arafah, menangis sambil mengenakan dua lembar kain putih. Ironisnya, di negeri yang kalau mau bikin konser dangdut izin bisa keluar cepat, urusan berangkat ke Tanah Suci malah kadang lebih rumit dari ngurus cinta restu calon mertua.
Padahal haji bukan barang baru. Ini bukan program kementerian. Bukan proyek lima tahunan. Bukan pula agenda pencitraan menjelang pemilu sambil pakai peci putih dan sorot kamera HD. Haji sudah dimulai sejak Nabi Ibrahim AS meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus Makkah. Di tempat yang kalau dijual developer sekarang mungkin tidak laku karena tidak ada waterpark, tidak ada kafe estetik, bahkan rumput saja ogah tumbuh. Tapi dari tempat gersang itu lahir Zamzam, lahir Ka’bah, lahir ritual yang kelak mengumpulkan manusia dari seluruh planet.
Hajar berlari tujuh kali antara Shafa dan Marwa demi mencari air. Hari ini, jutaan jamaah mengulanginya. Bedanya, Hajar dulu berlari karena anaknya haus. Sekarang sebagian orang lari karena takut tertinggal rombongan dan kehilangan sandal hotel bintang lima.
Lalu datang masa jahiliah. Kaum Quraisy mengubah Ka’bah jadi semacam pusat hiburan spiritual bercampur syirik. Berhala dijejerkan di sekitar Ka’bah. Orang thawaf telanjang. Kalau sekarang mungkin mirip orang yang suka bicara moral di televisi, tapi rekening bansosnya lebih aktif dari ambulans puskesmas.
Baca Juga: Mengungkap Rahasia Sukses Persib Bandung Meraih Hat-trick Juara
Ketika Nabi Muhammad SAW datang, beliau membersihkan semuanya. Tahun 9 Hijriah, Abu Bakar Ash-Shiddiq diutus menjadi amirul hajj. Di tengah perjalanan turun Surat At-Taubah. Ali bin Abi Thalib menyusul membawa pengumuman besar. Setelah itu orang musyrik tidak boleh lagi berhaji dan thawaf telanjang dilarang. Itu bukan cuma keputusan agama, tapi deklarasi politik dan peradaban. Haji berubah menjadi simbol tauhid yang bersih dari praktik jahiliah.
Lalu tibalah Haji Wada’ tahun 10 Hijriah. Rasulullah SAW memimpin lebih dari 100 ribu jamaah. Ente bayangkan, di zaman tanpa drone, tanpa pengeras suara digital, tanpa grup WA “Kloter Arafah Bersatu”, manusia sebanyak itu mengikuti setiap gerakan Nabi. Di Arafah, beliau menyampaikan khutbah monumental tentang persamaan manusia, penghapusan riba, hak perempuan, dan pentingnya berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah. Pesan yang sampai hari ini masih sering kalah viral dibanding video pejabat joget TikTok.
Setelah Rasulullah wafat, para Khulafaur Rasyidin melanjutkan tradisi haji. Tidak banyak perubahan ritual. Yang berubah justru wilayah Islam makin luas. Dari sini haji mulai menjadi pertemuan internasional umat Islam. Kalender Hijriah ditetapkan pada masa Umar bin Khattab untuk memastikan sistem waktu ibadah tetap teratur. Kalau hari ini kita tahu kapan Dzulhijjah tiba, itu karena ada manajemen sejak 14 abad lalu. Bukan karena notifikasi marketplace.
Masuk era Dinasti Umayyah, haji mulai bersentuhan dengan kemewahan kekuasaan. Infrastruktur dibangun. Jalan diperbaiki. Sumur digali. Pos keamanan dibuat. Jamaah dari Spanyol sampai India mulai berdatangan. Tapi di sisi lain, para elite mulai membawa iring-iringan mewah ketika berhaji. Haji mulai disentuh aroma gengsi. Sejak dulu rupanya sudah ada manusia yang ke Makkah lebih sibuk memamerkan rombongan dari memperbaiki hati.
Di era Abbasiyah, haji mencapai masa keemasan. Makkah bukan cuma pusat ibadah, tapi pusat ilmu pengetahuan dunia Islam. Ulama dari Andalusia, Persia, Afrika Utara, India, hingga Nusantara berkumpul. Mereka berdagang, berdiskusi, bertukar kitab, menyebarkan ilmu fiqih, tasawuf, astronomi, hingga filsafat. Haji menjadi internet terbesar dunia Islam sebelum Elon Musk lahir ribuan tahun kemudian.




