
RADAR JEMBER - Biasanya orang berebut ingin jadi kepala sekolah (kepsek). Kadang rela main belakang demi status prestisius itu. Nyatanya tidak demikian di Muaro Jambi. Sudah dilantik jadi Kepsek, dua hari kemudian malah minta mundur. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Tanggal 18 Mei 2026, Wakil Bupati Junaidi Mahir resmi melantik 183 kepala sekolah baru dari TK sampai SMP. Suasananya megah. Aula penuh senyum birokrasi. Kamera berkilat lebih ramai dari pesta nikahan anak juragan sawit. Semua tampak sakral. Seolah pendidikan Muaro Jambi siap terbang tinggi seperti burung bangau di atas Sungai Batanghari.
Pidato pun meluncur gagah:
“Majukan pendidikan!”
“Tingkatkan mutu sekolah!”
“Lahirkan generasi emas!”
Tepuk tangan pecah. Foto selfie berseliweran. Status grup WA sekolah penuh ucapan selamat. Lalu… dua hari kemudian dunia pendidikan jungkir balik seperti ketek nabrak batang kayu di sungai.
Sebanyak 18 langsung mengajukan mundur.
Dua hari, wak!
Belum sempat hafal nama penjaga sekolah. Belum sempat marah ke murid yang terlambat. Belum sempat beli spidol baru. Tapi sudah menyerah. SK yang tadinya terasa sakral mendadak nilainya seperti kupon parkir minimarket, dipakai bentar, lalu dibuang.
Awak bayangkan perasaan pejabat yang menandatangani SK itu. Tangan sudah keram tanda tangan 183 nama. Pidato sudah dibuat penuh motivasi ala pelatih Timnas sebelum final AFF. Eh ternyata sebagian penerimanya malah kabur lebih cepat dari anggota DPR saat ditanya janji kampanye.
Yang paling bikin rakyat antara ngakak dan pengen guling-guling di pelataran Candi Muaro Jambi adalah alasannya. Bukan karena ada korupsi. Bukan karena ancaman mafia pendidikan. Bukan pula karena sekolahnya diganggu kuntilanak perpustakaan.

