Menilik ke belakang, Pantai Payangan di sekitar Bukit Seruni, bukan hanya sekali atau dua kali terjadi insiden orang tenggelam. Hampir setiap musim libur panjang, pantai ini selalu memakan korban. Peristiwa terbesar terjadi pada medio Februari 2022 lalu. Kala itu, sebanyak 11 orang hilang terseret ombak ketika melakukan ritual mandi di pantai. Semua korban ditemukan meninggal.
BACA JUGA: Ibu Korban Hilang di Pantai Payangan Jember Sempat Punya Firasat Buruk
Kini, Muspika Ambulu kembali turun ke lapangan. Mereka mengimbau agar wisatawan tidak mandi di pantai. Sebab, aktivitas itu sangat membahayakan. Imbauan itu disampaikan Kapolsek Ambulu AKP Ma’ruf bersama Camat Ambulu Gatot Suharyono, menggunakan pelantang suara. “Ayo ibu-ibu dan bapak-bapak! Tolong mandinya jangan terlalu ke tengah. Sayangi putra-putrinya,” ucap Ma’ruf.
Namun, imbauan itu tidak mendapat respons sama sekali. Pengunjung tetap asyik bermain air di pantai. Bahkan, ada seorang lelaki membawa bocah lima tahun mandi di laut. Sebagian juga melakukan swafoto. Padahal, ombak besar sewaktu-waktu bisa menerjang.
“Laut itu bukan untuk mandi. Kalau mandi silakan datang ke tempat pemandian. Di pantai ini ombaknya sangat berbahaya, karena sewaktu-waktu bisa datang tiba-tiba,” tuturnya.
Di tiap musim libur panjang, termasuk cuti bersama Lebaran, Pantai Payangan memang selalu dipadati wisatawan. Pengunjung lebih memilih pantai ini karena tidak dipungut tiket masuk. Mereka cukup membayar biaya parkir kendaraan. Untuk roda dua dikenai Rp 5.000.
“Saya datang bersama keluarga. Ada sembilan orang. Kami hanya membayar biaya parkir motor saja sebesar Rp 15 ribu. Tiket masuknya tidak bayar alias gratis,” kata Yoyon, warga asal Pakusari, Jember. (*)
Reporter: Jumai
Editor : Mahrus Sholih Editor : Radar Digital