Penggunaan dasarnya sama seperti pada sepeda umumnya, namun memiliki perbedaan mendasar pada bagian gear. "Bedanya, gear sepeda ini mati," kata Alfan Wirawan, pehobi sepeda yang tinggal di Jember.
Pada bagian gear yang paten, pesepeda bisa berjalan dengan mengayuh ke depan dan berjalan mundur bila mengayuh ke belakang. "Bedanya fixed gear dengan sepeda fixie di situ. Kalau sepeda fixie hampir sama dengan sepeda terpedo. Kalau berhenti, ngeremnya tinggal memundurkan pedal. Tetapi, fixed gear tidak bisa, justru akan jatuh," ucapnya.
Keberadaan sepeda ini sebenarnya telah ada sekitar tahun 2012. Di Jember sendiri terdapat perkumpulan yang didirikan pada 17 Mei 2015, bernama Komunitas Gear Mati (GMT) Jember. "Pendirinya Imam Sahroni, saya juga, dan ada lima orang. Sekarang ada banyak yang ikut. Kalau yang aktif sekitar 30 orang," papar Alfan.
Mereka yang naik fixedgear, kata Alfan, bisa dibilang profesional. Sebab, sepeda tak memiliki rem di tangan, maupun rem seperti fixie dan terpedo. Lantas, bagaimana mereka mengerem? "Pakai kekuatan kaki, namanya skidding. Ada teknik melakukan skidding. Itu cara mengeremnya," papar Alfan, yang sudah mengikuti berbagai lomba sepeda fixedgearbahkan hingga ke Malaysia.
Saat melaju di jalan yang datar, kecepatan fixed gear tak perlu diragukan. Nah, saat melaju cepat itulah butuh teknik bagaimana mereka mengerem jika ada hal yang mengharuskan berhenti. "Tetap pakai kekuatan kaki dengan teknik skidding itu," ucapnya.
Bagi para pencinta fixedgear, hal itu menjadi tantangan yang mengasyikkan. Namun, tidak disarankan bagi pemula yang baru belajar sepeda ini. Lebih berbahaya dan tantangannya nyata karena tanpa rem.
"Kalau sudah emergency, biasanya pakai cara lama. Seperti mengerem ban belakang pakai kaki. Tentu sandal atau sepatu biasa bisa rusak. Teman-teman sering ke Rembangan, turun sambil dinaiki. Tetapi untuk pemula jangan," ulasnya.
Jurnalis: Nur Hariri
Fotografer: Dwi Siswanto
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Maulana Ijal