BACA JUGA : Imbang dengan Uzbekistan, Indonesia Tak Lolos Perempat Final Piala Asia
Film berdurasi 41 menit itu menceritakan proses kejadian hingga penanganan bencana APG Gunung Semeru. Film yang memadukan kumpulan dokumentasi itu diambil dari arsip dokumentasi milik Pemkab Lumajang, para wartawan media massa, hingga potongan-potongan video milik relawan dan warga.
Bupati Lumajang Thoriqul Haq mengatakan, film ini bisa menjadi rujukan atau referensi penanganan bencana. Menurut Cak Thoriq, sapaan akrabnya, referensi penanganan di sejumlah bencana sulit untuk ditemukan. Oleh karena itu, Pemkab Lumajang berupaya menghadirkan dokumentasi saat kejadian bencana hingga penanganannya dalam sebuah film.
“Menemukan referensi (penanganan bencana, Red) secara komprehensif cukup sulit. Oleh karena itu, melalui film dokumenter ini harapannya bisa menjadi referensi banyak pihak. Ini bisa menjadi evaluasi dan kenangan dalam penanganan bencana,” katanya.
Cak Thoriq menyampaikan, selain ditayangkan langsung di bioskop, film ini juga ditayangkan di media sosial. Pihaknya bakal menyebarkan ke seluruh instansi dan kelembagaan. Baik nasional maupun internasional sebagai dokumen kejadian dan penanganan bencana.
“Film dokumenter ini tidak untuk kepentingan komersil. Namun, sebagai dokumentasi. Tujuannya memang sebagai pembelajaran dan referensi,” tegasnya.
Sementara itu Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati menambahkan, film ini menjadi bagian dari respons cepat seluruh pihak terhadap penanganan bencana. Sebab, diyakini penanganan APG Desember 2021 lebih cepat dibanding penanganan bencana di daerah lain.
“Soal bencana hampir sama dengan bencana di wilayah lain. Yang berbeda pada kecepatan penanganan pascabencana. Banyak daerah bahkan sampai ada guru besar datang untuk mempelajari percepatan penanganan di Lumajang,” pungkasnya. (kin/fid) Editor : Safitri