Sepintas bentuknya mirip gong, salah satu jenis alat musik tradisional. Sebab, di salah satu sisinya terdapat benjolan berbentuk bulat melingkar. Batu ini diletakkan di sebuah bangunan mini dan tanpa pembatas. Sehingga pengunjung dapat dengan mudah melihat bahkan menyentuhnya.
Menurut informasi yang beredar di masyarakat, batu gong itu awalnya berada di atas bukit atau gumuk di Jatian Perhutani, Rambipuji. Pada sekitar 1966, organisasi massa dari KAMMI/KAPPI Jember beramai-ramai melengserkan prasasti dari atas bukit ke bawah bukit. Namun demikian, siapa yang membuat dan meletakkan batu itu masih menjadi pertanyaan besar.
Selain itu, terdapat ukiran lima huruf Pallawa. Menurut Zainollah Ahmad, sejarawan sekaligus Ketua Forum Bhattara Saptaprabhu, ukiran huruf Pallawa pada batu itu berbunyi Parvvateswara, yang artinya dewa gunung atau raja gunung dan merupakan simbol Ciwa. "Prasasti itu diperkirakan dari zaman yang sama dengan era Kanjuruhan di Malang atau Mataram Lama, atau Medang Bhumi Mataram di Pegunungan Dieng, pada sekitar 650-750 Masehi," jelasnya.
Keterangan itu, lanjut dia, juga didukung dengan kondisi Jember yang pada masa klasik awal menjadi daerah watak atau watek, atau daerah yang luas membawahi berpuluh-puluh wanua atau sima (desa). "Watak pengertiannya kini hampir sama dengan kabupaten, yang dulunya dikenal dan digunakan pemerintah Kerajaan Medang Bhumi Mataram," tambahnya.
Jurnalis: Maulana
Fotografer: Maulana
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Maulana Ijal