alexametrics
28.7 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

MUI Nyatakan Vaksin Astrazeneca Halal

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kabar munculnya vaksin Astrazeneca sebagai pengganti keberadaan vaksin Sinovac yang mulai habis stoknya mendapat perhatian dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Karena sempat ada kabar yang mempertanyakan mengenai aman dan halalnya vaksin anyar itu. Guna menyetop opini liar itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memastikan vaksin Astrazeneca aman digunakan demi mencegah wabah korona.

“MUI pusat sudah membolehkan. Vaksin Astrazeneca ini boleh digunakan masyarakat. Tidak perlu takut atau khawatir,” kata KH Abdul Haris, Ketua MUI Jember.

Menurutnya, berdasarkan ilmu Fiqih, vaksin bisa digunakan mengingat pandemi korona sebagai kondisi yang darurat. “Kalau ada yang lebih suci, maka wajib menggunakan yang suci dahulu. Tetapi, kondisinya sekarang susah,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Haris menguraikan, dalam dunia pengobatan, memang diutamakan yang halal. Akan tetapi, jika tidak ada, maka yang haram pun harus digunakan dalam keadaan darurat. “Apalagi, sudah ada kajian dan boleh oleh BPOM,” ucapnya.

Untuk itulah, dia mengimbau, masyarakat Jember tidak perlu canggung lagi untuk mengikuti program vaksinasi yang dicanangkan pemerintah. “Para tokoh ulama dan kiai juga ikut vaksinasi,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua MUI Jawa Timur (Jatim) KH Abdul Halim Soebahar menjelaskan, sebelum diluncurkan, vaksin baru itu sudah melalui tahapan kajian dari MUI. Kajian tersebut, kata dia, dilakukan berdasar pada teks keagamaan yang mengulas aspek kesehatan. Selain itu, juga ada kajian konteks, yang mengarah pada aspek Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan (LPOM). “Kami sudah melakukan audit ke tempat di mana vaksin anyar itu diproses. Mulai dari bahan, proses, sampai ke produknya,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kabar munculnya vaksin Astrazeneca sebagai pengganti keberadaan vaksin Sinovac yang mulai habis stoknya mendapat perhatian dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Karena sempat ada kabar yang mempertanyakan mengenai aman dan halalnya vaksin anyar itu. Guna menyetop opini liar itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memastikan vaksin Astrazeneca aman digunakan demi mencegah wabah korona.

“MUI pusat sudah membolehkan. Vaksin Astrazeneca ini boleh digunakan masyarakat. Tidak perlu takut atau khawatir,” kata KH Abdul Haris, Ketua MUI Jember.

Menurutnya, berdasarkan ilmu Fiqih, vaksin bisa digunakan mengingat pandemi korona sebagai kondisi yang darurat. “Kalau ada yang lebih suci, maka wajib menggunakan yang suci dahulu. Tetapi, kondisinya sekarang susah,” paparnya.

Haris menguraikan, dalam dunia pengobatan, memang diutamakan yang halal. Akan tetapi, jika tidak ada, maka yang haram pun harus digunakan dalam keadaan darurat. “Apalagi, sudah ada kajian dan boleh oleh BPOM,” ucapnya.

Untuk itulah, dia mengimbau, masyarakat Jember tidak perlu canggung lagi untuk mengikuti program vaksinasi yang dicanangkan pemerintah. “Para tokoh ulama dan kiai juga ikut vaksinasi,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua MUI Jawa Timur (Jatim) KH Abdul Halim Soebahar menjelaskan, sebelum diluncurkan, vaksin baru itu sudah melalui tahapan kajian dari MUI. Kajian tersebut, kata dia, dilakukan berdasar pada teks keagamaan yang mengulas aspek kesehatan. Selain itu, juga ada kajian konteks, yang mengarah pada aspek Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan (LPOM). “Kami sudah melakukan audit ke tempat di mana vaksin anyar itu diproses. Mulai dari bahan, proses, sampai ke produknya,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kabar munculnya vaksin Astrazeneca sebagai pengganti keberadaan vaksin Sinovac yang mulai habis stoknya mendapat perhatian dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Karena sempat ada kabar yang mempertanyakan mengenai aman dan halalnya vaksin anyar itu. Guna menyetop opini liar itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memastikan vaksin Astrazeneca aman digunakan demi mencegah wabah korona.

“MUI pusat sudah membolehkan. Vaksin Astrazeneca ini boleh digunakan masyarakat. Tidak perlu takut atau khawatir,” kata KH Abdul Haris, Ketua MUI Jember.

Menurutnya, berdasarkan ilmu Fiqih, vaksin bisa digunakan mengingat pandemi korona sebagai kondisi yang darurat. “Kalau ada yang lebih suci, maka wajib menggunakan yang suci dahulu. Tetapi, kondisinya sekarang susah,” paparnya.

Haris menguraikan, dalam dunia pengobatan, memang diutamakan yang halal. Akan tetapi, jika tidak ada, maka yang haram pun harus digunakan dalam keadaan darurat. “Apalagi, sudah ada kajian dan boleh oleh BPOM,” ucapnya.

Untuk itulah, dia mengimbau, masyarakat Jember tidak perlu canggung lagi untuk mengikuti program vaksinasi yang dicanangkan pemerintah. “Para tokoh ulama dan kiai juga ikut vaksinasi,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua MUI Jawa Timur (Jatim) KH Abdul Halim Soebahar menjelaskan, sebelum diluncurkan, vaksin baru itu sudah melalui tahapan kajian dari MUI. Kajian tersebut, kata dia, dilakukan berdasar pada teks keagamaan yang mengulas aspek kesehatan. Selain itu, juga ada kajian konteks, yang mengarah pada aspek Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan (LPOM). “Kami sudah melakukan audit ke tempat di mana vaksin anyar itu diproses. Mulai dari bahan, proses, sampai ke produknya,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/