JEMBER, RADARJEMBER.ID - Pengabdian kepada kabupaten tercinta bisa dilakukan dalam bentuk apa saja. Bukan hanya menorehkan prestasi atau menciptakan suatu inovasi saja. Dedikasi lain yang bisa dilakukan misalnya menjadi staf keprotokolan di Lingkungan Pemkab Jember. Persis seperti yang dilakukan oleh Desy Andriani.
Lebih dari dua tahun Eci, sapaan akrab Desy Andriani, sudah berkecimpung dalam tugas tersebut. Mata awam memandang, tugas keprotokolan seperti event organizer. Menjadi MC, lalu dirigen lagu-lagu saat kegiatan seremonial yang dilakukan bupati atau pejabat lain. Lebih-lebih bagi staf keprotokolan perempuan. Padahal, ada seabrek tugas di balik layar yang tak banyak diketahui publik. Dua tugas di depan mata itu merupakan bagian kecil saja yang mesti bisa dilakukan.
Ecy menyampaikan, menjadi staf keprotokolan harus multitalenta alias bisa mengerjakan apa saja. Tugas administratif sekalipun. “Mulai dari bikin undangan forkopimda, share undangan, koordinasi, buat SOP, kirim dokumentasi giat, buat laporan, petugas tempat dan tata acara, pokoknya masih banyak lagi,” sebut perempuan berparas ayu itu.
Tidak ada tugas utama, begitu katanya. Menjadi anggota keprotokolan diharuskan bisa menguasai semua tugas yang tersemat di dalamnya. Persoalan jam kerja pun tidak mengikat kaku. Secara formal, jam kerjanya memang tetap delapan jam, dari pukul 08.00 sampai 16.00. Tetapi, jika ada giat bupati atau pejabat lainnya yang memerlukan protokol, di malam hari tetap turun. “Kalau ada giat malam tetap back up,” ujar perempuan asal Rambipuji itu.
Pekerjaan seakan tak ada habisnya. Selalu ada bahkan tak jarang Eci harus pulang tengah malam ke rumahnya di Rambipuji. Lagi-lagi, dia menganggap semua pekerjaan akan terasa berat apabila dipikirkan berat. “Harus dipikir rileks dan happy,” ucapnya sembari tersenyum.
Alumnus Magister Manajemen Universitas Jember itu mengungkapkan, banyak pengalaman luar biasa yang sudah didapatkan sejak menjadi staf keprotokolan. Selain pekerjaan yang menuntut sat-set dan cekatan, Eci merasa passion yang dimilikinya ada di sana. Karena itu, betapa pun berat dan banyaknya pekerjaan tak membuatnya jenuh apalagi mengeluh setiap waktu.
Sebaliknya, dia lebih menyikapi bahwa itulah bentuk kecintaannya kepada Kota Suwar Suwir. Nilai manfaat dirinya yang bisa ditebarkan dan secara tidak langsung bisa berguna dalam kelancaran penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. “Wujud pengabdian kepada kota tercinta,” ungkap perempuan yang dikenal periang itu.
Meski pulang tak tentu waktu, bahkan hari-hari besar pun jarang berkumpul dengan keluarga, tak membuatnya ditentang. Dia mengaku sangat didukung keluarga besar selama menjalankan tugas. Soal bagaimana pembagian waktu antara jam kerja, urusan pribadi, dan keluarga, dia menerapkan cara manajemen waktu. “Jadi, memang harus pintar-pintar mengatur waktu sendiri,” pungkasnya. (sil/c2/nur)
Editor : Safitri