Bendungan yang memiliki dua pintu air tersebut berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mayang. Sungai dari arah Silo, Garahan, Mayang, menuju ke Bendung Talang dan bermuara di Ambulu. "Muaranya ini di Ambulu," kata Anang Budiono, Petugas Operasional Bendung (POB) Talang.
Melihat lebih dekat lagi, ada bagian sudut yang bertuliskan ejaan Belanda. Dan tertera angka 1920. Anang juga menunjukkan di bawah pilar bendung terdapat satu informasi bertuliskan ejaan Belanda, yaitu mengenai kapan Bendung Talang itu dibangun. "Itu ada tulisannya tahun berapa dibuat," terangnya.
Pria 49 tahun itu mengatakan, di Jember ada dua macam bendung. Pertama bendung tetap dan bendung bergerak. Perbedaan antara bendung gerak dan tetap hanya terletak pada adanya pintu air atau tidak. "Kalau yang tetap, tidak ada pintu air. Saat debit air meningkat, air diempaskan begitu saja. Tapi, kalau bendung bergerak ada pintu airnya yang bisa dibuka dan ditutup seperti Bendung Talang," tuturnya.
Bendungan yang dibangun sebelum merdeka adalah sebuah investasi pengairan dari zaman kompeni dan masih bertahan sampai saat ini. Bahkan, untuk kekuatannya dipercaya masih kokoh.
Menurut Kaderi, mantan petugas Bendung Talang, sejak ia kecil hingga sekarang hanya satu kali Bendung Talang ini airnya meluber. "Waktu banjir bandang Panti 2016 di sini juga banjir. Air meluber. Saya waktu itu mau ancang-ancang naik ke bendung karena yakin bendung itu kuat, karena bangunan kuno," imbuh lelaki 69 tahun tersebut.
Jurnalis: Dwi Siswanto
Fotografer: Dwi Siswanto
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal