alexametrics
30.3 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Bangunan Belanda di Desa Suci, Bukti Kekayaan Perkebunan di Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bekas bangunan lawas yang kini berada di Perkebunan Sentool Desa Suci itu memiliki riwayat cukup panjang. Baik sejak berdiri maupun hingga masa peralihan kekuasaan. Sejarawan dari Yayasan Boemi Poeger Persada, Yopi Setiyo Hadi, membeberkan, kebijakan politik negara kolonial Belanda sebagai upaya peningkatan kuantitas budi daya tanaman perkebunan di Jember, membuat praktik perkebunan saat itu berkembang pesat dengan sokongan dana besar. Seperti perkebunan kopi, karet, cokelat, tebu, dan tembakau.

Terlebih, posisi geografis Jember termasuk daerah yang cukup subur dengan dikelilingi pegunungan di sekitarnya, seperti Pegunungan Argopuro, Ijen, Hyang, dan Raung. “Di beberapa literatur, Perkebunan Sentool ada tiga fase. Dari awal, kemudian peralihan, sampai kini dikelola Kodam Brawijaya Malang,” jelas Yopi.

Yopi menjelaskan, pengelola awal dari perkebunan dan pabrik karet Sentool dapat ditelusuri dari beberapa arsip dan pustaka tentang perkebunan di Jawa dan Indonesia. Yaitu Perusahaan Perkebunan NV Djember Rubber Cultuur en Ha Matschapij, atau dikenal Djember Rubber Estate Ltd, yang berkantor di Surabaya dan berpusat di London, Inggris.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Djember Rubber Estate ini didirikan pada bulan Februari 1910. Para direkturnya adalah HC Hafield, WO Burt, FAM Cramer, dan FA Roberts. Perusahaan ini berkantor di 30 Morgate Street, London, Inggris,” jelas Yopi.

Sementara, mengenai luasan areanya saat itu, Djember Rubber Estate meliputi Doerdjo 1-2-3, Djanti, Tjoerahnongko, dan Sentul 1-2-3. Terkhusus Perkebunan Sentool, meliputi tiga bagian (afdeling) yakni Sentool 1, Sentool 2, dan Sentool 3 yang pada masa permulaan didirikan perusahaan perkebunan tersebut. “Era-era saat itu, karet merupakan komoditas ekspor yang besar ke Eropa. Termasuk produk-produk karet yang berasal dari perkebunan dan pabrik karet Sentool,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bekas bangunan lawas yang kini berada di Perkebunan Sentool Desa Suci itu memiliki riwayat cukup panjang. Baik sejak berdiri maupun hingga masa peralihan kekuasaan. Sejarawan dari Yayasan Boemi Poeger Persada, Yopi Setiyo Hadi, membeberkan, kebijakan politik negara kolonial Belanda sebagai upaya peningkatan kuantitas budi daya tanaman perkebunan di Jember, membuat praktik perkebunan saat itu berkembang pesat dengan sokongan dana besar. Seperti perkebunan kopi, karet, cokelat, tebu, dan tembakau.

Terlebih, posisi geografis Jember termasuk daerah yang cukup subur dengan dikelilingi pegunungan di sekitarnya, seperti Pegunungan Argopuro, Ijen, Hyang, dan Raung. “Di beberapa literatur, Perkebunan Sentool ada tiga fase. Dari awal, kemudian peralihan, sampai kini dikelola Kodam Brawijaya Malang,” jelas Yopi.

Yopi menjelaskan, pengelola awal dari perkebunan dan pabrik karet Sentool dapat ditelusuri dari beberapa arsip dan pustaka tentang perkebunan di Jawa dan Indonesia. Yaitu Perusahaan Perkebunan NV Djember Rubber Cultuur en Ha Matschapij, atau dikenal Djember Rubber Estate Ltd, yang berkantor di Surabaya dan berpusat di London, Inggris.

“Djember Rubber Estate ini didirikan pada bulan Februari 1910. Para direkturnya adalah HC Hafield, WO Burt, FAM Cramer, dan FA Roberts. Perusahaan ini berkantor di 30 Morgate Street, London, Inggris,” jelas Yopi.

Sementara, mengenai luasan areanya saat itu, Djember Rubber Estate meliputi Doerdjo 1-2-3, Djanti, Tjoerahnongko, dan Sentul 1-2-3. Terkhusus Perkebunan Sentool, meliputi tiga bagian (afdeling) yakni Sentool 1, Sentool 2, dan Sentool 3 yang pada masa permulaan didirikan perusahaan perkebunan tersebut. “Era-era saat itu, karet merupakan komoditas ekspor yang besar ke Eropa. Termasuk produk-produk karet yang berasal dari perkebunan dan pabrik karet Sentool,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bekas bangunan lawas yang kini berada di Perkebunan Sentool Desa Suci itu memiliki riwayat cukup panjang. Baik sejak berdiri maupun hingga masa peralihan kekuasaan. Sejarawan dari Yayasan Boemi Poeger Persada, Yopi Setiyo Hadi, membeberkan, kebijakan politik negara kolonial Belanda sebagai upaya peningkatan kuantitas budi daya tanaman perkebunan di Jember, membuat praktik perkebunan saat itu berkembang pesat dengan sokongan dana besar. Seperti perkebunan kopi, karet, cokelat, tebu, dan tembakau.

Terlebih, posisi geografis Jember termasuk daerah yang cukup subur dengan dikelilingi pegunungan di sekitarnya, seperti Pegunungan Argopuro, Ijen, Hyang, dan Raung. “Di beberapa literatur, Perkebunan Sentool ada tiga fase. Dari awal, kemudian peralihan, sampai kini dikelola Kodam Brawijaya Malang,” jelas Yopi.

Yopi menjelaskan, pengelola awal dari perkebunan dan pabrik karet Sentool dapat ditelusuri dari beberapa arsip dan pustaka tentang perkebunan di Jawa dan Indonesia. Yaitu Perusahaan Perkebunan NV Djember Rubber Cultuur en Ha Matschapij, atau dikenal Djember Rubber Estate Ltd, yang berkantor di Surabaya dan berpusat di London, Inggris.

“Djember Rubber Estate ini didirikan pada bulan Februari 1910. Para direkturnya adalah HC Hafield, WO Burt, FAM Cramer, dan FA Roberts. Perusahaan ini berkantor di 30 Morgate Street, London, Inggris,” jelas Yopi.

Sementara, mengenai luasan areanya saat itu, Djember Rubber Estate meliputi Doerdjo 1-2-3, Djanti, Tjoerahnongko, dan Sentul 1-2-3. Terkhusus Perkebunan Sentool, meliputi tiga bagian (afdeling) yakni Sentool 1, Sentool 2, dan Sentool 3 yang pada masa permulaan didirikan perusahaan perkebunan tersebut. “Era-era saat itu, karet merupakan komoditas ekspor yang besar ke Eropa. Termasuk produk-produk karet yang berasal dari perkebunan dan pabrik karet Sentool,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/