Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Satu Judul, Banyak Eksemplar

Safitri • Kamis, 28 Januari 2021 - 17:40 WIB
CARI BUKU: Salah satu pengunjung Perpustakaan Daerah Jember memilih koleksi buku yang diperlukan untuk aktivitas kuliah.
CARI BUKU: Salah satu pengunjung Perpustakaan Daerah Jember memilih koleksi buku yang diperlukan untuk aktivitas kuliah.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Sejak 2019 hingga 2020 pengadaan buku menjadi permasalahan krusial di Perpustakaan Daerah Jember. Imbasnya, tidak ada pembaruan koleksi buku untuk perpusda. Problem ini menjadi fenomena wahid atas kelemahan perpustakaan untuk meningkatkan literasi masyarakat.

Pengadaan bahan pustaka baru sangat berguna untuk menyegarkan koleksi bahan pustaka yang ada, sekaligus untuk menggantikan bahan pustaka yang sudah kedaluwarsa. Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jember Udy Hartanto mengaku tak dapat menyebut secara terperinci jumlah pengadaan pada 2018. Sebab, saat itu dia belum ditunjuk sebagai Plt. “Kami sudah melakukan pengajuan, tapi tidak ada realisasi,” kata Udy singkat.

Terpisah, salah satu pegiat literasi yang memiliki rumah baca di Kecamatan Panti, Fransiska, mengungkapkan bahwa perpustakaan yang ideal merupakan perpustakaan yang mampu memiliki stok pembaruan literasi. Menurutnya, adanya gadget tidak otomatis berpengaruh pada minat literasi anak- anak.

“Perlu adanya peningkatan, karena pengadaan buku dari perpusda sangat diharapkan. Terutama untuk taman baca masyarakat atau perpustakaan desa yang harus selalu memperbarui sumber bacaan,” ungkap Fransiska.

Selain masalah anggaran pengadaan, dia juga mengungkapkan masalah yang sering muncul adalah penyusunan judul buku untuk perpustakaan yang lebih mengedepankan mentalitas proyek, dengan mengambil judul buku hanya dari satu penerbit yang memberikan komisi tertinggi. Atau, perpustakaan hanya pasrah seratus persen kepada toko atau distributor buku untuk pengadaan bahan pustaka. Di Perpusda Jember misalnya, masih banyak buku yang memiliki judul yang sama dalam banyak eksemplar.

Fransiska menambahkan, seyogianya saat ini perpusda telah memiliki program untuk bisa berkolaborasi dengan komunitas literasi guna mengoptimalkan kampanye literasi. Melalui kolaborasi tersebut, akan banyak kegiatan yang dapat dilangsungkan secara efektif yang bakal melibatkan anak-anak perdesaan.

Sehingga, lanjut dia, dari kolaborasi tersebut akan ada optimalisasi program literasi di desa-desa. Tentunya masih dalam pantauan Dinas Perpustakaan Daerah dan Kearsipan. “Saat ini kolaborasi itu sepertinya masih berjalan secara horizontal. Artinya, dari komunitas ke komunitas lain,” pungkas Fransiska. Editor : Safitri