Walau imut, tapi saat memasuki masa berahi, monyet ekor panjang perlu diantisipasi. Apalagi monyet bisa cemburu kepada manusia. Loh, apa primata yang satu ini bisa jatuh cinta ke manusia?
Kepala Bidang Wilayah III Jember Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim Setyo Utomo mengatakan, monyet ekor panjang memang bukan hewan yang dilindungi. Tidak seperti primata lainnya seperti bekantan, lutung jawa, ataupun orang utan. Namun, primata ekor panjang menjadi hewan yang kerap dipelihara oleh manusia. Bahkan tak sedikit yang dipekerjakan.
Dia menambahkan, dari 40 ekor monyet ekor panjang sitaan BKSDA yang telah dilepasliarkan di Pulau Nusa Barong pada Agustus kemarin, rata-rata merupakan monyet ekor panjang yang dijadikan topeng monyet. Tapi juga tidak sedikit masyarakat memelihara monyet ekor panjang untuk dirawat di rumah.
Setyo mengaku, monyet ekor panjang waktu kecil memang lucu. Tingkahnya yang menggemaskan tentu memikat hati anak kecil hingga orang dewasa sekalipun. “Tapi kalau kecil lucu. Saat dewasa tidak lucu lagi, bahkan bisa berbahaya,” jelasnya.
Primata dengan nama latin Macaca fascicularis ini, lanjut Setyo, akan berubah sikap saat dewasa atau telah merasakan berahi. Ciri monyet itu masuk usia dewasa dan berahi di antaranya secara fisik memiliki taring. Selain itu, juga menunjukkan sifat nakalnya.
Kondisi tersebut membuat pemiliknya mulai bosan dengan peliharaannya tersebut. Karena nakal dan membahayakan, oleh pemiliknya dilepaskan begitu saja. Padahal, langkah tersebut juga tak kalah membahayakan. Pada umumnya, monyet akan mengamuk dan mengganggu lahan pertanian hingga permukiman warga.
Monyet ekor panjang jantan lebih galak daripada monyet betina saat dewasa. Namun, berdasarkan pengalaman petugas yang mengevakuasi monyet ekor panjang, justru monyet betina juga menunjukan sifat ekspresif. Lantaran sebelumnya petugas mengobrol terlebih dahulu dengan pemiliknya. “Barangkali cemburu,” imbuhnya, sembari tertawa. Hal itu tidak hanya sekali dua kali. Tak heran jika petugas bisa menyimpulkan bahwa monyet bisa cemburu.
Namun, monyet bisa jatuh cinta terhadap manusia berlawanan jenis, menurut dokter hewan Aan Awaludin, hanya mitos belaka. Dosen Program Studi Produksi Ternak Politeknik Negeri Jember ini menerangkan, secara sederhana primata adalah hewan dengan karakteristik yang paling mendekati manusia. “Primata juga menjadi hewan yang punya rasa penasaran paling tinggi daripada hewan lainnya,” jelasnya.
Sejauh yang dia ketahui, monyet ekor panjang tidak akan mengalami jatuh cinta terhadap manusia. Tapi, adanya ikatan yang kuat dengan manusia yang memberi makan akan terjalin. “Monyet akan terus mengikuti manusia, karena manusia memberi makan. Seperti monyet di Bali, setiap ada manusia akan menghampiri. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena terbiasa diberi makan oleh manusia,” pungkasnya. #KITAJAGAFAUNA Editor : Safitri