alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Program Perpusdes Lumajang Terkendala Anggaran, SDM, dan Sarpras

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kabupaten Lumajang memiliki empat tempat perpustakaan umum daerah (perpusda). Satu perpus bertempat di pusat kota yang kini beralih sementara di Desa Karangsari, Sukodono. Sedangkan tiga lainnya berada di kecamatan. Yakni Kecamatan Klakah, Yosowilangun, dan Pasirian. Jumlah perpustakaan desa (perpusdes) sebanyak 64 unit. Perpus kelurahan sebanyak 2 dan pojok baca desa/kelurahan sebanyak 139 unit.

Meski demikian, tidak semua perpustakaan bisa bertahan lama. Ada yang hanya bertahan hitungan bulan hingga tahunan. Tetapi, ada juga perpusdes yang bertahan hingga sekarang. Namun, sejak masa pandemi, banyak program yang tidak bisa dilakukan perpusdes. Salah satunya Perpusdes Tunas Bangsa, Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh.

“Sejak pandemi, kami kesulitan melaksanakan program yang sudah ditetapkan. Misalnya saja kegiatan kewirausahaan kripik pelepah pisang. Sebelum pandemi, kami lakukan pelatihan dan praktik rutin hingga berjualan. Tetapi, karena pandemi, kami hanya membuat kripik saat ada pesanan saja,” kata Yuli Astuti, Ketua Perpudes Tunas Bangsa, Desa Pandanwangi, Tempeh.

Mobile_AP_Rectangle 2

Yuli menjelaskan, pandemi memaksa perpusdes yang pernah juara I perpusdes terbaik tingkat nasional itu bergerak lambat. Namun, tidak hanya itu, banyak faktor membuat perpusdes yang dikelolanya itu seperti antara hidup dan mati. Selain dibatasi pengunjungnya, perpusdes terkendala anggaran. Di awal jalan, perpusdes menerima dana anggaran pengelolaan dan pengembangan sebesar Rp 2,5 juta. Seiring waktu, bertambah hingga Rp 4 juta. Akan tetapi, dua tahun terakhir, pihaknya swadaya saat akan mengadakan kegiatan.

Namun, dia berharap, perpusdes tetap bertahan lama. Apa yang ada di perpus, lanjutnya, bisa membuat perpus semakin berkembang. “Terutama usaha. Sehingga masyarakat sekitar bisa mendapatkan penghasilan lebih dari kegiatan perpusdes, terkhusus ibu-ibu,” lanjutnya.

Tutik Endriyani, Pustakawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Lumajang, juga mengungkapkan kendala yang sama. Menurutnya, selain hal itu, sumber daya manusia (SDM) pengelola juga masih rendah. Apalagi, mereka juga tidak selalu dibayar. Praktis, hal tersebut membutuhkan kemauan besar menjadi pengelola.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kabupaten Lumajang memiliki empat tempat perpustakaan umum daerah (perpusda). Satu perpus bertempat di pusat kota yang kini beralih sementara di Desa Karangsari, Sukodono. Sedangkan tiga lainnya berada di kecamatan. Yakni Kecamatan Klakah, Yosowilangun, dan Pasirian. Jumlah perpustakaan desa (perpusdes) sebanyak 64 unit. Perpus kelurahan sebanyak 2 dan pojok baca desa/kelurahan sebanyak 139 unit.

Meski demikian, tidak semua perpustakaan bisa bertahan lama. Ada yang hanya bertahan hitungan bulan hingga tahunan. Tetapi, ada juga perpusdes yang bertahan hingga sekarang. Namun, sejak masa pandemi, banyak program yang tidak bisa dilakukan perpusdes. Salah satunya Perpusdes Tunas Bangsa, Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh.

“Sejak pandemi, kami kesulitan melaksanakan program yang sudah ditetapkan. Misalnya saja kegiatan kewirausahaan kripik pelepah pisang. Sebelum pandemi, kami lakukan pelatihan dan praktik rutin hingga berjualan. Tetapi, karena pandemi, kami hanya membuat kripik saat ada pesanan saja,” kata Yuli Astuti, Ketua Perpudes Tunas Bangsa, Desa Pandanwangi, Tempeh.

Yuli menjelaskan, pandemi memaksa perpusdes yang pernah juara I perpusdes terbaik tingkat nasional itu bergerak lambat. Namun, tidak hanya itu, banyak faktor membuat perpusdes yang dikelolanya itu seperti antara hidup dan mati. Selain dibatasi pengunjungnya, perpusdes terkendala anggaran. Di awal jalan, perpusdes menerima dana anggaran pengelolaan dan pengembangan sebesar Rp 2,5 juta. Seiring waktu, bertambah hingga Rp 4 juta. Akan tetapi, dua tahun terakhir, pihaknya swadaya saat akan mengadakan kegiatan.

Namun, dia berharap, perpusdes tetap bertahan lama. Apa yang ada di perpus, lanjutnya, bisa membuat perpus semakin berkembang. “Terutama usaha. Sehingga masyarakat sekitar bisa mendapatkan penghasilan lebih dari kegiatan perpusdes, terkhusus ibu-ibu,” lanjutnya.

Tutik Endriyani, Pustakawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Lumajang, juga mengungkapkan kendala yang sama. Menurutnya, selain hal itu, sumber daya manusia (SDM) pengelola juga masih rendah. Apalagi, mereka juga tidak selalu dibayar. Praktis, hal tersebut membutuhkan kemauan besar menjadi pengelola.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kabupaten Lumajang memiliki empat tempat perpustakaan umum daerah (perpusda). Satu perpus bertempat di pusat kota yang kini beralih sementara di Desa Karangsari, Sukodono. Sedangkan tiga lainnya berada di kecamatan. Yakni Kecamatan Klakah, Yosowilangun, dan Pasirian. Jumlah perpustakaan desa (perpusdes) sebanyak 64 unit. Perpus kelurahan sebanyak 2 dan pojok baca desa/kelurahan sebanyak 139 unit.

Meski demikian, tidak semua perpustakaan bisa bertahan lama. Ada yang hanya bertahan hitungan bulan hingga tahunan. Tetapi, ada juga perpusdes yang bertahan hingga sekarang. Namun, sejak masa pandemi, banyak program yang tidak bisa dilakukan perpusdes. Salah satunya Perpusdes Tunas Bangsa, Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh.

“Sejak pandemi, kami kesulitan melaksanakan program yang sudah ditetapkan. Misalnya saja kegiatan kewirausahaan kripik pelepah pisang. Sebelum pandemi, kami lakukan pelatihan dan praktik rutin hingga berjualan. Tetapi, karena pandemi, kami hanya membuat kripik saat ada pesanan saja,” kata Yuli Astuti, Ketua Perpudes Tunas Bangsa, Desa Pandanwangi, Tempeh.

Yuli menjelaskan, pandemi memaksa perpusdes yang pernah juara I perpusdes terbaik tingkat nasional itu bergerak lambat. Namun, tidak hanya itu, banyak faktor membuat perpusdes yang dikelolanya itu seperti antara hidup dan mati. Selain dibatasi pengunjungnya, perpusdes terkendala anggaran. Di awal jalan, perpusdes menerima dana anggaran pengelolaan dan pengembangan sebesar Rp 2,5 juta. Seiring waktu, bertambah hingga Rp 4 juta. Akan tetapi, dua tahun terakhir, pihaknya swadaya saat akan mengadakan kegiatan.

Namun, dia berharap, perpusdes tetap bertahan lama. Apa yang ada di perpus, lanjutnya, bisa membuat perpus semakin berkembang. “Terutama usaha. Sehingga masyarakat sekitar bisa mendapatkan penghasilan lebih dari kegiatan perpusdes, terkhusus ibu-ibu,” lanjutnya.

Tutik Endriyani, Pustakawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Lumajang, juga mengungkapkan kendala yang sama. Menurutnya, selain hal itu, sumber daya manusia (SDM) pengelola juga masih rendah. Apalagi, mereka juga tidak selalu dibayar. Praktis, hal tersebut membutuhkan kemauan besar menjadi pengelola.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/