alexametrics
23.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Pemanfaatan Sampah Plastik Jadi Tas Cantik

Sampah tidak selalu berakhir menjadi sampah yang bau, kurang enak dipandang, hingga jadi persoalan lingkungan. Tapi, tengoklah orang-orang yang dapat memaksimalkan kehadiran sampah plastik. Lewat sampah nonorganik, muncul pundi-pundi uang.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Aktivitas pemberdayaan perempuan yang peduli terhadap lingkungan mulai bermunculan. Bahkan, dari dapur mereka, perempuan kini mulai berkontribusi mengurangi membuang sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA). Ada sampah dapur menjadi kompos, ada pula yang mulai memisahkan sampah organik dengan sampah nonorganik, khususnya plastik.

Baca Juga :  Setiap Pasar Bakal Dilengkapi Mesin Pengolah Sampah

Inilah yang dilakukan Yuliana. Dia mulai mengawali hal kecil dengan memisahkan sampah plastik dengan organik, hingga mampu memaksimalkan sampah plastik jadi produk ikonik. Perempuan 43 tahun ini sudah dikenal aktif dalam pemakaian ulang sampah plastik. Di kediamannya yang sederhana tersebut, juga terdapat tas-tas beraneka warna dan bentuk yang terbuat dari plastik. “Sebentar, di dalam masih ada lagi, produk dari sampah plastik,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bagi Yuliana, mendaur ulang sampah bukanlah suatu bentuk kegengsian, dirinya melatih diri untuk peka terhadap lingkungan. Sehingga memperoleh perhatian penuh untuk memanfaatkan sampah menjadi hal yang lebih berguna. Apalagi memiliki nilai ekonomis setelah diproses.

Lewat kepeduliannya terhadap lingkungan tersebut, Yuliana kini tengah serius jadi perajin tas dari sampah plastik. “Jadi, hanya iseng-iseng, ternyata membawa berkah,” paparnya.

Menjadi perajin sampah plastik, tentu saja harus berani dan kreatif. “Berani coba terpenting,” katanya. Tak jarang ditemui, tas yang dibuatnya memiliki motif yang tidak jauh beda dengan yang ada di pasaran dan diminati.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Aktivitas pemberdayaan perempuan yang peduli terhadap lingkungan mulai bermunculan. Bahkan, dari dapur mereka, perempuan kini mulai berkontribusi mengurangi membuang sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA). Ada sampah dapur menjadi kompos, ada pula yang mulai memisahkan sampah organik dengan sampah nonorganik, khususnya plastik.

Baca Juga :  Setiap Pasar Bakal Dilengkapi Mesin Pengolah Sampah

Inilah yang dilakukan Yuliana. Dia mulai mengawali hal kecil dengan memisahkan sampah plastik dengan organik, hingga mampu memaksimalkan sampah plastik jadi produk ikonik. Perempuan 43 tahun ini sudah dikenal aktif dalam pemakaian ulang sampah plastik. Di kediamannya yang sederhana tersebut, juga terdapat tas-tas beraneka warna dan bentuk yang terbuat dari plastik. “Sebentar, di dalam masih ada lagi, produk dari sampah plastik,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Bagi Yuliana, mendaur ulang sampah bukanlah suatu bentuk kegengsian, dirinya melatih diri untuk peka terhadap lingkungan. Sehingga memperoleh perhatian penuh untuk memanfaatkan sampah menjadi hal yang lebih berguna. Apalagi memiliki nilai ekonomis setelah diproses.

Lewat kepeduliannya terhadap lingkungan tersebut, Yuliana kini tengah serius jadi perajin tas dari sampah plastik. “Jadi, hanya iseng-iseng, ternyata membawa berkah,” paparnya.

Menjadi perajin sampah plastik, tentu saja harus berani dan kreatif. “Berani coba terpenting,” katanya. Tak jarang ditemui, tas yang dibuatnya memiliki motif yang tidak jauh beda dengan yang ada di pasaran dan diminati.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Aktivitas pemberdayaan perempuan yang peduli terhadap lingkungan mulai bermunculan. Bahkan, dari dapur mereka, perempuan kini mulai berkontribusi mengurangi membuang sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA). Ada sampah dapur menjadi kompos, ada pula yang mulai memisahkan sampah organik dengan sampah nonorganik, khususnya plastik.

Baca Juga :  Setiap Pasar Bakal Dilengkapi Mesin Pengolah Sampah

Inilah yang dilakukan Yuliana. Dia mulai mengawali hal kecil dengan memisahkan sampah plastik dengan organik, hingga mampu memaksimalkan sampah plastik jadi produk ikonik. Perempuan 43 tahun ini sudah dikenal aktif dalam pemakaian ulang sampah plastik. Di kediamannya yang sederhana tersebut, juga terdapat tas-tas beraneka warna dan bentuk yang terbuat dari plastik. “Sebentar, di dalam masih ada lagi, produk dari sampah plastik,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Bagi Yuliana, mendaur ulang sampah bukanlah suatu bentuk kegengsian, dirinya melatih diri untuk peka terhadap lingkungan. Sehingga memperoleh perhatian penuh untuk memanfaatkan sampah menjadi hal yang lebih berguna. Apalagi memiliki nilai ekonomis setelah diproses.

Lewat kepeduliannya terhadap lingkungan tersebut, Yuliana kini tengah serius jadi perajin tas dari sampah plastik. “Jadi, hanya iseng-iseng, ternyata membawa berkah,” paparnya.

Menjadi perajin sampah plastik, tentu saja harus berani dan kreatif. “Berani coba terpenting,” katanya. Tak jarang ditemui, tas yang dibuatnya memiliki motif yang tidak jauh beda dengan yang ada di pasaran dan diminati.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/