RADARJEMBER.ID –Malnutrisi pada anak masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang krusial dan masih menjadi beban secara global, terutama di negara-negara berkembang. Kekurangan gizi pada masa kanak-kanak secara langsung terkait dengan perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisik masa kanak-kanak dan muncul sebagai salah satu faktor risiko tunggal terkuat untuk mortalitas dan morbiditas neonatal dini.
Efek yang ditimbulkan karena kekurangan gizi diantaranya sering mengalami berbagai infeksi termasuk diare, pneumonia, dan malaria, dan sekitar 45 persen kematian anak-anak dibawah 5 tahun disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan gizi.
Stunting di Indonesia masih menjadi permasalahan kesehatan utama. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa angka tengkes atau stunting di Kabupaten Jember tertinggi di Jawa Timur
Pentingnya masalah stunting memerlukan banyak pihak dalam upaya menurunkan kejadian stunting di negara berkembang, termasuk Indonesia. Peran tenaga kesehatan masyarakat sebagai promotor dalam mempromosikan kesehatan sangat penting dalam upaya pemberian edukasi kepada masyarakat tentang upaya peningkatan asupan gizi anak dengan pengolahan bahan pangan dan penanggulangan stunting melalui pijat bayi.
Salah satu program yang dapat menjadi faktor pendorong adalah pemberdayaan perempuan terutama ibu yang menjadi peran penting dalam keluarga. Yakni program pengabdian masyarakat, pemberdayaan perempuan guna mewujudkan desa anti stunting dengan pijat bayi dan pemanfaatan susu lokal sebagai pangan fungsional tinggi protein di wilayah kerja Puskesmas Jelbuk, Jember.
Program pengabdian masyarakat itu dilakukan oleh Rizky Fitrianingtyas, dari Program Studi Kebidanan Universitas dr. Soebandi.
“Pelatihan kader untuk pembuatan permen susu dan pijat bayi dalam penanggulangan stunting di wilayah desa jelbuk itu selama 3 bulan,” ungkap Rizky.
“Studi ini bertujuan menanggulangi stunting dengan meningkatkan nafsu makan balita dengan pijat bayi,” imbuhnya.
Hal itu guna meningkatan ketrampilan dan pengetahuan tentang untuk pemanfaatan pangan fungsional berbasis protein pada balita menjadi permen melalui pemberdayaan perempuan masyarakat. (ika/bud)
Editor : Radar Digital