BACA JUGA : Jalan Penghubung Desa Belum Mulus
Hari pertama digelar seminar deteksi dini dan tata laksana, yang digelar di Hotel Aston Jember. Sementara untuk hari kedua, kemarin (20/3), dilaksanakan di RSD dr Soebandi. Dalam acara pelatihan tersebut juga terdapat praktik studi kasus yang terbagi tiga kelompok. Dalam setiap kelompok terdapat dokter umum, perawat, dokter spesialis anak, dan ahli gizi.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Pediatri Ikatan Dokter Anak Indonesia(IDAI) Pusat Dr dr Muhammad Faizi SpA (K) menyampaikan bahwa kegiatan itu dilakukan dalam rangka membantu peningkatan pelayanan DM anak di seluruh dunia. Dirinya memilih Jember karena strategis dan jauh dari akses untuk merujuk pasien DM tipe 1. “Baik itu ke Malang sebagai pusat rujukan, maupun ke Surabaya,” jelasnya.
Pelatihan tersebut dibuat agar mereka lebih sadar melakukan tata laksana awal pasien DM anak dan remaja. “Nantinya RSD dr Soebandi akan dijadikan pusat rujukan DM anak dan remaja untuk daerah sekitarnya sebagai tata laksana DM tipe 1,” ucap Faizi.
Pelatihan tersebut sangat penting dilakukan, karena berdasarkan data 60–70 persen DM pada anak, datang berobat dalam keadaan yang sudah gawat dan memerlukan pelayanan komprehensif antarbidang. Selain itu, angka penderita DM anak terus meningkat. Berdasarkan data registry UKK Endokrinologi IDAI Pusat, akhir Januari kemarin, terdapat 1.645 pasien DM anak untuk usai di bawah 18 tahun. Padahal International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan pada tahun 2022 terdapat 13.311 anak yang menderita DM di bawah umur 20 tahun di Indonesia. “Sebenarnya kami masih mencatat fenomena gunung es yang di ujungnya saja. Kasus di bawah masih banyak yang belum ditemukan,” ucapnya.
Ke depan, diharapkan masyarakat dapat lebih meningkatkan kesadaran terhadap DM pada anak dan remaja. Agar nantinya pasien DM anak yang datang tidak dalam keadaan berat, karena nanti akan berakibat pada angka kematian yang tinggi. “Misi kami tidak ada anak yang mati karena diabetes melitus tipe 1. Itu targetnya,” terangnya.
Sementara itu, Plt Direktur RSD dr Soebandi dr Lilik Lailiyah Mkes menyampaikan bahwa RSD dr Soebandi merupakan salah satu RS rujukan dari Jatim di regional timur yang juga merupakan RS pendidikan. Oleh karena itu, akan selalu siap untuk mengembangkan ilmu pengetahuan baru, termasuk diabetes melitus pada anak. “Bukan hanya untuk RSD dr Soebandi sendiri, tetapi juga dari RS lainnya,” ungkapnya.
Adanya kegiatan pelatihan dan pembinaan tersebut merupakan kesempatan yang sangat baik, karena melihat angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB) di Jember masih tinggi. Sementara, DM juga sebagai salah satu penyumbang kematian anak di Jember. Hal itu terjadi karena sering tidak terdeteksi dengan baik. “Sekarang ini dikenalkan bagaimana mendeteksi secara dini, sebelum diabetes melitus pada anak mengalami komplikasi,” jelasnya.
Dirinya berharap kegiatan tersebut bisa ditindaklanjuti. Rencananya RSD dr Soebandi akan membuka klinik DM dan klinik tumbuh kembang. Hal itu berkaitan juga dengan tingginya stunting. “Kami berharap RSD dr Soebandi bisa melaksanakan tata laksana yang lebih baik lagi. Mungkin sebelumnya belum semua petugas peduli. Tetapi, dengan pelatihan ini diharapkan bisa mengenal lebih jauh dan lebih peduli lagi,” pungkasnya.
Acara pelatihan diabetes melitus tipe 1 pada anak dan remaja serta pembinaan klinik tersebut juga didukung oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi IDAI, RSD dr Soebandi, dan Changing Diabetes in Children Indonesia. (ika/cad/c2/dwi) Editor : Safitri