Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Anggaran BPJS Buruh Tani di Jember Mendadak Hilang?

Sidkin
Penulis: Sidkin❯
Ilustrasi kartu BPJS (Dok RSUD Sawahlunto)
Ilustrasi kartu BPJS (Dok RSUD Sawahlunto)

Advertisement

 

SUMBERSARI, Radar Jember – Ribuan buruh tani di Jember terancam kehilangan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan pada 2026. Hilangnya alokasi anggaran BPJS Ketenagakerjaan dalam APBD tahun ini memantik sorotan dari Komisi B DPRD Jember.

Kondisi tersebut dinilai sebagai langkah mundur dalam upaya memberikan perlindungan bagi pekerja sektor pertanian yang selama ini rentan terhadap risiko kerja.

Advertisement

Fakta itu terungkap dalam rapat dengar pendapat (RDP) antara Komisi B DPRD Jember dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP), Senin (4/5).

Dalam pembahasan tersebut terungkap bahwa pada APBD 2025, sebanyak 10.235 buruh tani masih mendapat perlindungan melalui program BPJS Ketenagakerjaan yang dibiayai pemerintah daerah.

Advertisement

Namun memasuki tahun anggaran 2026, program tersebut justru tidak lagi mendapat alokasi. “Tapi untuk tahun 2026 nol,” ungkap Sekretaris Dinas TPHP Jember Mochamad Sigit Boedi Ismoehartono.

Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto meyayangkan keputusan tersebut. Menurutnya, di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat, keberadaan jaminan ketenagakerjaan justru menjadi kebutuhan mendasar bagi buruh tani.

 Tanpa perlindungan tersebut, petani akan semakin rentan saat menghadapi risiko kecelakaan kerja maupun kondisi darurat lainnya. “Saya pikir ada program-program prioritas untuk petani yang bisa dianggarkan,” katanya.

Politisi PDIP itu menegaskan, kebijakan tersebut mencerminkan belum tepatnya arah penentuan prioritas anggaran daerah. Apalagi DTPHP menyebut, anggaran Rp 2,6 miliar itu digunakan untuk kegiatan temu tani di desa-desa.

Candra menilai dana miliaran rupiah semestinya dapat difokuskan untuk program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat kecil ketimbang habis untuk kegiatan seremonial.

Advertisement

Artikel Terkait

Di Balik Nikmatnya Secangkir Kopi, Ada Tekanan Kerja yang Dihadapi Barista Asal Jember Ini

Di Balik Nikmatnya Secangkir Kopi, Ada Tekanan Kerja yang Dihadapi Barista Asal Jember Ini

Usaha café atau coffeshop kini mulai menjamur di Jember, terutama di daerah yang berdekatan dengan kawasan kampus. Terlihat banyak sekali gerai kopi yang buka di daerah sekitar kampus ataupun yang masih dekat dengan kawa

Pengalaman dan Tantangan Dua Pemuda Pengelola Barbershop di Jember, Profesi Ini Berawal Dari Hobi

Pengalaman dan Tantangan Dua Pemuda Pengelola Barbershop di Jember, Profesi Ini Berawal Dari Hobi

Hobi memotong rambut menjadi awal perjalanan Gugun Sahrul Gunawan, 22, dan Noval Roviqi, 22, menekuni profesi sebagai capster atau barber. Keduanya kini mengelola barbershop HAVI (Hair Visual) di Jalan Jawa, Gumuk Kerang

Geliat Barbershop di Area Kampus Jember, Harga Bersaing Kualitas Tak Bisa Disamakan

Geliat Barbershop di Area Kampus Jember, Harga Bersaing Kualitas Tak Bisa Disamakan

Potong rambut bukan lagi perkara mencari kursi kosong, lalu meminta barber memangkas rambut sesuai keinginan. Di tengah menjamurnya barbershop, khususnya di kawasan yang dikelilingi aktivitas mahasiswa, konsumen memiliki

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer