Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

BKKBN Sosialisasi Penurunan Angka Stunting di Jember

Maulana Ijal • Senin, 31 Oktober 2022 | 01:26 WIB
Photo
Photo
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berupaya keras untuk menurunkan angka stunting di Indonesia. Salah satu caranya dengan melakukan sosialisasi berupa dialog interaktif kepada warga agar dapat maksimal mengetahui apa dampak bahayanya stunting.

Kegiatan sosialisasi ini bentuk kerjasama antara BKKBN dengan Mitra Kerja Anggota Komisi IX DPR RI, yang dalam hal ini pelaksanaan sosialisasi nya dilakukan melalui Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur.

BACA JUGA: Gugur Gunung Atasi Stunting di Jember, Libatkan NGO hingga Media

Pelaksanaan dialog interaktif kali ini diselenggarakan di sebuah hotel di Kabupaten Jember, Sabtu (29/10) pukul 09.00 hingga selesai. Pada kali ini, pihak Mitra Kerja Anggota Komisi IX RI Ir H Nur Yasin diwakilkan Gus Robith Wajdi, Pengurus Wilayah Rijalul Ansor Jawa Timur. Selain itu, juga hadir Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Pusat Bonivasius Prasetya Ichtiarto, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Maria Ernawati, serta Kepala Dinas P3AKB Kabupaten Jember Suprihandoko.

Dalam kesempatan ini, para narasumber menjelaskan pentingnya peran masyarakat dalam percepatan penurunan stunting. Untuk menurunkan angka stunting dibutuhkan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah.

Para narasumber menekankan bahaya stunting bagi tumbuh kembang anak dan pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Oleh sebab itu, dibutuhkan pendampingan saat hamil, melahirkan, hingga 1.000 hari pertama kehidupan.

Lalu bagaimana jika ada pengantin yang sudah terdeteksi stunting, apakah akan melahirkan anak stunting juga? “Belum tentu, stunting bukan penyakit,” jelas Maria Ernawati.

Jika pengantin sudah terdeteksi stunting, maka masyarakat memiliki peran penting untuk mendampinginya hingga si ibu bisa melahirkan anak yang sehat dan terbebas dari stunting. Menurut Bonivasius, stunting adalah sebuah kondisi kekurangan gizi kronis sehingga untuk menghindarinya dibutuhkan makanan dengan nutrisi yang cukup.

Dijelaskan pula, jangan sembarangan menjustifikasi stunting. “Percayakan dan biarkan pada para tenaga kesehatan yang ahli di bidangnya,” kata Suprihandoko.

Gus Robith menambahkan, nutrisi yang cukup tidak selalu berasal dari makanan yang mahal. Menurut dia, nutrisi dapat diperoleh dari makanan sehari-hari asalkan ada keseimbangan. Baik dari protein, karbohidrat, dan lemaknya. Atas dasar itulah H. Nur Yasin membentuk tim yang secara massif melakukan gerakan pemberian makanan bergizi kepada masyarakat di wilayah Jawa Timur. (*) Editor : Maulana Ijal
#BKKBN