Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Olah Limbah Kulit Kopi Menjadi Bahan Bakar Biopellet

Safitri • Jumat, 23 September 2022 | 17:40 WIB
Ilustrasi Biopellet
Ilustrasi Biopellet
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Produksi kopi di Indonesia semakin hari semakin meningkat, berkat teknologi budidaya dan perawatan kopi serta didukung iklim yang cukup baik. Disisi lain, dengan semakin meningkatnya produksi kopi, limbah kulit kopi juga semakin meningkat karena hampir 39% dari total produksi adalah limbah.

BACA JUGA : Subsidi Listrik 450 VA Akan Dihapuskan?

Saat ini limbah kulit kopi belum dapat dikelola dengan baik, karena hanya dibiarkan menumpuk di pojok kebun atau aliran sungai, menunggu dekomposisi selama 3-4 bulan sebelum dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Sebagian dari petani kopi juga masih membuang limbah kulit kopinya.

Photo
Photo
Photo
Photo


Namun di tangan Dosen Prodi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember, Dr. Ir. Soni Sisbudi Harsono, M.Eng. M.Phil, limbah kulit kopi ini mampu disulap menjadi bahan bakar. Salah satu riset yang dihasilkannya, limbah kopi dimanfaatkan sebagai biopellet sebagai bahan bakar alternatif terbarukan.  Dengan penggunaan bakar alternatif ini diharapkan bisa meminimalisir penggunaan bahan bakar fosil seperti LPG. Menurut Dr Soni, cara pembuatan pelet ataupun briket yaitu dengan memperkecil ukuran limbah dan dapat disimpan di gudang petani.

Saat ini, bahan bakar biopellet dari kulit kopi ini sudah diterapkan pada Kelompok Tani Usaha 4 Dusun Kluncing, Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin, Kabupaten Bondowoso yang berjarak 67 km dari kampus Universitas Jember di kota Jember.   

Menurut Dr. Soni – yang lulusan S3 di Humboldt University Berlin di Jerman ini menerangkan, semua limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai briket maupun biopellet, bahkan limbah sayuran. Karena risetnya ini, Kepala Laboratorium Rekayasa Alat Mesin Pertanian Universitas Jember ini diundang ke Vietnam, Filipina dan berbagai kota di Indonesia sebagai narasumber berbagai Seminar dan Workshop.

Sebagai Ketua Pelaksana Pengabdian pada Masyarakat LP2M  Universitas Jember dengan dana DRTPM (Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian pada Masyarakat) DIKTI Kemdikbud, Dr Soni Sisbudi Harsono mendampingi para petani kopi Dusun Kluncing Desa Sukorejo, Sumber Wringin, Kabupaten Bondowoso awal September 2022 lalu.  Dr Soni yang juga Ketua Laboratorium Rekayasa dan Alat Mesin Pertanian FTP UNEJ ini membantu petani mengolah limbah kopi menjadi bahan bakar biopellet yang bisa digunakan masyarakat untuk keperluan memasak di dapur.

Dia menjelaskan,  saat musim panen raya kopi tiba. Banyak limbah cangkang  kopi yang tidak termanfaatkan. Padahal bila tidak ditangani, berpotensi menjadi sumber penyakit bagi masyarakat sekitar. Selain itu, dapat merusak tanah dan ekosistem yang ada di sungai. “Limbah kopi itu bersifat asam, tidak bagus untuk tanah,” katanya.

Untuk itu, Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UNEJ tersebut mendampingi petani. Salah satunya dengan menggelar pelatihan pembuatan biopellet dari kulit kopi di Kelompok Tani Usaha 4  Dusun Kluncing, Sukorejo, Kabupaten Bondowoso awal September 2022 lalu.

Dia bersama mahasiswa bimbingannya berupaya memanfaatkan limbah kopi bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Misalnya dijadikan bahan bakar pengganti gas. Hal itu  menghemat ekonomi masyarakat. “Tinggal bagaimana masyarakat kita berikan pelatihan untuk mengolah kulit kopi menjadi bahan bakar,” tambahnya.

Dr Soni bersama timnya sudah berhasil memproduksi kompor hemat energi yang bahan bakarnya menggunakan limbah kulit kopi. Menurutnya, kompor tersebut akan segera diproduksi massal untuk dibagikan atau dijual dengan harga murah kepada masyarakat sekitar perkebunan kopi.

“Tidak hanya kulit kopi, ranting dan daun kopi pun bisa diproses sebagai bahan bakar kompor yang kami produksi,” jelasnya. Api  yang dihasilkan cukup besar bisa digunakan untuk rumah tangga ataupun usaha kecil seperti para kuliner dan cafe serta penjual kaki lima di kota dan daerah pariwisata.

Dr. Soni berharap kompor biomassa buatannya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan kopi. Dia akan membimbing masyarakat agar bisa memproduksi kompor dan briket secara mandiri. “Program PKM Ini memanfaatkan limbah kopi menjadi bahan bakar yang bisa digunakan  untuk memasak kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.

Soni menambahkan biaya untuk proses pembuatan pelet bahan bakar kompor itu murah.  untuk menghasilkan 1 kilogram biopellet hanya memerlukan biaya produksi Rp 2.500. "Setiap satu kilogram bisa untuk masak nasi 1 kilogram, masak air dan masak lauk pauk selama 8 jam, lebih hemat 25 persen dari total biaya gas subsidi dan sangat membantu mengurangi pengeluaran belanja rumah tangga," tuturnya.

Sedangkan biaya untuk pembuatan satu kompor tidak lebih dari Rp175.000. Bahan  bakarnya tidak harus limbah kulit kopi karena bahan bakar berupa Biopellet juga bisa dibuat dari limbah kotoran binatang ternak, batang pohon pisang dan sampah organik rumah tangga lainnya. Editor : Safitri
#Biopellet #Pengabdian Dosen