
RADAR JEMBER - Sabtu, happy weekend, biasanya cerita yang membuat senyum. Kali ini saya mau mengulas sebuah sejarah, tentang Nabi Luth. Kenapa saya mau bahas ini? Karena, setiap kali membahas isu soal LGBT, pasti ada komen soal Nabi Luth itu. Siapa sebenarnya beliau ini dan apa hubungannya dengan kaum gay dan sejenisnya? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Setiap kali topik LGBT muncul di Indonesia, ada satu kalimat yang meluncur lebih cepat dari janji politik menjelang pemilu, "Itulah kaumnya Nabi Luth." Kalimat ini sudah seperti tombol darurat. Tinggal pencet, langsung muncul debat 700 komentar, 12 unfollow, dan 3 grup WA kebangsaan pecah kongsi.
Tapi mari kita tinggalkan dulu kolom komentar yang lebih panas dari dapur SPPG. Kita lihat kisah aslinya.
Dalam tradisi Islam, Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim dan diutus kepada penduduk Sodom di wilayah Syam. Nama beliau disebut 27 kali dalam Al-Qur'an. Itu artinya kisah ini bukan cerita figuran yang cuma muncul dua detik lalu menghilang seperti anggota DPR saat reses. Ini kisah besar yang berkali-kali diulang sebagai peringatan.
Masalahnya, warga Sodom bukan sekadar nakal. Mereka sudah naik level menjadi spesialis pembangkangan bersertifikat internasional. Menurut Al-Qur'an, mereka melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan umat sebelumnya. Menurut Ibnu Katsir, paket dosanya juga lengkap: perampokan, pengkhianatan, kemungkaran terbuka, dan perilaku yang membuat malaikat mungkin ingin mengajukan cuti panjang.
Nuan bayangkan sebuah kota yang kalau ada lomba "Kawasan Paling Bikin Tuhan Geleng Kepala", mereka bukan cuma juara satu, tetapi juga ketua panitia, sponsor utama, dan pembawa acara.
Nabi Luth sudah berdakwah. Sudah mengingatkan. Sudah menasihati. Sudah melakukan apa yang dilakukan seorang nabi. Namun respons kaumnya kurang lebih seperti netizen yang baru baca judul berita tanpa membuka artikel. Itu kaum Sodom ya, di sini tak ada kaum itu lagi.
Mereka malah berkata, "Kalau memang benar, datangkan saja azab itu." Ini seperti orang yang berdiri di rel kereta lalu berteriak, "Kalau keretanya berani, suruh lewat sini!" Masalahnya, alam semesta tidak mengenal istilah "cuma bercanda."
Puncak cerita terjadi ketika malaikat datang dalam wujud lelaki tampan, ganteng, dan berpangkat. Begitu kabar itu menyebar, penduduk Sodom bergerak lebih cepat dari pejabat yang mendengar ada titik SPPG sehari untung 1 miliar. Mereka mendatangi rumah Nabi Luth dengan niat yang sangat buruk.
Lalu datanglah momen ketika langit memutuskan, rapat sudah cukup dan sidang harus ditutup. Menurut Al-Qur'an, negeri itu dibalikkan dan dihujani batu dari tanah terbakar. Bukan digusur. Bukan direlokasi. Bukan direvitalisasi. Kota itu diperlakukan seperti kasur yang sedang dijemur. Dibalik total lalu dihantam dari atas.



