23.7 C
Jember
Friday, 3 February 2023

Proyek Multiyears Habiskan Rp 664 Miliar, Aspal Jalan Masih Cepat Rusak

Harapan masyarakat pada pembangunan jalan aspal sudah banyak dijawab Pemkab Jember. Tak tanggung-tanggung, pengaspalan dilakukan di mana-mana. Banyak jalan yang dulu rusak parah, kini sudah mulus. Namun demikian, ada pula aspal yang sudah berlubang meski usianya belum seumur jagung.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemkab Jember sudah merencanakan dan mengeksekusi pengaspalan jalan sepanjang 1.080 kilometer. Dana yang disiapkan sebesar Rp 664 miliar, meski kontrak yang diteken Rp 560 miliar. Dana ini tidak main-main dan pembiayaannya menggunakan skema anggaran tahun jamak atau dikenal dengan sebutan multiyears.

BACA JUGA : Pakai Wig dan Wajahnya Bengkak, Ahn Sung Ki Dikabarkan Derita Kanker

Kontrak awal pembangunan jalan aspal oleh 19 perusahaan terhitung sejak Desember 2021 sampai akhir Juni 2022. Namun, sebagian besar rekanan tidak mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak kerja. Belakangan, keseluruhan megaproyek infrastruktur tersebut telah rampung mencapai 90 persen lebih. Akan tetapi, sebagian besar jalan aspal justru rusak dan berlubang-lubang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Beberapa ruas jalan yang rusak atau berlubang juga tersebar di sejumlah proyek multiyears. Seperti ruas jalan penghubung Desa Sabrang dengan Lojejer di Kecamatan Ambulu, lalu di Desa Kawangrejo, Kecamatan Mumbulsari, atau pada ruas jalan di Kecamatan Umbulsari. Ada pula di jalan yang menghubungkan Cangkring-Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah. Bahkan, di jalan yang menghubungkan Desa Sanenrejo dengan Curahnongko juga demikian, ada yang rusak.

Padahal jalan-jalan yang baru diperbaiki itu masih dalam jaminan masa perawatan rekanan selama satu tahun, setelah dilakukan pemeriksaan. Mestinya tidak ada cerita-cerita jalan baru yang berumur pendek. Bahkan, ada jalan aspal yang baru hitungan minggu sudah mengelupas.

Di sisi lain, ada faktor lemahnya pengawasan serta kendaraan yang melintas over load. Bisa dibilang, kendaraan berat sampai saat ini bebas lalu lalang. Bahkan masuk ke jalan desa yang bukan kelasnya. Sementara, penindakan nyaris tidak ada. Anggaran ratusan miliar rupiah juga bisa terbuang sia-sia apabila jalan aspalnya rusak dalam waktu cepat.

Heru, warga di Jalan Sukowiryo, Kecamatan Jelbuk, menuturkan, peremajaan jalan di sekitar rumahnya sudah rampung sekitar bulan April. Namun, sudah mengalami kerusakan beberapa bulan terakhir. Bahkan di jalan tersebut sempat dilakukan penambalan untuk kali kedua, namun tetap ada yang lubang lagi. Kali ini, menurutnya, di Sukowiryo direncanakan akan dilakukan penambalan untuk ketiga kalinya. “Iya, banyak yang rusak ini jalannya. Padahal belum ada satu tahun. Ini baru ditambal yang kedua kali, satu bulan kemarin. Sebelumnya malah rusak parah karena banyak lubang besar,” jelasnya.

Kondisi kerusakan pada jalan yang baru rampung pengerjaannya pada bulan April, menurutnya, tidak hanya mengganggu aktivitas. Namun, juga turut menyeret korban kecelakaan tunggal. “Di sini, lebih dari 10 kali kira-kira yang di daerah dekat rumah saya terjadi kecelakaan. Kebanyakan mereka menghindari lubang, kemudian jatuh. Ada juga karena lubang di jalan itu, karena sebelum ditambal ini lebih parah. Lubangnya besar-besar,” ungkapnya. Kesaksian warga ini pun membuat tanda tanya besar, sebenarnya kualitas aspalnya baik atau justru buruk. Di sisi lain, apakah kerusakan jalan itu karena kendaraan berat atau karena hal lain.

Di tempat lain, di jalan Kalisat-Mayang, Kecamatan Kalisat, Sukaesih, warga sekitar jalan yang rusak, mengungkapkan bahwa kondisi serupa juga terjadi di lingkungannya. Jalan yang baru selesai pembuatannya sekitar bulan Mei, kini banyak mengalami kerusakan. Bahkan sudah dilakukan penambalan jalan sebanyak tiga kali. Namun, kualitasnya tetap buruk. “Kira-kira sudah tiga kali penambalan jalan rusak, tapi ini mulai keliatan lagi yang ditambal itu terkelupas lapisannya,” imbuhnya.

Pada saat malam hari, kondisinya lebih berbahaya lagi. Sebab, sebagian jalan mulus, namun tiba-tiba ada jalan berlubang. Sementara lampu penerangan belum mampu menerangi semua jalan di Jember. “Saya sendiri pernah hampir jatuh di sini. Ditambah kondisinya hujan. Ketika ban masuk ke lubang, keseimbangan kurang. Berbahaya,” ungkapnya.

Heru, Sukaesih, dan mayoritas warga di Jember berharap agar pembangunan jalan aspal tidak mudah rusak. Untuk itu, kualitasnya perlu dikontrol dan kendaraan berat didisiplinkan agar melewati kelas jalan sesuai peruntukannya. Jangan sampai ada truk gandeng masuk jalan kelas 3 atau bahkan masuk ke pelosok desa demi jalan yang berumur panjang, yang baik dan tahan lama. (mg2/c2/nur)

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemkab Jember sudah merencanakan dan mengeksekusi pengaspalan jalan sepanjang 1.080 kilometer. Dana yang disiapkan sebesar Rp 664 miliar, meski kontrak yang diteken Rp 560 miliar. Dana ini tidak main-main dan pembiayaannya menggunakan skema anggaran tahun jamak atau dikenal dengan sebutan multiyears.

BACA JUGA : Pakai Wig dan Wajahnya Bengkak, Ahn Sung Ki Dikabarkan Derita Kanker

Kontrak awal pembangunan jalan aspal oleh 19 perusahaan terhitung sejak Desember 2021 sampai akhir Juni 2022. Namun, sebagian besar rekanan tidak mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak kerja. Belakangan, keseluruhan megaproyek infrastruktur tersebut telah rampung mencapai 90 persen lebih. Akan tetapi, sebagian besar jalan aspal justru rusak dan berlubang-lubang.

Beberapa ruas jalan yang rusak atau berlubang juga tersebar di sejumlah proyek multiyears. Seperti ruas jalan penghubung Desa Sabrang dengan Lojejer di Kecamatan Ambulu, lalu di Desa Kawangrejo, Kecamatan Mumbulsari, atau pada ruas jalan di Kecamatan Umbulsari. Ada pula di jalan yang menghubungkan Cangkring-Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah. Bahkan, di jalan yang menghubungkan Desa Sanenrejo dengan Curahnongko juga demikian, ada yang rusak.

Padahal jalan-jalan yang baru diperbaiki itu masih dalam jaminan masa perawatan rekanan selama satu tahun, setelah dilakukan pemeriksaan. Mestinya tidak ada cerita-cerita jalan baru yang berumur pendek. Bahkan, ada jalan aspal yang baru hitungan minggu sudah mengelupas.

Di sisi lain, ada faktor lemahnya pengawasan serta kendaraan yang melintas over load. Bisa dibilang, kendaraan berat sampai saat ini bebas lalu lalang. Bahkan masuk ke jalan desa yang bukan kelasnya. Sementara, penindakan nyaris tidak ada. Anggaran ratusan miliar rupiah juga bisa terbuang sia-sia apabila jalan aspalnya rusak dalam waktu cepat.

Heru, warga di Jalan Sukowiryo, Kecamatan Jelbuk, menuturkan, peremajaan jalan di sekitar rumahnya sudah rampung sekitar bulan April. Namun, sudah mengalami kerusakan beberapa bulan terakhir. Bahkan di jalan tersebut sempat dilakukan penambalan untuk kali kedua, namun tetap ada yang lubang lagi. Kali ini, menurutnya, di Sukowiryo direncanakan akan dilakukan penambalan untuk ketiga kalinya. “Iya, banyak yang rusak ini jalannya. Padahal belum ada satu tahun. Ini baru ditambal yang kedua kali, satu bulan kemarin. Sebelumnya malah rusak parah karena banyak lubang besar,” jelasnya.

Kondisi kerusakan pada jalan yang baru rampung pengerjaannya pada bulan April, menurutnya, tidak hanya mengganggu aktivitas. Namun, juga turut menyeret korban kecelakaan tunggal. “Di sini, lebih dari 10 kali kira-kira yang di daerah dekat rumah saya terjadi kecelakaan. Kebanyakan mereka menghindari lubang, kemudian jatuh. Ada juga karena lubang di jalan itu, karena sebelum ditambal ini lebih parah. Lubangnya besar-besar,” ungkapnya. Kesaksian warga ini pun membuat tanda tanya besar, sebenarnya kualitas aspalnya baik atau justru buruk. Di sisi lain, apakah kerusakan jalan itu karena kendaraan berat atau karena hal lain.

Di tempat lain, di jalan Kalisat-Mayang, Kecamatan Kalisat, Sukaesih, warga sekitar jalan yang rusak, mengungkapkan bahwa kondisi serupa juga terjadi di lingkungannya. Jalan yang baru selesai pembuatannya sekitar bulan Mei, kini banyak mengalami kerusakan. Bahkan sudah dilakukan penambalan jalan sebanyak tiga kali. Namun, kualitasnya tetap buruk. “Kira-kira sudah tiga kali penambalan jalan rusak, tapi ini mulai keliatan lagi yang ditambal itu terkelupas lapisannya,” imbuhnya.

Pada saat malam hari, kondisinya lebih berbahaya lagi. Sebab, sebagian jalan mulus, namun tiba-tiba ada jalan berlubang. Sementara lampu penerangan belum mampu menerangi semua jalan di Jember. “Saya sendiri pernah hampir jatuh di sini. Ditambah kondisinya hujan. Ketika ban masuk ke lubang, keseimbangan kurang. Berbahaya,” ungkapnya.

Heru, Sukaesih, dan mayoritas warga di Jember berharap agar pembangunan jalan aspal tidak mudah rusak. Untuk itu, kualitasnya perlu dikontrol dan kendaraan berat didisiplinkan agar melewati kelas jalan sesuai peruntukannya. Jangan sampai ada truk gandeng masuk jalan kelas 3 atau bahkan masuk ke pelosok desa demi jalan yang berumur panjang, yang baik dan tahan lama. (mg2/c2/nur)

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemkab Jember sudah merencanakan dan mengeksekusi pengaspalan jalan sepanjang 1.080 kilometer. Dana yang disiapkan sebesar Rp 664 miliar, meski kontrak yang diteken Rp 560 miliar. Dana ini tidak main-main dan pembiayaannya menggunakan skema anggaran tahun jamak atau dikenal dengan sebutan multiyears.

BACA JUGA : Pakai Wig dan Wajahnya Bengkak, Ahn Sung Ki Dikabarkan Derita Kanker

Kontrak awal pembangunan jalan aspal oleh 19 perusahaan terhitung sejak Desember 2021 sampai akhir Juni 2022. Namun, sebagian besar rekanan tidak mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak kerja. Belakangan, keseluruhan megaproyek infrastruktur tersebut telah rampung mencapai 90 persen lebih. Akan tetapi, sebagian besar jalan aspal justru rusak dan berlubang-lubang.

Beberapa ruas jalan yang rusak atau berlubang juga tersebar di sejumlah proyek multiyears. Seperti ruas jalan penghubung Desa Sabrang dengan Lojejer di Kecamatan Ambulu, lalu di Desa Kawangrejo, Kecamatan Mumbulsari, atau pada ruas jalan di Kecamatan Umbulsari. Ada pula di jalan yang menghubungkan Cangkring-Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah. Bahkan, di jalan yang menghubungkan Desa Sanenrejo dengan Curahnongko juga demikian, ada yang rusak.

Padahal jalan-jalan yang baru diperbaiki itu masih dalam jaminan masa perawatan rekanan selama satu tahun, setelah dilakukan pemeriksaan. Mestinya tidak ada cerita-cerita jalan baru yang berumur pendek. Bahkan, ada jalan aspal yang baru hitungan minggu sudah mengelupas.

Di sisi lain, ada faktor lemahnya pengawasan serta kendaraan yang melintas over load. Bisa dibilang, kendaraan berat sampai saat ini bebas lalu lalang. Bahkan masuk ke jalan desa yang bukan kelasnya. Sementara, penindakan nyaris tidak ada. Anggaran ratusan miliar rupiah juga bisa terbuang sia-sia apabila jalan aspalnya rusak dalam waktu cepat.

Heru, warga di Jalan Sukowiryo, Kecamatan Jelbuk, menuturkan, peremajaan jalan di sekitar rumahnya sudah rampung sekitar bulan April. Namun, sudah mengalami kerusakan beberapa bulan terakhir. Bahkan di jalan tersebut sempat dilakukan penambalan untuk kali kedua, namun tetap ada yang lubang lagi. Kali ini, menurutnya, di Sukowiryo direncanakan akan dilakukan penambalan untuk ketiga kalinya. “Iya, banyak yang rusak ini jalannya. Padahal belum ada satu tahun. Ini baru ditambal yang kedua kali, satu bulan kemarin. Sebelumnya malah rusak parah karena banyak lubang besar,” jelasnya.

Kondisi kerusakan pada jalan yang baru rampung pengerjaannya pada bulan April, menurutnya, tidak hanya mengganggu aktivitas. Namun, juga turut menyeret korban kecelakaan tunggal. “Di sini, lebih dari 10 kali kira-kira yang di daerah dekat rumah saya terjadi kecelakaan. Kebanyakan mereka menghindari lubang, kemudian jatuh. Ada juga karena lubang di jalan itu, karena sebelum ditambal ini lebih parah. Lubangnya besar-besar,” ungkapnya. Kesaksian warga ini pun membuat tanda tanya besar, sebenarnya kualitas aspalnya baik atau justru buruk. Di sisi lain, apakah kerusakan jalan itu karena kendaraan berat atau karena hal lain.

Di tempat lain, di jalan Kalisat-Mayang, Kecamatan Kalisat, Sukaesih, warga sekitar jalan yang rusak, mengungkapkan bahwa kondisi serupa juga terjadi di lingkungannya. Jalan yang baru selesai pembuatannya sekitar bulan Mei, kini banyak mengalami kerusakan. Bahkan sudah dilakukan penambalan jalan sebanyak tiga kali. Namun, kualitasnya tetap buruk. “Kira-kira sudah tiga kali penambalan jalan rusak, tapi ini mulai keliatan lagi yang ditambal itu terkelupas lapisannya,” imbuhnya.

Pada saat malam hari, kondisinya lebih berbahaya lagi. Sebab, sebagian jalan mulus, namun tiba-tiba ada jalan berlubang. Sementara lampu penerangan belum mampu menerangi semua jalan di Jember. “Saya sendiri pernah hampir jatuh di sini. Ditambah kondisinya hujan. Ketika ban masuk ke lubang, keseimbangan kurang. Berbahaya,” ungkapnya.

Heru, Sukaesih, dan mayoritas warga di Jember berharap agar pembangunan jalan aspal tidak mudah rusak. Untuk itu, kualitasnya perlu dikontrol dan kendaraan berat didisiplinkan agar melewati kelas jalan sesuai peruntukannya. Jangan sampai ada truk gandeng masuk jalan kelas 3 atau bahkan masuk ke pelosok desa demi jalan yang berumur panjang, yang baik dan tahan lama. (mg2/c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca