Staf tenaga teknis arkeologi Museum Daerah Lumajang Aries Purwantiny menjelaskan, lomba mozaik itu diikuti oleh perwakilan lima murid TK setiap kecamatan di Lumajang. Sedangkan untuk lomba pembuatan patung kuda diikuti oleh perwakilan lima murid SDN setiap kecamatan di Lumajang.
BACA JUGA: Peringati HUT ke-7, Museum Daerah Gelar Lomba Sejarah dan Kebudayaan
“Kenapa kami memilih patung kuda? karena benda purbakala yang tersimpan dalam vitrin museum ini memiliki sejarah yang berkaitan dengan Lumajang. Jadi harapannya, mereka tidak asing lagi dengan patung kuda atau yang sekarang dikenal jaran kencak tersebut. Karena aset milik kita,” katanya.
Menurutnya, pengenalan sejarah dengan kemasan lomba tersebut membuat ingatan murid-murid sekolah mudah dan sangat awet. Sebab, mereka bukan hanya belajar menghafal tetapi mereka juga turut mempraktekkan langsung bagaimana membuat mozaik serta replika patung kuda secara fisik.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lumajang Agus Salim mengatakan, seluruh rangkaian kegiatan lomba itu bertemakan sejarah dan kebudayaan. Sehingga media lomba yang digunakan selalu memiliki makna dan arti yang mendalam. Sebut saja seperti lomba mozaik dan pembuatan patung kuda.
Menurutnya, kegiatan ini sekaligus sebagai upaya Pemkab Lumajang menunjukkan pada masyarakat jika Museum Daerah Lumajang memiliki sejumlah benda-benda bersejarah yang masih terawat. Setiap benda purbakala itu memilik cerita dan pelajaran berharga bagi penduduk Lumajang.
“Saya berharap kegiatan ini terus berlanjut, karena bagaimana pun masyarakat perlu tahu kegiatan di museum, banyak benda-benda serta kebudayaan milik Lumajang. Kemudian untuk untuk lomba, saya sangat berharap bisa dijadikan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan talentanya,” pungkasnya (kl)
Reporter: Atieqson Mar Iqbal
Foto : Atieqson Mar Iqbal
Editor : Hafid Asnan Editor : Maulana Ijal