BACA JUGA : Asap Rokok Berbahaya bagi Tumbuh Kembang Janin di Kandungan
Waswas saat menjemur tembakau itu dirasakan oleh Muhammad Rohim, petani tembakau di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa. Dirinya yang terbiasa menjemur tembakau di lapangan desa setempat mengaku waswas, sehingga menunggu rajangan tembakau yang dijemur agar tidak terkena hujan. “Jemurnya hanya saat matahari terik. Kalau mendung saja biasanya langsung diamankan semua,” tuturnya.
Rohim mengaku, dia terpaksa bergantian menjaga tembakau yang dijemur dengan anggota keluarganya. Hal itu dilakukan bila sewaktu-waktu ada mendung dan gerimis. “Kalau tidak dijaga, tembakaunya bisa rusak terkena hujan. Jadi, dijaga agar tembakau bisa diamankan sebelum hujan,” tuturnya lagi.
Kondisi tersebut, menurut Rohim, membuat proses pengeringan tembakau menjadi panjang. Hal itu karena lebih banyak waktu turunnya hujan dibandingkan dengan terik matahari yang membantu pengeringan tembakau. “Kalau musim kemarau tembakau hanya butuh waktu satu bulan untuk kering semua. Tapi, di musim hujan saat ini waktu pengeringannya lebih panjang. Perkiraan bisa dua sampai tiga kali lipat,” jelasnya.
Meski memerlukan waktu yang lama dan harus ekstra dalam mengawasi tembakau yang dijemur, Rohim mengaku tidak bisa berbuat banyak. Hanya mampu bersabar agar tembakau yang dijemurnya tidak rusak kualitasnya ketika akan dijual. Hal itu pun banyak dilakukan oleh petani lain. Salah satunya Nur Hasan. (ben/c2/nur) Editor : Safitri