Sanad Keilmuan Pengasuh Pesantren: Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan

Imron Hidayatullahh • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 06:24 WIB
“Dalam kondisi darurat, penggunaan vaksin dibolehkan demi melindungi jiwa dan mewujudkan kemaslahatan masyarakat. Ketua MUI Jatim, Prof Abd. Halim Soebahar.
“Dalam kondisi darurat, penggunaan vaksin dibolehkan demi melindungi jiwa dan mewujudkan kemaslahatan masyarakat. Ketua MUI Jatim, Prof Abd. Halim Soebahar.

Oleh : Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA*

Syaichona Muhammad Cholil, dikenal sebagai sosok penting mata rantai dalam sanad keilmuan pengasuh pesantren di Indonesia. Beliau tidak hanya melahirkan murid-murid alim dan visioner, tetapi juga mewariskan etos intelektual yang berakar kuat pada kedalaman ilmu, keluhuran akhlak dan kedalaman spiritual. Jasanya sangat besar bagi perkembangan pesantren dan bangsa Indonesia, sehingga pemerintah menetapkan Syaichona Muhammad Cholil sebagai Pahlawan Nasional.

Sejak tahun 2005 kami intens melakukan riset di Pesantren Syaichona Muhammad Cholil yang dikenal juga sebagai Pesantren Demangan Bangkalan untuk penulisan disertasi Program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kami menelusuri jejak pendidikannya, tradisi keilmuan yang diciptakannya, bagaimana beliau mempersiapkan regenerasi kepemimpinan pesantren dan menelusuri dampaknya terhadap pengembangan sistem pendidikan di Pesantren Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan. Tahun 2025, Dr. Rusdi berhasil menulis disertasi tentang “Genealogi Ilmu dan Tradisi Keilmuan Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan”.

Jejak pendidikan Syaichona Muhammad Cholil mencerminkan tipologi ulama tradisional Nusantara yang menempuh jalur panjang dalam proses pencarian ilmu. Sejak dini, beliau sudah diperkenalkan dengan pendidikan keagamaan di lingkungan keluarga dan pesantren lokal di Madura. Pendidikan awal ini menekankan penguasaan dasar-dasar ilmu agama, khususnya aqidah, ilmu fiqh, Alquran dan kitab-kitab dasar berbahasa arab.

Baca Juga: Sanad Keilmuan Pengasuh Pesantren: Jejak Sejarah Dan Silsilah

Lingkungan keluarga yang religious memainkan peran penting dalam menanamkan kecintaan terhadap ilmu. Keluarga dan guru-guru beliau dikenal figur yang disiplin dan sangat mengenal adab. Nilai-nilai inilah yang kelak menjadi fondasi spiritual dalam perjalanan intelektual Syaichona Muhammad Cholil.

Setelah menguasai dasar-dasar keilmuan di Bangkalan, Syaichona Muhammad Cholil melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke berbagai pesantren di jawa. Tradisi rihlah ilmiah ini telah menjadi ciri khas pendidikan pesantren sejak awal, di mana santri dianjurkan berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain demi memperluas wawasan dan memperdalam disiplin keilmuan tertentu (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII : Akar Pembaharuan Islam Indonesia, 2013). Dalam konteks ini, rihlah tidak sekadar perjalanan fisik, tetapi sekaligus transformasi intelektual dan spiritual.

Pesantren-pesantren yang menjadi tujuan rihlah Syaichona Muhammad Cholil dikenal sebagai pusat studi keislaman terkemuka pada masanya. Di sana Syaichona Muhammad Cholil mendalami berbagai disiplin ilmu, terutama fiqh Madzhab Syafii, ilmu hadits, tafsir serta tasawuf. Menurut Martin van Bruinessen dalam Tradisionalis Muslim in a modernizing world: The Nahdlatul Ulama and Indonesian New Order Politics, 1999), interaksi dengan kiai-kiai besar membentuk keluasan perspektif keilmuan sekaligus memperkaya pengalaman metodologis dalam memahami teks-teks klasik.

Selain memperdalam ilmu, rihlah ini ternyata berdampak terbangunnya jaringan intelektual lintas daerah. Hubungan antar santri dan guru membentuk komunitas keilmuan yang saling terhubung, kelak menjadi sarana penting dalam penyebaran ilmu dan pengembangan pesantren di berbagai daerah Nusantara (Azra, 2013). Dalam konteks ini Syaichona Muhammad Cholil tidak hanya berperan sebagai penerima ilmu, tetapi sekaligus sebagai penghubung antar tradisi pesantren.

Baca Juga: Periset Pesantrren (5): Implikasi terhadap Riset Pesantren Masa Depan

Puncak perjalanan intelektual Syaichona Muhammad Cholil adalah keberangkatannya ke Haramain, yakni Makkah dan Madinah yang pada masa itu menjadi pusat studi Islam dunia. Di Haramain Syaichona Muhammad Cholil berguru pada ulama besar dari berbagai negara, mempelajari kitab-kitab induk dalam bidang tafsir, hadits, fiqh, ushul giqh dan tasawuf.

Pengalaman ini memperkaya wawasan global serta memperkuat sanad keilmuannya. Lingkungan intelektual di Haramain memberi ruang dialog antar tradisi keilmuan Islam dari berbagai madzhab dan wilayah. Hal ini memperluas perspektif keislaman Syaichona Muhammad Cholil, menjadikannya ulama yang terbuka, moderat dan berwawasan luas. Pengalaman belajar dalam suasana multicultural ini memperkuat kemampuan analisis dan sikap toleran dalam memahami perbedaan pendapat.

Selama di Haramain, Syaichona Muhammad Cholil dikenal sebagai santri yang tekun, tawadu dan memiliki kedalaman spiritual. Sikap ini membuat para gurunya memberikan kepercayaan besar dan ijazah keilmuan dalam berbagai disiplin (van Bruinessen, 1999). Ijazah tersebut  tentu menjadi legitimasi formal sekaligus simbol pengakuan terhadap kapasitas keilmuan, intelektual dan moral beliau.

Perjalanan intelektual yang panjang ini ditempuh dengan penuh kesederhanaan dan pengorbanan. Syaichona Muhammad Cholil menjalani kehidupan asketis, mengutamakan belajar di atas kenyamanan hidup. Ketekunan ini mencerminkan etos thalabul ‘ilmi yang mengakar kuat dalam tradisi pesantren, di mana pencarian ilmu dipandang sebagai ibadah seumur hidup.

Sekembalinya ke Bangkalan, beliau membawa bekal keilmuan yang matang serta jaringan ulama internasional. Bekal ini menjadi modal utama dalam mendirikan dan mengembangkan pesantren sebagai pusat transmisi,  pembentukan jaringan keilmuan, keulamaan dan kepesantrenan di  Nusantara.

Dalam konstruksi jaringan keilmuan, keulamaan dan pesantren Nusantara, Syaichona Muhammad Cholil menempati posisi sentral sebagai penghubung antara ulama Haramain dan generasi ulama Nusantara berikutnya. Peran ini memposisikan beliau sebagai mata rantai strategis. Keistimewaan sanad keilmuan beliau tercermin dari kualitas murid-murid yang dihasilkan.

Tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh besar seperti KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (Tebuireng), KH. Abdul Wahad Hasbullah (Tambak Beras), KH. As’ad Syamsul Arifin (Sukorejo), KH. Bisri Syansuri (Denanyar), KH. Abdul Karim (Lirboyo), KH. Ridlwan Abdullah (Surabaya) serta banyak ulama Nusantara lain yang merupakan tokoh sentral mata rantai sanad keilmuan beliau, sekaligus menegaskan bahwa sanad Syaichona Muhammad Cholil tidak hanya kuat secara vertical, akan tetapi juga produktif secara horizontal. Wallahu a’lam.

*) Penulis adalah Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam UIN KHAS Jember, Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur dan Pengasuh Pesantren Shofa Marwa Jember.

Editor : Imron Hidayatullahh
sanad Perspektif Pesantren