Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Fakta Kejamnya Dunia Kerja di Lautan, di Balik Aksi Nekat Dua Pemuda yang Terdampar di Pulau Nusa Barong Jember

Imron Hidayatullahh • Rabu, 21 Mei 2025 | 14:10 WIB
Tenaga medis Puskesmas Puger melakukan pengecekan kesehatan pada dua ABK yang berhasil diselamatkan setelah terdampar di Nusa Barong, kemarin (20/5/2025). (JUMAI/RADAR JEMBER)
Tenaga medis Puskesmas Puger melakukan pengecekan kesehatan pada dua ABK yang berhasil diselamatkan setelah terdampar di Nusa Barong, kemarin (20/5/2025). (JUMAI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Kisah pilu dua pemuda ini menampar dunia kerja, khususnya di lautan.

Betapa tidak, Sutiyadi dan  Muhammad Julianda Gibran secara tak sengaja membongkar terjadinya praktik kekejaman dunia kerja di atas kapal pencari ikan.

Di daratan, adanya perusahaan yang menahan Ijazah, KTP, mungkin sudah sering kita dengar.

Namun di lautan, ada perusahaan kapal pencari ikan yang juga melakukan penahanan terhadap kartu identitas, berikut alat komunikasi.

Inilah yang dialami kedua pria yang nekat melompat di perairan Pulau Nusa Barong, Jember, ini.

Keduanya tak mungkin akan kabur jika tidak ada sesuatu yang mendesak.

“Saya bisa melompat ke laut karena sudah nekat. Hanya berbekal pelampung yang diambil dari atas kapal dan mengambil kantong plastik bungkus ikan,” kata Sutiyadi.

Sutiyadi menyebut, plastik bungkus ikan dia pakai menjadi pelampung.

Sementara temannya, Gibran, menggunakan pelampung dari dua tas yang diikat menjadi satu, lalu dibungkus plastik ikan.

Selama di tengah laut, keduanya harus berjuang dengan berenang.

Jarak dari kapal sekitar 2 mil untuk sampai ke tepi pantai Pulau Nusa Barong.

KeduanBaca Juga: YouTuber Asal Jember Ini yang Hina Nabi Muhammad Ditangkap, Ternyata Pernah Dipenjara karena Kasus Serupa!ya juga tak tahu bahwa pulau itu tak berpenghuni.

“Ketika saya berenang, Gibran berpegangan. Ketika Gibran berenang, saya yang istirahat dan berpegangan pada Gibran,” kata Sutiyadi kepada Jawa Pos Radar Jember.

Sutiyadi menjelaskan, dia dan Gibran menjadi bagian dari 32 ABK yang naik kapal pencari ikan.

Mereka sudah sekitar 14 hari lalu berangkat melaut dari Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara, pukul 18.30, Senin (5/5/2025).

Kapal tersebut berlayar menuju Laut Jawa, melalui jalur laut selatan, dengan tujuan menangkap ikan selama berbulan-bulan.

Pada saat sampai di laut lepas, keduanya dan para ABK di dalam kapal mendapati kenyataan pahit.

Kontrak kerja yang awalnya disepakati selama 4 bulan, tiba-tiba berubah menjadi 10 bulan.

Sementara, upah yang dijanjikan antara Rp 4,5 hingga Rp 5 juta per bulan, tak sesuai kenyataan.

Para ABK hanya akan dibayar berdasarkan hasil tangkapan selama pelayaran.

Itu pun masih dipotong sejumlah biaya selama di kapal.

“Dari rumah dijanjikan kontrak 4 bulan. Ternyata di kapal, pas sudah lepas dari dermaga, dibilang 10 bulan. Honor juga katanya dibagi hasil tangkapan. Bisa-bisa pulang cuma bawa sejuta atau lima ratus ribu,” kata Sutiyadi, Selasa (20/5/2025) pagi.

Parahnya, perusahaan yang merekrut mereka tidak jelas identitasnya.

Dalam kontrak kerja, hanya terlihat nama awalnya, yaitu PT Java.

Sedangkan bagian belakang ditutupi saat teken kontrak.

Selain itu, jaminan keselamatan, kesehatan, hingga hak-hak dasar pekerja tak mereka dapatkan.

Bahkan, ponsel dan KTP para ABK ditahan selama berada di atas kapal.

"Karena itu, kami menganggap pekerjaan ini tidak masuk akal. Kami nekat melompat dari kapal saat kapal mendekati Pulau Nusa Barong. Awalnya mau melompat di sekitar selat Bali. Tapi, saat itu kami takut dan khawatir karena kedalaman lautnya dikabarkan sekitar 6.000 meter," katanya.

Hanya berbekal informasi GPS yang dipinjam dari rekan dekat nakhoda, mereka memutuskan berenang sejauh 2 mil atau sekitar 3,2 km, dari kapal menuju Pulau Nusa Barong.

Kesempatan itu, kata Gibran, tidak disia-siakan untuk upaya menyelamatkan diri.

“Kami sudah persiapan seminggu sebelumnya. Dari pukul 16.00 sore sampai pukul 18.00, dua jam kami berenang. Sempat takut, tapi bismillah aja. Daripada terus disiksa di kapal,” kata Gibran.

Sementara itu, puluhan ABK lainnya masih berada di kapal karena tak bisa berenang dan tak memiliki akses keluar.

Dikatakan, dari 32 ABK itu banyak dari mereka berasal dari Medan, Jambi, Lampung, Bekasi, Bogor, hingga Garut.

Mereka tidak bisa berenang, dan di laut seperti itu, nyawa menjadi taruhannya.

“Terima kasih, saya bersama teman saya masih berhasil diselamatkan setelah melompat dan berenang dua jam,” kata Sutiyadi, yang diikuti ucapan terima kasih dari Gibran. (jum/c2/nur)

Baca Juga: Cabor Drum Band Absen dari Porprov, PDBI Jember: Masa Transisi dan Regenerasi Atlet

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #Pulau Nusa Barong #abk #terdampar #dunia kera