Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bupati Fawait Dukung SR, Tapi Bisakah Sekolah Rakyat Atasi Kesenjangan di Jember?

Maulana RJ • Senin, 9 Juni 2025 | 13:00 WIB

 

 

Ilustrasi siswa sekolah rakyat di antara jenis lembaga pendidikan lainnya. (Maulana Ijal/AI/Radar Jember)
Ilustrasi siswa sekolah rakyat di antara jenis lembaga pendidikan lainnya. (Maulana Ijal/AI/Radar Jember)

Radar Jember - Sampai saat ini, pendidikan gratis 12 tahun hanya sebatas jargon.

Bahkan, sekolah negeri masih melakukan penarikan uang kepada siswa, dengan berbagai alasan.

Kali ini, pemerintah membuat Sekolah Rakyat (SR) untuk warga miskin.

Jangan-jangan, yang gratis ke depannya hanya SR.

Sejak lama, kesenjangan antar-lembaga pendidikan di Indonesia dan Jember belum bisa dihilangkan.

Ada sekolah negeri, ada sekolah swasta, ada madrasah negeri, dan ada masdar asah swasta.

Kini muncul lagi: sekolah rakyat (SR).

Masing-masing sekolah itu juga memiliki fasilitas yang berbeda-beda.

Ini terjadi karena ketidakmampuan pemerintah dalam membuat kelas sekolah yang setara.

Sebut saja, kalau mau adil, buat semua sekolah sama, dengan fasilitas sama di semua kecamatan.

Namun, kemampuan pemerintah terbatas.

Bahkan, jika tidak ada sekolah swasta dan madrasah yang didirikan oleh para tokoh, di pondok pesantren dan di pelosok desa, bisa jadi akan banyak anak yang tidak bisa sekolah karena pemerintah tak mampu membuat fasilitas sekolah yang seluruh baik di Indonesia.

Untuk itu, keberadaan sekolah di luar sekolah negeri layak diapresiasi, karena mayoritas bangunannya dari para tokoh dan kadang lewat sebuah yayasan.

Kini, nasi sudah menjadi bubur.

Kesenjangan di lembaga pendidikan sulit dibuat setara.

Setara dari segi bantuan, dari segi fasilitas, atau setara dari segi penyiapan kualitas dan kapasitas guru.

Namun, di tengah itu, muncul program Sekolah Rakyat (SR) yang disebut-sebut untuk keluarga miskin.

Seiring dengan munculnya SR, apakah kelas sosial akan bertambah atau justru ke depan pendidikan gratis itu hanya ada di SR?

Sementara itu, SR yang akan dibangun di Jember menjadi salah satu program andalan Presiden Prabowo Subianto.

Untuk mewujudkan salah satu Asta Cita-nya, memperkuat pembangunan sumber daya manusia, pemerataan ekonomi, dan pemberantasan kemiskinan.

Hampir seluruh kabupaten kota se-Indonesia kecipratan program SR ini.

Bahkan, pemprov juga meluncurkan program serupa dan Jember menjadi salah satu kabupaten yang mendapat lungsuran dua SR sekaligus.

SR dari pusat ditempatkan di sekitar Stadion Jember Sport Garden (JSG) seluas sekitar 9 hektare.

Sementara itu, SR dari Pemprov Jatim kabarnya ditempatkan di sebuah lahan milik pemprov, di Kecamatan Tanggul.

Bupati Jember Muhammad Fawait mengaku sangat mendukung SR ini.

Ia meyakini, dalam jangka panjang, pendidikan menjadi sarana yang tepat untuk memberantas kemiskinan di kota berpenduduk 2,6 juta jiwa ini, yang jumlahnya sangat signifikan se-Jawa Timur.

"Kami sudah menyiapkan lahan untuk Sekolah Rakyat ini," tegasnya, dalam kesempatan menyampaikan rencana kerjanya secara terbuka, beberapa pekan lalu.

Dalam kesempatan lain, saat menerima kunjungan Menteri Sosial Saifullah Yusuf di Jember, 31 Mei 2025, Bupati Fawait juga menegaskan keberadaan SR untuk pemerataan pendidikan di Jember.

Meski banyak sekolah di naungan Dinas Pendidikan maupun Kemenag, ia menyebut SR dirancang khusus untuk mengurai kemiskinan, memberikan akses pendidikan yang layak dan inklusi bagi masyarakat yang selama ini termarjinalkan dari sistem pendidikan formal.

Khususnya masyarakat yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) Desil 1 dan Desil 2, dan termasuk kelompok rentan secara sosial dan ekonomi.

“Sekolah Rakyat adalah bentuk kehadiran negara yang nyata. Kami siap memastikan tidak ada warga Jember yang tertinggal karena keterbatasan ekonomi,” beber mantan legislator DPRD Jawa Timur itu.

Dalam kesempatan yang sama saat itu, Mensos Saifullah Yusuf menyebut Jember akan menjadi salah satu kabupaten yang akan mengikuti launching 100 SR se-Indonesia, dalam waktu dekat.

Saat menyosialisasikan SR kepada calon wali murid, Gus Ipul, sapaan Mensos, menyebut semua yang akan bersekolah di SR adalah masyarakat yang terdata di DTSEN.

"Karena itu setiap anak yang diusulkan ke SR akan dilakukan asesmen, dilihat anaknya, kita lihat kondisi rumahnya. Jadi betul-betul rekrutmen secara transparan, jauh dari pola-pola lama, KKN, titipan, jadi semuanya berdasarkan data," beber Mensos Gus Ipul.

Sejauh ini, meski gedung SR berlokasi sementara di gedung Balai Diklat BKPSDM Kaliwates, Jember, SR ini sudah membuka penerimaan calon siswa baru tahun ini.

Guru, tenaga kependidikan, termasuk kepala sekolah juga sedang proses rekrutmen.

Jika pembangunan SR di sekitar JSG rampung, maka KBM SR nantinya akan digeser.

Untuk rekrutmen calon siswa SR dilangsungkan selama Juni ini dan diperkirakan pada Juli, sudah bisa dimulai kegiatan belajar mengajar.

"Rencananya ada 6 rombel, masing-masing 2 untuk SD, SMP dan SMA, sehingga total 150 siswa, dengan masing-masing rombel 25 siswa," imbuh Mensos Saifullah Yusuf. (mau/c2/nur)

 Baca Juga: Cerita dari Gang Sempit di Banjarnegara, Harapan Rizky Kembali Menyala lewat Sekolah Rakyat  

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #Sekolah Rakyat #mensos #jember sport garden #JSG #gus ipul #Bupati Jember #Gus Fawait