BACA JUGA : Pelajar SMP Surabaya Nekat Loncat dari Gedung Sekolah
Kepala SDN Bagorejo 3 Wawan Sisyanto mengungkapkan bahwa dulu beberapa siswa masuk secara bergantian, pagi dan siang. “Kelas satu masuk pagi dan kelas dua masuk siang,” tuturnya. Namun, saat penerimaan siswa didik baru tahun 2017, mereka hanya mendapat enam murid, sehingga cukup jika ruang guru disekat menjadi ruang kelas untuk siswa baru yang jumlahnya tidak banyak, sehingga semua siswa dapat masuk pagi.
Tak hanya kekurangan kelas. Bahkan mereka tidak memiliki ruang apa pun selain kelas. Tak ada musala, tidak ada UKS, perpustakaan hanya terdapat buku di etalase yang berada di ruang guru. Bahkan ruang laboratorium komputer yang digunakan untuk Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) menggunakan kelas dua. Menurut keterangan kepala sekolah, setelah ANBK selesai, komputer diamankan ke rumah salah satu guru terdekat.
Wawan mengaku, sejak dirinya mulai mengajar sekitar 25 tahun lalu tidak ada penambahan kelas. “Sering mengusulkan, namun tidak dapat. Dulu juga membuat pengajuan ke Dinas Pendidikan, namun realisasinya belum terpenuhi,” ungkapnya.
Selain itu, beberapa waktu lalu sekolah tersebut akan mendapat renovasi ruang kelas sebelah utara. Namun, Wawan mengusulkan untuk menambah kelas karena dirinya merasa kelas masih cukup bagus dan hanya butuh ruangan tambahan. “Ternyata program tersebut hanya untuk memperbaiki, bukan menambah,” lanjutnya.
Meski luas lahan sekolah sempit, Wawan berpendapat bahwa masih cukup jika akan dibangun ruangan lagi di lahan yang saat ini digunakan parkir. Sementara, tempat parkir akan dipindah ke belakang kelas. “Jika satu ruangan masih cukup, Mbak. Namun, jika bisa membangun lebih dari satu, nanti kita tingkat,” katanya. (fik/c2/nur)
Editor : Safitri