BACA JUGA : Sheila Dara Rasakan Jadi Manusia Bebas Selama Seminggu
Disabilitas daksa yang diembannya sejak lahir berada pada bagian tangan dan kaki. Meski demikian, Vian bukanlah orang yang mudah menyerah pada keadaan. Justru, lulusan IKIP Jember itu mempunyai semangat mengajar yang tinggi. Motivasinya sederhana, yakni ikut terlibat mencerdaskan kehidupan bangsa, melalui mengajar siswa yang masih duduk di bangku SLB tersebut.
Sejak lulus dari bangku kuliah pada tahun 2013, Vian sudah menyisir berbagai lembaga yang dapat menerimanya menjadi tenaga didik. Dia menyebut, beberapa kali mendapat perlakuan diskriminasi sosial dari orang lain, lantaran kondisinya yang tidak normal. Hal itu dianggapnya angin lalu, bahkan sama sekali tidak menggetarkan semangatnya. "Saya pernah daftar guru. Malah disuruh jadi tukang bersih-bersih. Ya, saya berhenti, cari pekerjaan lain," katanya.
Pada tahun 2017, Vian akhirnya diterima menjadi seorang guru di SLB Starkids yang berada di Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi. Awal mengajar, Vian mengaku mendapat bantuan dari tetangganya. Setiap hari, ada tetangganya yang menghantarkan Vian pergi mengajar. Bahkan juga menjemputnya saat pulang mengajar. "Karena saya tidak bisa naik motor, dulu diantarkan oleh tetangga saya. Tapi, sekarang dia sudah punya anak. Jadi, tidak bisa mengantarkan saya lagi," tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Vian merasa beruntung setelah ada mobil sekolah yang beroperasi setiap hari. Dia bisa ikut mobil sekolah bersama dengan siswanya. Namun, jarak dari pos penjemputan ke rumahnya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Vian pun menggunakan jasa ojek online setiap hari untuk mengantarkannya ke pos penjemputan siswa. "Titik kumpulnya di Kebonsari. Jadi, saya naik ojek dari rumah ke sana. Lalu, berangkat ke sekolah bersama siswa," terangnya.
Perjalanannya menjadi seorang guru dari siswa berkebutuhan khusus itu tidak semudah mengajar siswa pada umumnya. Vian menceritakan, siswa didikannya itu mayoritas autis, atau mempunyai gangguan dalam menyerap materi pembelajaran. Setiap materi harus diulang sampai beberapa kali. "Ini sebenarnya tantangan bagi seorang guru. Kesabarannya benar-benar diuji," tandasnya.
Di luar kesibukan menjadi seorang guru, Vian juga mempunyai kewajiban merawat ibunya di rumahnya. Hal itu kerap menjadi dilema bagi Vian. Sebab, dia harus menyeimbangkan waktu mengajar dan merawat ibunya yang sudah tua. "Kadang kalau ibu saya sakit, saya harus izin tidak masuk ke sekolah, karena menemani ibu saya," imbuhnya.
Perempuan berusia 40 tahun itu mengaku merasa enjoy saat mengajar. Bukan sekadar bekerja mencari uang, Vian menyebut, perjuangannya demi memenuhi hak pendidikan anak yang berkebutuhan khusus. "Jika dilihat dari gaji, gak nyampek separuhnya UMR Jember. Sangat kecil sekali. Jadi, saya ikhlas demi anak didik," jelas perempuan yang belum berkeluarga tersebut.
Dari sosok Vian, tebersit harapan kepada pemerintah untuk menambahkan intensitas kepedulian kepada siswa dan guru yang berkebutuhan khusus. Hal itu Vian sampaikan bertepatan dengan Hari Guru Nasional. "Ya, di momen hari guru ini, saya berharap ada penambahan kepedulian pemerintah terhadap siswa dan guru yang berkebutuhan khusus. Terutama yang berkaitan dengan kesejahteraannya," pungkasnya. (c2/nur) Editor : Safitri