BACA JUGA : ODGJ Juga Wajib Punya KTP
Gang sempit yang lebarnya hanya dua meter itu menjadi lokasi jualan buku bekas oleh Mustaqim. Walau berada di perkampungan padat, siapa sangka kerap jadi jujukan para mahasiswa, guru, hingga dosen untuk mencari buku-buku referensi yang tentu harganya murah dan sulit didapat.
Kepada Jawa Pos Radar Jember, Mustaqim mengaku sudah berjualan sejak tahun 1963. Awal dia berjualan karena kebutuhan akan buku pada waktu itu sangat penting bagi semua kalangan. Bahkan, konsumen utamanya pada waktu itu adalah pelajar. “Dulu yang beli banyak pelajar,” ungkapnya.
Namun, seiring berjalannya waktu dengan berubahnya kurikulum dan berbagai kebijakan buku di sekolah, jual beli buku bekas mulai sepi. Di balik sepinya tersebut, kata dia, siapa sangka masih ada mahasiswa yang membutuhkan buku bekas. “Sekarang pelanggan paling banyak dari mahasiswa. Terkadang juga dosen dan guru,” paparnya.
Buku koleksinya lebih variatif daripada dulu. “Kalau dulu lebih banyak buku pelajaran anak sekolah. Sekarang banyak macamnya. Ada kamus, majalah, hingga buku teori pertanian, hukum, ekonomi, hingga kedokteran,” katanya. (mg3/c2/dwi) Editor : Safitri