Radar Jember - Pemerintah daerah mulai ancang-ancang melakukan lompatan besar dalam urusan tata kelola ekonomi daerah melalui optimalisasi keberadaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Hal itu dikemukakan langsung oleh Bupati Jember Muhammad Fawait.
Gus Fawait mengaku tengah mewacanakan pembentukan BUMD Pangan untuk memperkuat struktur ekonomi lokal sekaligus mendukung program strategis nasional.
Serta bersinergi dengan dua BUMD yang sudah eksis, yakni Perumda Perkebunan Kahyangan dan Perumdam Tirta Pandalungan (PDAM Jember).
Ia mengutarakan, salah satu urgensi utama pendirian BUMD Pangan ini adalah untuk mengawal kesuksesan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas pemerintah pusat.
Bupati melihat potensi ekonomi yang luar biasa besar di balik program ini, khususnya bagi masyarakat Jember.
"Dari kacamata Pemkab, MBG ini adalah program yang potensial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Jember. Kurang lebih ada Rp 4 triliun dana MBG yang akan menyumbang perputaran keuangan di daerah kita," katanya, saat ditemui belum lama ini.
Baca Juga: Target Zero Kemiskinan! Gus Fawait Siapkan Strategi Khusus Berdayakan Warga Pelosok Hutan Jember!
Diperkirakan, BUMD Pangan ini akan bertransformasi menjadi entitas yang lebih luas cakupannya.
Tidak hanya mengurusi produk perkebunan semata, tapi menjadi pengatur lalu lintas stok bahan pangan untuk memastikan seluruh kebutuhan program MBG di Jember terserap dari potensi lokal.
"Makanya nanti tinggal kita rumuskan, kalau sudah siap semua, PDP (Kahyangan) akan kita dilebarkan menjadi BUMD Pangan," jelas dia.
Gus Fawait meyakini, upaya ini bukan soal bisnis, tapi upaya mitigasi agar perputaran dana triliunan rupiah tersebut tidak lari ke luar daerah.
Dengan dikelolanya rantai pasok pangan oleh BUMD, ia optimis akan tercipta efek domino yang positif bagi kesejahteraan warga.
"Harapan kami, Rp 4 triliun berputar di Jember, pertumbuhan ekonomi naik, lapangan pekerjaan akan terbuka, pengangguran akan turun, dan kemiskinan bisa ditekan," pungkas mantan anggota DPRD Jawa Timur itu. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh