Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Senyum Tiyo Menghadapi Dua Orang Tua yang Masih Lapar Kekuasaan

M. Ainul Budi • Senin, 15 Juni 2026 | 07:06 WIB
Senyum Tyo Menghadapi Dua Orang Tua yang Masih Lapar Kekuasaan
Senyum Tyo Menghadapi Dua Orang Tua yang Masih Lapar Kekuasaan

RADAR JEMBER - Akhir-akhir ini nama Tiyo Ardianto bikin sebagian elite politik seperti mendengar alarm kebakaran berbunyi di dalam kamar tidur. Mantan Ketua BEM KM UGM periode 2025-2026 ini kalau bicara membuat dua politisi gaek, udah tua seperti kebakaran jenggot. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Tiyo Ardianto ini cuma anak muda yang ngomong. Tidak membawa tank. Tidak membawa pasukan. Tidak membobol APBN. Tidak pula ketahuan mengemplang uang rakyat. Senjatanya cuma satu, mulut yang masih berfungsi normal dan keberanian yang belum dijual ke pasar Pramuka.

Yang lucu, ketika korupsi bermunculan seperti jamur setelah hujan nuklir, sebagian orang terlihat biasa-biasa saja. Ada kasus di BGN. Ada kasus di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Ada persoalan di bea cukai. Belum lagi berbagai skandal lain yang membuat rakyat seperti sedang menonton serial "Maling Uang Negara" musim ke-78. Setiap bulan muncul episode baru, pemain baru, modus baru, tetapi korban tetap sama, rakyat.

Wakil rakyat pun kadang menunjukkan bakat luar biasa. Saat mahasiswa berteriak dari pagi sampai malam, sebagian justru terlihat lebih akrab dengan kursi empuk dari aspirasi publik. Mahasiswa kepanasan di jalan. Mereka kedinginan di ruangan ber-AC. Mahasiswa berteriak sampai suara serak. Mereka kadang tertidur dengan kualitas tidur yang membuat bayi iri.

Nah, di tengah kondisi seperti itu, muncul Tyo. Anak muda asal Kudus, Jawa Tengah, lahir 26 April, mahasiswa S1 Filsafat UGM angkatan 2021. Bukan anak dinasti politik. Bukan anak konglomerat. Bahkan jalannya menuju UGM tidak melalui SMA formal, melainkan lewat Paket C dari PKBM Omah Dongeng Marwah. Dari jalur yang sering diremehkan, ia justru berhasil menembus UGM dan memimpin organisasi mahasiswa paling bergengsi di kampus tersebut.

Lalu dia mulai bersuara keras. Mengkritik Program MBG yang dianggapnya ugal-ugalan. Mengkritik berbagai kebijakan pemerintah. Mengkritik penangkapan aktivis. Mengkritik banyak hal yang menurutnya tidak beres. Gaya bicaranya kasar, ceplas-ceplos, kadang meledak-ledak seperti petasan tahun baru yang dilempar ke gudang kembang api.

Di sinilah drama dimulai. Adhyaksa Dault, mantan Menpora, mengaku sangat geram. Berkali-kali beristigfar saat mendengar ucapan Tyo. Menurutnya, ucapan Tyo bukan lagi kritik, melainkan penghinaan terhadap Presiden Prabowo. Respons beliau viral setelah dibagikan Hotman Paris di Instagram.

Sementara itu Idrus Marham, Wakil Ketua Umum Golkar sekaligus mantan Menteri Sosial, residivis korupsi, juga ikut menyentil keras. Ia menyebut bahasa Tyo tidak pantas dan bukan contoh yang baik bagi generasi muda. Bahkan ia mempertanyakan, bayangkan kalau orang seperti Tyo menjadi pemimpin, negeri ini akan jadi apa.

Pertanyaannya justru bisa dibalik. Nuan bayangkan kalau tidak ada anak muda yang berani mengkritik. Bayangkan kalau semua mahasiswa berubah menjadi patung taman yang tugasnya hanya mengangguk. Bayangkan kalau generasi muda melihat korupsi di mana-mana lalu memilih diam. Mau jadi apa negeri ini?

Maaf saja Pak, tapi sudahlah. Kalian sudah tua. Serius. Saatnya menikmati masa pensiun dengan damai. Nimang cucu. Menyiram cabai di belakang rumah. Memelihara ikan lele. Mengawasi pohon mangga yang mulai berbuah. Atau berburu resep obat asam urat di grup WA keluarga. Jangan sampai sisa energi masa tua habis hanya untuk tersinggung oleh mahasiswa.

Ini zamannya anak muda seperti Tyo. Mereka yang nanti akan hidup paling lama dengan akibat dari setiap kebijakan hari ini. Mereka yang akan mewarisi utang, mewarisi masalah, mewarisi kerusakan, sekaligus dipaksa memperbaiki semuanya. Jadi wajar kalau mereka marah.

Yang aneh justru sebaliknya. Negeri dipenuhi berita korupsi, tetapi yang membuat sebagian orang paling geram malah mahasiswa yang bicara keras. Uang rakyat hilang miliaran bahkan triliunan, responsnya kadang santai seperti sedang membahas cuaca. Begitu ada anak muda melontarkan kritik pedas, reaksinya seperti kiamat tinggal dua jam lagi.

Banyak anak muda membela Tyo bukan karena mereka setuju dengan semua kata-katanya. Mereka juga tahu kritik bisa diperdebatkan. Tetapi mereka melihat sesuatu yang semakin langka di republik ini, keberanian. Dalam negeri yang kadang lebih alergi terhadap kritik dari terhadap korupsi, keberanian memang sering dianggap penyakit. Sementara diam justru diperlakukan seperti prestasi. Itulah ironi terbesar yang sedang dipertontonkan di depan mata kita semua.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#adhyaksa dault #idrus marham #waketum golkar #tiyo ardianto #tiyo bem ugm