
KEPATIHAN, Radar Jember – Lonjakan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) kini menjadi realitas demografi yang tidak bisa dihindari di Kabupaten Jember. Data terbaru mencatat persentase populasi lansia di Bumi Pandalungan telah menembus angka 15,26 persen.
Struktur demografi ini menunjukkan pergeseran besar yang membutuhkan perhatian serius agar penuaan penduduk tidak sekadar dipandang sebagai beban daerah, melainkan potensi baru.
Kondisi tersebut memantik perhatian dari aktivis perempuan sekaligus Pendiri Komunitas Belajar Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek.
Menurutnya, pergeseran pola hubungan keluarga inti dan himpitan situasi ekonomi harian kerap menempatkan para lansia pada posisi yang sangat rentan. Banyak warga senior yang kehilangan sandaran finansial dan keterbatasan akses jaminan sosial di hari tua mereka.
Baca Juga: DILEMA! Penataan Kawasan Geladak Jember: Antara Isi Perut Pedagang dan Hak Pengguna Jalan
Fenomena di lapangan, tambahnya, memperlihatkan beban ganda yang cukup berat. Tidak sedikit lansia yang masih harus mengasuh cucu ketika anak-anak mereka bekerja. “Sementara akses terhadap kesejahteraan dan perlindungan sosial di lingkungan mereka masih sangat terbatas," ujarnya.
Melihat kenyataan tersebut, perempuan yang akrab disapa Ciciek ini menilai cara pandang atau pendekatan kelembagaan terhadap lansia harus segera diubah total.
Kebijakan yang bertumpu pada skema bantuan sosial karitatif atau pembagian sembako dinilai kurang adaptif untuk jangka panjang.
"Pendekatan terhadap lansia perlu bergeser dari sekadar bantuan sosial menuju pemberdayaan," tegasnya.
Sebab, para lansia sebetulnya menyimpan potensi besar yang bisa diaktualisasikan kembali untuk mendukung pembangunan karakter masyarakat di akar rumput. Interaksi sosial di ruang publik akan membuat mereka tetap aktif.




