Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Saat Dunia Dipenuhi Kesombongan, Semua Dipaksa Jadi Sama

M. Ainul Budi • Selasa, 26 Mei 2026 | 12:35 WIB
Saat Dunia Dipenuhi Kesombongan, Semua Dipaksa Jadi Sama
Saat Dunia Dipenuhi Kesombongan, Semua Dipaksa Jadi Sama

RADAR JEMBER - Rabu (27/5/2026), seluruh umat Islam akan merayakan Hari Raya Iduladha, atau Hari Raya Haji. Saya ingin me-refresh ingatan soal haji itu sendiri. Siapa tahu lebih mudeng lagi. Tulisan ini agak panjang, lebih asyik membacanya sambil seruput Koptagul, wak!

Haji itu ibadah yang membuat manusia rela menjual sawah, motor, emas, bahkan kadang kambing satu kampung demi satu kalimat sederhana, Labbaik Allahumma Labbaik. Panggilan suci. Panggilan yang membuat jutaan orang rela antre 20 sampai 30 tahun hanya untuk berdiri sebentar di Padang Arafah, menangis sambil mengenakan dua lembar kain putih. Ironisnya, di negeri yang kalau mau bikin konser dangdut izin bisa keluar cepat, urusan berangkat ke Tanah Suci malah kadang lebih rumit dari ngurus cinta restu calon mertua.

Baca Juga: Baru Dilantik Wakil Bupati, Dua Hari Kemudian 18 Kepsek Memilih Mundur

Padahal haji bukan barang baru. Ini bukan program kementerian. Bukan proyek lima tahunan. Bukan pula agenda pencitraan menjelang pemilu sambil pakai peci putih dan sorot kamera HD. Haji sudah dimulai sejak Nabi Ibrahim AS meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus Makkah. Di tempat yang kalau dijual developer sekarang mungkin tidak laku karena tidak ada waterpark, tidak ada kafe estetik, bahkan rumput saja ogah tumbuh. Tapi dari tempat gersang itu lahir Zamzam, lahir Ka’bah, lahir ritual yang kelak mengumpulkan manusia dari seluruh planet.

Hajar berlari tujuh kali antara Shafa dan Marwa demi mencari air. Hari ini, jutaan jamaah mengulanginya. Bedanya, Hajar dulu berlari karena anaknya haus. Sekarang sebagian orang lari karena takut tertinggal rombongan dan kehilangan sandal hotel bintang lima.

Lalu datang masa jahiliah. Kaum Quraisy mengubah Ka’bah jadi semacam pusat hiburan spiritual bercampur syirik. Berhala dijejerkan di sekitar Ka’bah. Orang thawaf telanjang. Kalau sekarang mungkin mirip orang yang suka bicara moral di televisi, tapi rekening bansosnya lebih aktif dari ambulans puskesmas.

Baca Juga: Mengungkap Rahasia Sukses Persib Bandung Meraih Hat-trick Juara

Ketika Nabi Muhammad SAW datang, beliau membersihkan semuanya. Tahun 9 Hijriah, Abu Bakar Ash-Shiddiq diutus menjadi amirul hajj. Di tengah perjalanan turun Surat At-Taubah. Ali bin Abi Thalib menyusul membawa pengumuman besar. Setelah itu orang musyrik tidak boleh lagi berhaji dan thawaf telanjang dilarang. Itu bukan cuma keputusan agama, tapi deklarasi politik dan peradaban. Haji berubah menjadi simbol tauhid yang bersih dari praktik jahiliah.

Lalu tibalah Haji Wada’ tahun 10 Hijriah. Rasulullah SAW memimpin lebih dari 100 ribu jamaah. Ente bayangkan, di zaman tanpa drone, tanpa pengeras suara digital, tanpa grup WA “Kloter Arafah Bersatu”, manusia sebanyak itu mengikuti setiap gerakan Nabi. Di Arafah, beliau menyampaikan khutbah monumental tentang persamaan manusia, penghapusan riba, hak perempuan, dan pentingnya berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah. Pesan yang sampai hari ini masih sering kalah viral dibanding video pejabat joget TikTok.

Setelah Rasulullah wafat, para Khulafaur Rasyidin melanjutkan tradisi haji. Tidak banyak perubahan ritual. Yang berubah justru wilayah Islam makin luas. Dari sini haji mulai menjadi pertemuan internasional umat Islam. Kalender Hijriah ditetapkan pada masa Umar bin Khattab untuk memastikan sistem waktu ibadah tetap teratur. Kalau hari ini kita tahu kapan Dzulhijjah tiba, itu karena ada manajemen sejak 14 abad lalu. Bukan karena notifikasi marketplace.

Masuk era Dinasti Umayyah, haji mulai bersentuhan dengan kemewahan kekuasaan. Infrastruktur dibangun. Jalan diperbaiki. Sumur digali. Pos keamanan dibuat. Jamaah dari Spanyol sampai India mulai berdatangan. Tapi di sisi lain, para elite mulai membawa iring-iringan mewah ketika berhaji. Haji mulai disentuh aroma gengsi. Sejak dulu rupanya sudah ada manusia yang ke Makkah lebih sibuk memamerkan rombongan dari memperbaiki hati.

Di era Abbasiyah, haji mencapai masa keemasan. Makkah bukan cuma pusat ibadah, tapi pusat ilmu pengetahuan dunia Islam. Ulama dari Andalusia, Persia, Afrika Utara, India, hingga Nusantara berkumpul. Mereka berdagang, berdiskusi, bertukar kitab, menyebarkan ilmu fiqih, tasawuf, astronomi, hingga filsafat. Haji menjadi internet terbesar dunia Islam sebelum Elon Musk lahir ribuan tahun kemudian.

Ibnu Jubair dan Ibnu Battuta menulis catatan perjalanan haji yang luar biasa detail. Mereka menggambarkan pasar, politik, budaya, bahkan kondisi sosial masyarakat. Ekonomi haji berkembang pesat. Sistem hawala muncul agar jamaah tidak perlu membawa uang tunai banyak. Karena sejak dulu maling juga paham ekonomi umat.

Kemudian datang Kesultanan Utsmaniyah. Nah, di sinilah birokrasi haji berubah menjadi mesin raksasa. Sejak 1517, Sultan Selim I menyebut dirinya Khadim al-Haramayn, pelayan dua kota suci. Gelarnya sederhana, tapi tanggung jawabnya bikin menteri modern bisa migrain tiga malam. Mereka membangun benteng di jalur haji, menggaji penjaga, menggali sumur, bahkan memberi upeti kepada suku Badui agar karavan aman. Anggaran haji mencapai 300 ribu sampai 385 ribu keping emas setiap tahun. Fantastis. Menariknya, saat perang melawan Habsburg, anggaran haji tidak dipotong. Hari ini jangankan perang, harga cabai naik saja kadang program rakyat langsung disunat.

Karavan besar berangkat dari Damaskus dan Kairo membawa mahmal serta kiswah Ka’bah baru. Itu bukan sekadar perjalanan ibadah, tapi simbol legitimasi politik. Penguasa tahu, melayani jamaah berarti menjaga kehormatan dunia Islam. Sekarang? Kadang ada yang lebih sibuk menjaga citra survei elektabilitas dari menjaga antrean toilet jamaah lansia.

Perempuan Utsmaniyah juga punya peran besar. Khurrem Sultan dan Mihrimah Sultan membangun wakaf untuk pipa air, masjid, dan layanan jamaah. Bahkan tercatat tahun 1573 ada 42 budak perempuan Arab yang ditugaskan membersihkan saluran air Makkah. Mereka bekerja diam-diam, tanpa konferensi pers, tanpa baliho wajah tersenyum ukuran tiga meter.

Masuk era kolonial, Belanda mulai takut kepada jamaah haji Nusantara. Mereka sadar, orang yang pulang dari Makkah sering membawa semangat perlawanan. Maka lahirlah Ordonansi Haji 1922. Jamaah harus lewat jalur resmi dan diawasi ketat. Kolonial takut Makkah menjadi universitas kemerdekaan. Ternyata mereka benar. Banyak tokoh pergerakan Indonesia memang ditempa oleh pengalaman intelektual di Tanah Suci.

Transportasi kemudian berubah drastis. Dari kapal layar berbulan-bulan menjadi kapal uap, lalu pesawat terbang. Dulu orang berangkat haji seperti ekspedisi menuju planet lain. Hari ini Jakarta–Jeddah bisa ditempuh hitungan jam. Tapi anehnya, drama koper hilang tetap lestari. Tradisi memang sulit dihapus.

Indonesia sendiri punya sejarah panjang soal pengelolaan haji. Setelah kemerdekaan, Kementerian Agama mengurus semuanya dengan segala keterbatasan negara muda. Era Orde Baru membawa modernisasi dan sentralisasi. Sistem kuota diterapkan. Garuda dilibatkan. Tapi muncul pula antrean panjang dan kritik soal transparansi dana haji. Di beberapa provinsi, orang harus menunggu 20–30 tahun. Ada yang daftar ketika rambut hitam, berangkat saat cucunya sudah kuliah.

Lalu pada 26 Agustus 2025, DPR RI mengesahkan Undang-Undang baru yang membentuk Kementerian Haji dan Umrah tersendiri. Sebuah pengakuan, haji sekarang bukan sekadar urusan ibadah, tapi operasi logistik raksasa. Arab Saudi sendiri membangun kereta cepat Masyair, memperluas Masjidil Haram, membuat aplikasi Nusuk, dan sistem digital supercanggih. Haji kini dikelola dengan teknologi abad 21.

Namun di balik semua kecanggihan itu, inti haji tetap sama. Semua manusia memakai kain putih yang mirip kafan. Tidak ada pangkat. Tidak ada jabatan. Tidak ada sirene pengawalan. Tidak ada kursi empuk parlemen. Semua sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaan.

Itulah mengapa haji sebenarnya tamparan terbesar bagi kesombongan manusia. Di Arafah, miliarder berdiri di sebelah petani. Menteri berdiri di sebelah tukang ojek. Semua berkeringat, semua berdoa, semua menangis. Tidak ada buzzer. Tidak ada pencitraan. Bahkan sinyal pun kadang hilang.

Mungkin di situlah pelajaran terbesar haji bagi dunia modern. Manusia terlalu sibuk membangun kekuasaan, padahal ujungnya cuma dibalut dua kain putih. Manusia terlalu sibuk berebut kursi, padahal nanti semua akan berdiri bersama di Padang Mahsyar tanpa ajudan, tanpa protokol, tanpa baliho senyum penuh janji.

Haji telah melewati lebih dari 14 abad. Dari Nabi Ibrahim, Rasulullah, Abbasiyah, Utsmaniyah, kolonialisme, hingga era aplikasi digital. Zaman berubah. Teknologi berubah. Penguasa berganti. Tapi panggilan itu tetap sama, Labbaik Allahumma Labbaik. Sebuah panggilan yang membuat jutaan manusia rela menunggu puluhan tahun demi satu perjalanan suci menuju Tuhan.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#kapan hari raya idul adha #hari idul adha #Idul Adha #Hari Raya Kurban