RADAR JEMBER - Siang tadi, tiba-tiba ponsel saya bergetar. Bukan getaran cinta lama kembali, tapi getaran yang jauh lebih mengagetkan, pesan dari Mushar.
Ya, Mushar. Kawan lama satu dapur di dunia pers. Dulu, dia layouter, manusia sakti bisa menyulap berita berantakan jadi rapi bak barisan upacara. Sementara saya, redaktur pelaksana, yang tiap hari berperang dengan kalimat ngambang, judul absurd, dan wartawan yang menganggap tanda koma itu opsional.
Sejak kami berpisah jalan, dia tetap di dunia koran, saya entah sudah berkelana ke berapa dimensi literasi. Kami nyaris tak pernah bertemu. Tiba-tiba hari ini, ia muncul. Seperti tokoh lama di sinetron yang datang di episode 300 membawa plot twist.
“Bang, kite ketemu jak,” pesannya singkat, padat, dan sedikit misterius.
Saya pun datang ke sebuah kafe yang dijanjikan. Kafe di Jalan Suprapto, jalan yang biasa saya lewati saat ke kampus.
Saya datang duluan, ia belakangan. Saat ketemu, wajahnya serius. Terlalu serius untuk sekadar ngajak nostalgia. Saya langsung curiga, ini pasti bukan sekadar ngajak pajoh pisang goreng.
Benar saja. Ia membuka percakapan dengan kalimat yang hampir membuat koptagul saya tersedak ke dimensi lain.
“Saya nak abang jadi narasumber pelatihan nulis untuk kader partai.” (Maaf nama partainya tak saya sebut ya, kecuali Partai Koptagul, ups)
Saya diam. Bukan karena tak dengar. Tapi karena otak saya sedang loading seperti komputer tahun 2003.
Kader partai… pelatihan… menulis?
Ini seperti mendengar kabar, harimau mulai diet vegetarian.
“Berapa orang?” tanya saya, masih setengah tidak percaya.
“Sekitar 50-an,” jawabnya santai, seolah itu hal biasa. Padahal di kepala saya, 50 kader partai duduk serius belajar menulis itu sudah seperti adegan film fiksi ilmiah.
Lalu ia menambahkan, dengan nada penuh keyakinan yang hampir mistis, “Kami ingin mereka jago nulis, kayak abang.”
Nah, ini sudah bukan lagi hiperbola. Ini sudah masuk kategori doa yang terlalu optimistis.
Tapi saya tahan tawa. Saya ganti dengan anggukan bijak, seperti guru silat yang baru diminta melatih murid dari planet lain.
Alasan Mushar? Ini yang menarik. Katanya, sekarang media sosial sudah berubah. Dulu video merajalela. Semua orang berlomba jadi aktor dadakan, nangis di depan kamera, marah-marah tanpa sebab, joget tanpa ritme. Tapi sekarang? Teks mulai naik tahta.
Tulisan-tulisan justru diburu. Akun-akun berbasis teks tumbuh seperti kangkung disiram pupuk algoritma.
Saya tersenyum. Dalam hati saya berkata, “Akhirnya… tulisan tidak lagi dianggap fosil.”
Mushar tampaknya benar-benar serius. Ia melihat peluang. Ia ingin kader partainya tidak hanya bisa teriak di panggung, tapi juga bisa merangkai kalimat tanpa membuat pembaca ingin uninstall kehidupan.
Di titik ini, saya mulai kagum.
Nuan bayangkan, di tengah dunia politik sering lebih ramai oleh slogan dari substansi, tiba-tiba ada keinginan untuk belajar menulis. Menulis, yang berarti berpikir. Berpikir, yang berarti, ini berbahaya, menggunakan otak secara aktif.
Saya pun mulai menjelaskan sedikit. Penikmat teks itu bukan kaleng-kaleng. Mereka adalah manusia yang sanggup membaca tanpa perlu backsound sedih. Mereka tahan terhadap clickbait murahan. Mereka kebal terhadap hoaks yang terlalu bodoh.
Mereka ini, kalau dalam bahasa Pontianak, bukan orang yang gampang “kena goreng”.
Mushar mengangguk-angguk. Mungkin dalam bayangannya, 50 kader itu nanti akan berubah menjadi pasukan penulis. Bukan lagi menyebar janji, tapi menyebar gagasan. Bukan lagi membuat status “kami peduli rakyat”, tapi menjelaskan bagaimana cara peduli itu diwujudkan.
Ah, indah sekali bayangan itu. Terlalu indah, bahkan sampai terdengar seperti trailer film utopia.
Namun, saya tetap realistis. Saya tahu, jalan menuju literasi itu tidak semulus caption motivasi. Menulis itu menyakitkan. Ia memaksa kita jujur, atau setidaknya memaksa kita berpura-pura jujur dengan lebih rapi.
Kader partai, seperti kita tahu, sering kali lebih terlatih untuk berbicara cepat dari berpikir dalam. Tapi justru di situlah letak keindahannya.
Jika mereka benar-benar belajar menulis, mereka akan belajar menyusun logika. Jika mereka menyusun logika, mereka akan mulai menyadari lubang-lubang dalam argumen mereka sendiri. Jika itu terjadi… wah, ini bisa jadi revolusi diam-diam.
Revolusi tanpa demo. Tanpa spanduk. Tanpa teriak-teriak. Cukup dengan paragraf yang jujur.
Kami pun sepakat. Pelatihan akan digelar hari Sabtu, 9 Mei, di sekretariat partai mereka. Sekretariat partai yang megah dan elit.
Saya membayangkan hari itu. Lima puluh kader duduk, sebagian mungkin masih menganggap “literasi” itu nama program pemerintah. Lalu perlahan mereka diperkenalkan pada dunia kalimat, makna, dan tanggung jawab kata.
Mungkin akan ada yang pusing. Mungkin ada yang diam-diam googling “cara cepat jadi penulis dalam 5 menit”. Tapi saya yakin, akan ada satu-dua orang yang tersentuh. Yang tiba-tiba sadar, menulis bukan sekadar mengetik, tapi berpikir dengan tertib.
Dari satu-dua orang itu, perubahan bisa dimulai.
Semoga Mushar tidak sendirian. Semoga kader-kader di partai lain juga mulai “tersadar” meski tersadarnya agak telat, seperti bangun kesiangan saat ujian.
Karena kalau partai sudah mulai serius dengan literasi, mungkin, ini mungkin besar sekali, politik kita tidak lagi sekadar panggung sandiwara, tapi mulai mendekati diskusi waras. Kalau itu benar-benar terjadi…Kita semua mungkin perlu duduk sebentar. Bukan karena lelah. Tapi karena tidak percaya.
"Partai Koptagul kan fiksi, Bang. Tapi, sudah berikan bukti."
"Fiksi ilmiah, wak. Habis pelatihan nanti saya ajak ente ngopi ya." Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Editor : M. Ainul Budi