Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kacau, Lapangan Desa Digali untuk KDMP, Ratusan Warga Protes

M. Ainul Budi • 2026-03-30 10:13:21
Kacau, Lapangan Desa Digali untuk KDMP, Ratusan Warga Protes
Kacau, Lapangan Desa Digali untuk KDMP, Ratusan Warga Protes

RADAR JEMBER - Ini sudah di luar nurul. Kades ditekan, tak berdaya. Lapangan desa dilubangi untuk fondasi KDMP. Warga marah dan lakukan protes keras. Gimana kisahnya? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di Desa Sukobubuk, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, meletuslah pemberontakan epik ala rakyat kecil. Tak mau diam ketika ruang hidupnya dirampas dengan cara paling konyol. Jumat 27 Maret 2026, seratusan warga turun ke lapangan desa mereka yang selama ini jadi jantung kehidupan. 

Lapangan itu bukan sembarang tanah kosong, melainkan arena sakral tempat anak-anak sekolah berlarian mengejar bola, tempat bendera Merah Putih dikibarkan penuh semangat setiap 17 Agustus, tempat sedekah bumi digelar meriah, acara keagamaan, dan segala kegiatan sosial yang membuat desa tetap bernyawa. Tapi tiba-tiba, tanah Hak Guna Pakai milik Perhutani seluas 20x20 meter itu mau disulap jadi gedung Gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Baca Juga: Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Yang bikin darah mendidih adalah cara pembangunannya. PT Agrinas, sang pelaksana proyek, datang bagai pasukan penakluk tanpa permisi. Alat berat menderu, dan dalam sekejap, lapangan hijau yang indah itu berubah jadi pemandangan mengerikan. Lubang-lubang cakar ayam menganga lebar seperti luka menganga di tubuh desa. 

Lubang-lubang itu bukan galian biasa, melainkan monster-monster beton yang siap menelan ruang publik. Dalam-dalam, tajam, dan acak-acakan, seolah-olah ada raksasa yang menggigit tanah dengan rakus, meninggalkan bekas luka yang siap jadi pondasi gedung 20x20 meter. Nuan bayangkan! Anak-anak yang biasa main bola kini harus hati-hati menghindari jurang-jurang kecil itu. Sementara acara desa terancam musnah diganti tembok dingin.

Warga tak tinggal diam. Mereka membentangkan spanduk raksasa bertuliskan “Di lapangan Sukobubuk Tolak Pembangunan KDMP” sambil meneriakkan yel-yel penuh amarah, “Kami menolak pembangunan KDMP di sini karena lapangan ini bermanfaat untuk anak sekolah dan masyarakat, untuk 17 Agustusan, sedekah bumi! Kami menolak!” 

Perwakilan warga seperti Sulistiono berapi-api menyatakan, ini bukan sekadar lapangan, melainkan satu-satunya ruang terbuka dimiliki desa. Kalau hilang, ke mana anak-anak bermain? Ke mana gotong royong dan kehangatan desa?

Dengan semangat revolusi damai, warga pun beraksi heroik. Secara gotong royong mereka menguruk kembali semua lubang mengerikan itu. Cangkul dan sekop beradu, tanah kembali menutup luka, mengembalikan lapangan ke wujud asalnya. Aksi ini seperti teriakan keras ke langit, “Jangan serobot fasilitas kami dengan alasan program nasional!”

Baca Juga: Membaca Pembangunan dengan Data, Bukan Sekedar Metafora

Kepala Desa Saman sendiri mengaku posisinya seperti sandwich terjepit. Ia terang-terangan bilang ini murni kesalahannya karena ingin mempercepat. Padahal, sudah menerima arahan dari Koramil Margorejo dan Dinas Koperasi. “Kami bekerja sesuai kapasitas dan arahan,” katanya sambil mengakui desa tak punya lahan alternatif. PT Agrinas sendiri langsung menggali tanpa sosialisasi memadai, seolah proyek ini boleh seenak jidat.

Lucu sekaligus tragis, ya? Program yang katanya untuk kesejahteraan desa malah bikin warga naik pitam. Padahal kalau benar-benar mau bantu ekonomi desa, kenapa tidak cari tanah kosong atau beli lahan baru pakai anggaran yang melimpah, dari pada memaksa di jantung desa yang sudah bermanfaat bertahun-tahun? Ini seperti orang mau parkir truk di tengah lapangan RT sambil bilang “ini perintah pusat, harus dukung!”

Aksi heroik warga Sukobubuk ini mengingatkan kita semua, jangan anggap remeh suara rakyat kecil. Mereka bukan menolak koperasi, tapi menolak cara serakah yang merampas ruang hidup sehari-hari. Kalau pihak atas masih memaksakan, ancaman aksi lebih besar sudah menggantung. 

Sukobubuk kini jadi simbol perlawanan, lapangan itu milik warga, bukan korban proyek yang tiba-tiba muncul di bulan Ramadan. Dukung perjuangan mereka yang mempertahankan hak atas ruang terbuka! Karena kalau lapangan Sukobubuk jatuh, besok desa lain bisa jadi korban berikutnya. Semangat, warga Sukobubuk, kalian adalah pahlawan desa sejati!

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#pati #merah putih #KDMP #Koperasi Desa