
Membaca Pembangunan dengan Data, Bukan Sekedar Metafora
Oleh : Moch. Efril Kasiono (Pegiat Desa di Kab. Bondowoso)
Tulisan “Republik Cendol: Gincu di Layar, Debu di Jalanan” tampak meyakinkan karena ia menyajikan realitas dalam bentuk yang sederhana. Pemerintah sibuk membangun citra, rakyat tetap hidup dalam keterbatasan. Namun justru karena kesederhanaannya, narasi itu problematik.
Tidak sepenuhnya salah, tetapi jelas tidak cukup benar. Masalahnya bukan pada kritiknya, melainkan pada cara ia menyimpulkan realitas.
Ketika jalan berdebu langsung dimaknai sebagai bukti kegagalan, dan aktivitas komunikasi pemerintah dianggap sekadar “gincu”, maka kita sedang menyaksikan reduksi besar-besaran atas persoalan pembangunan yang kompleks.
Mari kita mulai dari fakta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, tingkat kemiskinan di Kabupaten Bondowoso masih berada di kisaran 12–13 persen dalam beberapa tahun terakhir lebih tinggi dari rata-rata provinsi yang berada di bawah 10 persen. Sementara itu, Kabupaten Jember berada di kisaran 9–10 persen, dengan jumlah penduduk miskin yang masih signifikan secara absolut.
Di sisi lain, prevalensi stunting di wilayah tapal kuda juga masih menjadi tantangan serius. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan bahwa beberapa kabupaten di wilayah ini sempat berada di atas rata-rata nasional dalam beberapa periode.
Apakah semua ini bisa disederhanakan menjadi “pemerintah lebih sibuk berdandan di media sosial”?
Tentu tidak. Sebagaimana dijelaskan oleh Mudrajad Kuncoro, ketimpangan pembangunan di Indonesia bersifat struktural dan dipengaruhi oleh konsentrasi ekonomi serta keterbatasan infrastruktur historis (Kuncoro, 2013). Artinya, kondisi hari ini adalah hasil akumulasi panjang, bukan sekadar produk dari satu periode pemerintahan.
Jalan Rusak Itu Nyata, Tapi Ada Angka di Baliknya




