Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pembungkaman Dimulai, Aktivis KontraS Disiram Air Keras

M. Ainul Budi • 2026-03-13 16:24:55

Pembungkaman Dimulai, Aktivis KontraS Disiram Air Keras
Pembungkaman Dimulai, Aktivis KontraS Disiram Air Keras

RADAR JEMBER - Duh, ngeri ya. Ngomong keras soal kebenaran memang berat. Nyawa taruhannya. Seperti aktivis KontraS ini, disiram dengan air keras oleh orang tak dikenal. Muncul asumsi, upaya pembungkaman dimulai. Simak narasinya sambil imagine seruput Koptagul, wak!

Malam Jakarta kadang tenang seperti kopi pahit yang baru diseduh. Pekat, sunyi, dan seolah tidak punya rencana jahat. Tapi Kamis malam, 12 Maret 2026, pukul 23:37 WIB di Jalan Talang, Jakarta Pusat, malam memutuskan berubah jadi skenario film horor politik kelas premium. Korbannya bukan tokoh mafia, bukan bandar narkoba, tapi seorang aktivis HAM bernama Andrie Yunus, Wakil Koordinator Bidang Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan alias KontraS.

Ceritanya sederhana tapi ngeri. Andrie baru saja selesai merekam podcast di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia tentang dua topik yang selalu bikin telinga kekuasaan mendadak gatal, remiliterisme dan judicial review. Setelah selesai, ia pulang sendirian naik motor. Tidak ada pengawalan. Tidak ada drama. Hanya seorang aktivis dengan helm dan idealisme.

Lalu datanglah dua orang misterius di atas motor. Model klasik. Satu nyetir, satu jadi operator. Tanpa basa-basi, cairan korosif yang oleh dunia kriminal kita kenal dengan istilah “air keras” langsung disiram ke tubuh Andrie.

Sekejap saja neraka turun ke aspal.

Andrie menjerit kesakitan. Motor jatuh. Tubuhnya melepuh seperti lilin yang terlalu lama didekatkan ke api neraka. Dokter kemudian mencatat angka yang dingin dan kejam, 24 persen tubuhnya terbakar. Bagian yang terdampak bukan sembarang tempat, tangan kanan dan kiri, wajah, dada, bahkan mata yang kini terancam kehilangan penglihatan.

Kalau ini hanya kecelakaan, mungkin nasib buruk. Kalau dendam pribadi, mungkin drama manusia. Tapi konteksnya terlalu terang benderang untuk disebut kebetulan. Ini lebih mirip pesan. Pesan yang ditulis dengan cairan kimia.

Siapa sebenarnya Andrie Yunus?

Ia bukan tokoh viral TikTok yang mendadak jadi aktivis setelah trending. Ia lulusan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera tahun 2020 dengan beasiswa penuh. Ia pernah menjadi advokat di LBH Jakarta. Sejak 2022 aktif di KontraS dan pada Februari 2025 naik menjadi Wakil Koordinator Bidang Eksternal.

Nama Andrie mulai sering bikin pejabat menghela napas panjang sejak Maret 2025. Waktu itu ia melakukan aksi yang bisa dibilang nekat, menerobos rapat tertutup pembahasan revisi Undang-Undang TNI di Hotel Fairmont Jakarta. Ia memprotes pemborosan dan ketidaktransparanan rapat elite yang berlangsung di balik pintu hotel mewah.

Setelah kejadian itu, hidupnya berubah seperti karakter film yang baru sadar sedang dibuntuti antagonis.

Orang tak dikenal mulai datang ke kantor. Telepon misterius berbunyi tengah malam. Motor bayangan mengikuti perjalanan. Semua itu seperti trailer. Pemanasan.

Puncaknya terjadi malam 12 Maret 2026. Trailer selesai. Film horor dimulai.

KontraS langsung menduga ini upaya sistematis untuk membungkam pembela HAM, terutama karena Andrie vokal menolak remiliterisasi dan revisi UU yang berpotensi membawa militer kembali masuk ke ranah sipil.

Jika kita membuka album sejarah kekerasan politik Indonesia, adegannya terasa familiar. Kita pernah melihat film yang hampir sama.

Korban waktu itu bernama Novel Baswedan. Penyidik KPK yang pada tahun 2017 juga disiram air keras. Mata kirinya rusak permanen. Pelakunya dua polisi. Vonisnya ringan. Motif utamanya tetap seperti hantu, selalu disebut tapi tak pernah benar-benar terlihat.

Sembilan tahun berlalu, resep yang sama muncul lagi. Motor malam-malam. Cairan neraka. Korban yang kebetulan terlalu vokal.

Apakah ini kebetulan? Atau memang sudah jadi SOP tak tertulis bagi mereka yang alergi kritik?

Data membuat suasana makin tidak lucu. Menurut laporan Amnesty International dan KontraS, tahun 2025 tercatat 283 pembela HAM diserang. Dari jumlah itu 106 adalah jurnalis dan 74 aktivis masyarakat adat. Bentuk serangannya macam-macam, kriminalisasi, intimidasi, hingga percobaan pembunuhan.

Hanya pada paruh pertama 2025 saja sudah ada 30 kasus intimidasi fisik dengan 38 korban. Dalam banyak kasus, aparat justru disebut sebagai aktor utama.

Yang lebih ironis, lokasi favorit kekerasan itu sering berada di pusat republik, Jakarta, kota yang setiap hari mengaku sebagai etalase demokrasi terbesar di Asia Tenggara.

Maka penyiraman air keras terhadap Andrie menjadi sesuatu yang simboliknya sangat kuat. Bukan sekadar serangan fisik. Ini seperti eksekusi pesan, “Kalau terlalu keras bicara, kulitmu yang akan dilelehkan.”

Nuan bayangkan ironi yang hampir puitis tapi pahit. Dulu Andrie berdiri gagah saat wisuda di Jentera dengan toga hitam, mengepalkan tinju, percaya hukum bisa melindungi yang lemah. Kini ia terbaring di rumah sakit dengan tubuh hangus 24 persen dan mata yang mungkin tak lagi melihat keadilan yang ia perjuangkan.

Sementara itu polisi mengatakan kalimat paling klasik dalam sejarah republik, “sedang menyelidiki.”

Kalimat itu sudah seperti mantra birokrasi. Ia muncul setiap kali ada tragedi besar. Kadang hilang setelah berita berhenti trending.

Sejarah menunjukkan kita pernah mendengar kalimat yang sama dalam banyak kasus. Banyak yang akhirnya berhenti sebagai berkas di lemari arsip.

Di tengah semua ini, suara kritik tentang revisi UU TNI, judicial review, dan pelanggaran HAM berat masih terus menggema, meski sekarang sedikit lebih lirih, karena sebagian orang mulai melihat bahwa di negeri ini, keberanian kadang dibayar mahal.

Sangat mahal.

Cairan yang menyiram tubuh Andrie bukan hanya asam kimia. Ia seperti simbol dingin tentang kondisi demokrasi kita. Demokrasi yang di pidato terlihat gagah, tapi di jalanan kadang masih takut pada satu orang yang memegang mikrofon podcast.

Pertanyaan terakhirnya sederhana, tapi menakutkan, jika satu Andrie Yunus bisa disiram, berapa banyak Andrie lain yang sedang menunggu giliran dalam antrian sejarah yang sama?

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#lembaga bantuan hukum #air keras #lbh #aktivis #aktivis ham #kontras #hotel fairmont #Advokat #novel baswedan #jakarta pusat #KPK