Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dari Mana Asal Muasal Tradisi Maaf-memaafkan di Hari Raya Idulftri

M. Ainul Budi
Penulis: M. Ainul Budi❯
Dari Mana Asal Muasal Tradisi Maaf-memaafkan di Hari Raya Idulftri
Dari Mana Asal Muasal Tradisi Maaf-memaafkan di Hari Raya Idulftri

Advertisement

RADAR JEMBER - Ramadan pamit dengan elegan, 1 Syawal datang dengan gegap gempita. Tiba-tiba satu negara berubah jadi kementerian permintaan maaf dadakan. Grup WA yang biasanya isinya link Tiktok, hoaks perang, dan debat politik level, mendadak jadi taman bunga penuh kalimat “mohon maaf lahir dan batin”. Foto profil pun naik kasta, dari selfie buram di warung kopi berubah jadi pose paling ganteng dan paling cantik, seolah-olah dosa bisa dihapus pakai filter dan pencahayaan golden hour.

Kita mulai lagi seruput Koptagul, setelah sebulan kita hanya imagine. Nikmati narasinya, dan siap-siap untuk mohon maaf lahir dan batin.

Kembali ke soal tradisi maaf-memaafkan. Lucunya, tradisi ini begitu masif sampai terasa seperti program nasional yang tidak pernah disahkan DPR. Tapi, lebih disiplin dari banyak kebijakan negara. Nuan bayangkan! Orang yang setahun penuh susah minta maaf ke tetangga karena parkir serong, tiba-tiba malam takbiran kirim flyer dengan wajah penuh senyum. Isinya puitis, menyentuh, dan tentu saja copy-paste. Yang penting kirim dulu, urusan tulus belakangan.

Lalu muncul pertanyaan klasik yang biasanya baru dipikirkan setelah jempol pegal kirim pesan massal, ini tradisi dari mana sih? Apakah dari ajaran Islam langsung, atau hasil kreativitas nenek moyang kita yang memang hobi meracik budaya seperti chef Michelin bintang lima?

Kalau ditarik ke belakang, Idulfitri sendiri sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Tepatnya tahun 2 Hijriyah setelah Perang Badar. Saat itu, umat Islam merayakan dua kemenangan sekaligus. Menang perang dan menang melawan hawa nafsu. Sebuah kombinasi epik. Habis berperang, lanjut silaturahmi. Dalam praktiknya, setelah salat Id, Nabi dan para sahabat saling mendoakan dan berbuat baik. Ada semangat memaafkan, iya. Namun, belum ada tuh yang kirim “Jika jemariku lebih cepat dari hatiku…” karena memang belum ada WA, apalagi paket data.

Advertisement

Masuk ke Nusantara, cerita jadi makin menarik. Para wali, terutama Wali Songo, tidak datang dengan pendekatan “pokoknya ikut saya atau selesai”. Mereka justru cerdas, mengawinkan ajaran Islam dengan budaya lokal. Lahirlah tradisi seperti sungkeman. Awalnya budaya Jawa, lalu diberi ruh Islam. Dari sini, minta maaf tidak hanya jadi urusan spiritual, tapi juga sosial dan budaya. Kalau sekarang ada yang bilang “ini bid’ah”, mungkin beliau lupa, nenek moyangnya dulu juga kreatif, bukan sekadar penonton.

Kemudian masuk ke era keraton. Pada abad ke-18, Mangkunegara I bikin gebrakan, sungkeman massal alias pisowanan. Semua bawahan kumpul, minta maaf serentak. Efisien, efektif, dan mungkin kalau zaman sekarang, sudah ada panitia, rundown, dan konsumsi. Tradisi ini lalu turun ke masyarakat luas. Dari istana ke kampung, dari raja ke rakyat, dari formal ke personal. Indonesia memang jago dalam satu hal, menyebarkan tradisi sampai ke level “kalau tidak ikut, rasanya berdosa secara sosial”.

Lalu lahirlah istilah sakti, halalbihalal. Ini bukan bahasa Arab murni, tapi hasil racikan lokal yang kemudian terasa sangat Islami. Sudah muncul sejak awal abad ke-20, bahkan sempat diiklankan di majalah. Coba bayangkan, zaman dulu saja sudah ada “halalbihalal jarak jauh”. Bedanya, mereka pakai media cetak, bukan status story dengan backsound lagu religi remix DJ.

Versi paling populer datang dari tahun 1948, saat kondisi politik Indonesia panas dingin. Para elite saling sindir, saling jegal, kurang lebih mirip timeline hari ini, hanya beda platform. Lalu KH. Abdul Wahab Hasbullah memberi ide brilian ke Soekarno, kumpulkan mereka dalam satu forum, suruh saling memaafkan, beri nama halalbihalal. Sederhana tapi jenius. Dosa politik diselesaikan dengan konsep spiritual. Kalau sekarang, mungkin tinggal tambah hashtag dan live streaming.

Di titik ini kita sadar, tradisi maaf-memaafkan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah hasil panjang sejarah, dari ajaran agama, akulturasi budaya, hingga kebutuhan politik. Ya, politik. Karena ternyata, sejak dulu, maaf itu juga alat rekonsiliasi. Bedanya, dulu dipakai untuk menyatukan bangsa, sekarang kadang dipakai untuk menyatukan citra.

Advertisement

Artikel Terkait

Tak Ada Indikasi Medis, DPRD Jember Minta Edukasi Risiko Sunat Perempuan Digencarkan

Tak Ada Indikasi Medis, DPRD Jember Minta Edukasi Risiko Sunat Perempuan Digencarkan

Komisi D DPRD Jember mendorong Dinkes dan fasilitas kesehatan mengedukasi masyarakat hingga tingkat desa mengenai risiko medis serta regulasi penghapusan sunat perempuan.

Tradisi Petik Laut di Pesisir Jember Iring-iringan Kapal di Puger, hingga Jolen Perahu Kayu di Payangan

Tradisi Petik Laut di Pesisir Jember Iring-iringan Kapal di Puger, hingga Jolen Perahu Kayu di Payangan

Pesisir Selatan Jember bukan saja bentangan alam. Di balik keindahannya, ada warisan budaya yang terus hidup dan dijaga oleh masyarakat. Salah satunya seperti budaya Petik Laut, ini.

TRADISI! Gunungan 6.000 Tempe di Lumajang Jadi Rebutan Warga

TRADISI! Gunungan 6.000 Tempe di Lumajang Jadi Rebutan Warga

Kemeriahan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah begitu terasa di Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko. Ratusan warga tumpah ruah di jalanan desa untuk mengikuti tradisi unik, Grebek Tempe Wedok. Sebuah tr

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer