
RADAR JEMBER - Sambil membayangkan seruput Koptagul ntar habis takbiran, saya ingin menuliskan sebuah refleksi. Gara-gara perang Iran vs Israel-AS, lalu muncul ide menuliskan narasi ini. Simak dengan saksama. Yang udah Idulfitri duluan, silakan ditemani Koptagul, wak!
Dalam Alquran, kiamat itu janji, bukan opsi. Dalam Alkitab, akhir zaman digambarkan penuh kekacauan. Dalam Bhagavad Gita, dunia adalah siklus penciptaan dan kehancuran. Dalam Tripitaka, semua tidak kekal. Artinya sederhana. Ini bukan cerita utopia, ini cerita countdown.
Masalahnya, manusia modern bukan cuma tahu ending. Mereka sekalian jadi arsitek percepatan ending itu (kiamat). Mari kita lihat datanya, bukan perasaan.
Dunia saat ini menyimpan lebih dari 12.000 hulu ledak nuklir. Amerika Serikat dan Rusia menguasai sekitar 90%. Satu hulu ledak modern bisa berkali-kali lipat lebih dahsyat dari bom Hiroshima dan Nagasaki. Ini bukan alat pertahanan lagi, ini tombol “reset peradaban” yang disimpan ramai-ramai sambil berharap tidak ada yang emosi.
Masuk ke energi. Konsumsi minyak dunia sudah menembus 100 juta barel per hari. Energi jadi urat nadi sekaligus sumber konflik. Kilang dibom, jalur laut diperebutkan, harga melonjak. Dunia seperti pasien ICU yang hidup dari selang energi, dan para dokter malah rebutan oksigen.
Sekarang kita masuk ke episode paling update, perang Iran vs Israel–Amerika Serikat. Ini bukan sekadar konflik regional. Ini seperti panggung demo teknologi kehancuran generasi terbaru.
Ribuan target militer dan infrastruktur diserang dalam hitungan minggu. Iran meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone ke puluhan titik strategis. Di sisi lain, Amerika Serikat mengerahkan A-10 Warthog, helikopter Apache, dan bom penghancur bunker berbobot beberapa ton untuk menghantam fasilitas bawah tanah dan armada laut. Lebih dari 100 kapal dan instalasi militer dihancurkan dalam operasi beruntun.
Israel bahkan menyerang fasilitas energi strategis Iran, termasuk ladang gas raksasa yang menyumbang sebagian besar produksinya. Efeknya langsung terasa. Gangguan pasokan, harga energi naik, dunia ikut tegang. Antre mengular pertalite sudah terjadi di mana-mana.
Ini bukan perang biasa. Ini seperti pameran hasil riset manusia paling jenius yang semuanya dirancang untuk menghancurkan. Lalu, kita? Masih sempat kagum. Kita bangga pada ilmuwan.
Kita bangga pada insinyur. Kita bangga pada inovator. Kita lihat jet tempur siluman, kita terpukau. Kita lihat rudal presisi, kita terkesima. Kita lihat AI militer, kita bilang, “Masa depan!”




