TULISAN ini dibuat sebagai catatan ringan terkait dengan pengelolaan pariwisata. Kebetulan pada akhir tahun kemarin saya ada acara keluarga di Banyuwangi. Sekalian menikmati pergantian tahun baru di kota yang berada di ujung timur Pulau Jawa. Saya mengambil arah memutar melalui Kabupaten Situbondo menuju Kabupaten Banyuwangi. Di sini saya menyempatkan mampir di Taman Nasional Baluran, lanjut Pantai Bangsring, dan keesokan harinya di Banyuwangi Park.
Saya tidak merencanakan secara khusus berlibur di Banyuwangi. Sekedar jalan saja, sehingga tempat menginap pun tidak booking terlebih dahulu. Niatnya hanya explore tempat rekreasi yang dekat dengan jalan Pantura. Memasuki sore hari (menjelang Magrib) saya keluar dari Bangsring Under Water. Saya sangat kaget ketika hampir semua hotel dan home stay yang kami singgahi sudah full booked. Beberapa hotel sudah menyiapkan acara untuk menyambut tahun baru. Di Bangsring kami ditawari menikmati pergantian tahun dengan menikmati ikan bakar gratis yang disediakan oleh komunitas pengelola Bangsring Under Water.
Saya mencoba googling di HP saya. Menggunakan aplikasi Google Trend, dengan memasukkan kata kunci “pariwisata”. Rentang waktu saya atur 7 (tujuh) hari terakhir, atau dari tanggal 31 Desember sampai dengan 7 Januari 2024. Kemudian saya memasukkan Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, dan Kabupaten Banyuwangi. Hasilnya sangat mengagetkan, Kabupaten Banyuwangi mendominasi dengan rata-rata 48. Disusul oleh Kabupaten Situbondo 20, Kabupaten Jember 13, dan Kabupaten Bondowoso 9.
Kondisi ini tentu mengkonfirmasi pengalaman saya selama dua hari menikmati wisata Banyuwangi. Betapa kabupaten ini betul-betul menggeser dominasi Kabupaten Jember. Ada banyak pesohor dan tokoh nasional yang pernah berlibur ke Banyuwangi dan memberikan testimoni yang menguntungkan kabupaten ini. Mereka yang pernah mengunjungi Banyuwangi, Dahlan Iskan, Luna Maya, BCL dan Yusuf Mansur. Baru-baru ini, Ayu Ting Ting mengajak keluarganya berlibur di Kabupaten Banyuwangi.
Senada dengan hal tersebut. BPS Kabupaten Jember merilis beberapa hasil survei internal mereka (Radar Jember, 11 Januari 2024). Salah satu temuan survei tersebut bahwa tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Kabupaten Jember rata-rata mengalami penurunan setiap bulannya. Perbandingan antara tahun 2023 dengan tahun 2022 dan 2021. Meski di Jember sudah diadakan berbagai event lokal, nasional, maupun internasional, hal itu tidak bisa meningkatkan TPK hotel di Kota Suwar-Suwir.
Dalam laman resmi BPS disebutkan bahwa TPK hotel setara bintang di Jember pada bulan Agustus 2023 mencapai 30.51 persen atau dengan kata lain dari tiap 100 kamar yang disediakan oleh seluruh hotel setara bintang di Jember hanya 30 persen yang telah terjual. Rata-rata lama menginap tamu (RLMT) hotel setara bintang di Jember bulan Agustus 2023 mencapai 1,11 hari, turun dibanding dengan bulan Juli 2023 yang mencapai 1,18. Pada bulan Agustus 2023 komposisi tamu pengunjung hotel setara bintang terdiri atas 99,04 persen tamu domestik dan 0,96 persen tamu asing.
Lebih jauh, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Jember Tegoeh Soeprajitno mengatakan: pada tahun 2023 waktu liburan seharusnya menjadi puncak keramaian hotel. Tetapi, pada tahun 2023 kemarin tidak begitu ramai. Hal itu karena Jember tak menjadi tempat tujuan utama orang-orang berwisata. Jember hanya dijadikan tempat lintasan saja.
Pertanyaan besarnya adalah, apakah Jember tidak memiliki magnet tempat wisata yang menarik. Tentu saja tidak. Jember memiliki semua potensi wisata. Apakah itu objek wisata alam, objek wisata buatan dan budaya. Jember memiliki Taman Nasional Meru Betiri, Watu Ulo, Bandealit, Puncak Rembangan, pemandian, wisata religi dan JFC.
Sayangnya memang Jember kalah inovasi dari Kabupaten Banyuwangi. Sehingga daya tarik pariwisata menjadi lebih kuat dibandingkan Kabupaten Jember dan sekitarnya. Menurut C. R. Goeldner and J. R. B. Ritchie mendefinisikan Pariwisata sebagai gabungan bentuk kegiatan, jasa, dan industri yang memberikan perjalanan pengalaman meliputi kuliner, akomodasi, transportasi, hiburan, fasilitas, aktivitas, dan layanan perhotelan lainnya untuk individu atau kelompok yang bepergian jauh dari rumah. Dengan konsep ini, mau tidak mau Kabupaten Jember dan sekitarnya harus mendefinisikan ulang konsep pariwisata didaerah masing-masing. Agar wisatawan berkenan mengunjungi daerahnya masing-masing.
Pengembangan bisnis pariwisata sangat berbeda dengan industri lainnya. Untuk sektor pariwisata, semakin banyak objek atau destinasi wisata di suatu daerah semakin baik, karena wisatawan memiliki banyak pilihan dan biaya (cost) yang dikeluarkan semakin murah. Itulah mengapa Banyuwangi, Batu, dan Bali terus mengembangkan banyak kawasan wisatanya.
Ada 3 aktor kunci untuk mensukseskan pariwisata. Pertama, Pemerintah, aktor ini penting untuk melahirkan ekosistem wisata yang andal. Pemerintah juga harus menyiapkan rencana induk pengembangan pariwisata daerah. Agar pembangunan pariwisata memiliki road map yang jelas. Termasuk belanja infrastruktur yang bertujuan untuk mendukung objek destinasi wisata. Kedua, masyarakat, tentu pengembangan pariwisata tanpa melibatkan masyarakat non sense bisa terwujud. Masyarakat memiliki andil besar untuk membuat wisatawan betah berlama lama di kawasan wisata. Pantai Bangsring dan Pulau Merah sepanjang pengamatan saya adalah contoh keberhasilan Banyuwangi membangun pariwisata dengan pendekatan partisipasi masyarakat.
Ketiga, investor atau pelaku bisnis, memiliki peran penting untuk mendukung penumbuhan wisata di suatu daerah. Di Banyuwangi hampir semua hotel dan rumah makan menyediakan peta wisata Banyuwangi. Bahkan Banyuwangi Park yang merupakan destinasi wisata dibawah naungan Jawa Timur Park Group mengusung tematik sejarah, budaya dan alam Banyuwangi dalam konsep pengembangan bisnisnya. Keterpaduan ketiga pihak inilah yang mendorong sektor wisata Banyuwangi menjadi menarik.
Bagaimana dengan Jember, Bondowoso dan Situbondo ke depannya. Menurut hemat saya perlu kerja sama antar daerah di tapal kuda tersebut. Dengan melakukan sinergi Pembangunan Kawasan wisata. Bahkan mantan bupati Jember, MZA Djalal, pernah menawarkan gagasan pentingnya mengintegrasikan objek wisata daerah Tapal Kuda dengan Bali. Karena sejatinya di sektor pariwisata ini tidak ada persaingan, yang perlu dikedepankan adalah kolaborasi.
*) Penulis adalah ASN pada Pemkab Jember, Bendum MD KAHMI Jember, dan Bendum ICMI Orda Jember.
Editor : Radar Digital