Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Apa yang Sebenarnya Diperjuangkan Anak Muda Hari Ini

Redaksi Radar Jember • Dipublikasikan Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:29 WIB
Ilustrasi Sumpah Pemuda
Ilustrasi Sumpah Pemuda

RADAR JEMBER – Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia menyatukan tekad untuk mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. 

Hampir satu abad kemudian, generasi muda menghadapi tantangan berbeda, mulai dari persaingan pendidikan dan pekerjaan hingga tekanan media sosial yang memengaruhi cara memandang diri sendiri.

Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah persatuan Indonesia. 

Para pemuda dari berbagai organisasi dan latar belakang berkumpul untuk membangun identitas kebangsaan. Semangat tersebut kemudian dikenal melalui ikrar Sumpah Pemuda yang terus diperingati setiap 28 Oktober.

Kini, tantangan anak muda tidak lagi sama dengan masa perjuangan kemerdekaan. 

Perkembangan teknologi membuka kesempatan untuk belajar, berkarya, dan membangun jaringan yang lebih luas. 

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan baru ketika anak muda harus menghadapi derasnya informasi, tuntutan untuk terus produktif, dan standar keberhasilan yang berulang kali muncul di media sosial.

Media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak anak muda. 

Mereka dapat menemukan informasi pendidikan, peluang kerja, komunitas, hingga inspirasi untuk mengembangkan kemampuan. 

Akan tetapi, beranda media sosial juga dipenuhi unggahan mengenai pencapaian akademik, pekerjaan, penampilan, dan gaya hidup orang lain.

Algoritma platform digital ikut menentukan konten yang muncul berdasarkan aktivitas dan minat pengguna.

Ketika seseorang terus melihat konten tentang kesuksesan, misalnya, ia dapat semakin sering menemukan unggahan serupa. 

Paparan tersebut berpotensi mendorong perbandingan sosial, terutama jika seseorang menganggap pencapaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan dirinya.

Tekanan yang dihadapi anak muda juga datang dari berbagai arah. 

Mahasiswa harus menyelesaikan tugas dan mempersiapkan masa depan, sementara mereka yang mulai bekerja perlu beradaptasi dengan tuntutan profesional dan kebutuhan hidup. 

Dalam waktu bersamaan, beberapa dari mereka harus terus mengembangkan diri agar tidak tertinggal.

Dalam kondisi tertentu, tuntutan yang menumpuk dapat memicu stres dan kelelahan. 

Istilah burnout sering digunakan untuk menggambarkan keadaan ketika seseorang merasa kehabisan energi akibat tekanan berkepanjangan. 

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara khusus mendefinisikan burnout sebagai fenomena terkait pekerjaan yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola.

WHO menjelaskan tiga karakteristik utama burnout, yaitu kehabisan energi, munculnya jarak mental atau sikap negatif terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional. 

Karena itu, kelelahan setelah mengerjakan tugas atau menggunakan media sosial tidak serta-merta dapat disebut burnout.

Persoalan ini menunjukkan bahwa perjuangan anak muda tidak selalu terlihat dalam bentuk aksi besar. 

Ada pula upaya menyelesaikan pendidikan, mencari pekerjaan, membantu keluarga, menghadapi ketidakpastian masa depan, dan menjaga kesehatan diri di tengah berbagai tuntutan.

Memaknai Kembali Sumpah Pemuda

Lahirnya Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi penghalang untuk mencapai tujuan bersama. 

Para pemuda pada 1928 membangun persatuan di tengah keberagaman, sedangkan generasi sekarang menghadapi tantangan untuk menjaga semangat tersebut di tengah ruang digital yang dapat memperkuat perbedaan pandangan.

Semangat persatuan dapat diwujudkan dengan menghargai pendapat yang berbeda, memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, dan tidak mudah terpecah oleh perdebatan di media sosial. 

Kepedulian terhadap sesama juga menjadi bagian penting, termasuk memberi dukungan kepada teman yang menghadapi tekanan dan tidak meremehkan kesulitan orang lain.

Peringatan Sumpah Pemuda pun dapat menjadi kesempatan untuk mempertanyakan kembali makna perjuangan generasi muda. 

Perjuangan tersebut tidak harus selalu berupa pengorbanan besar, tetapi juga dapat hadir dalam keberanian menyuarakan pendapat, menciptakan perubahan di lingkungan sekitar, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Jika pemuda pada 1928 berjuang menyatukan tekad demi masa depan bangsa, pemuda hari ini memiliki tantangan untuk meneruskan semangat itu sesuai dengan zamannya. 

Para pemuda kini perlu membangun kemampuan, menjaga persatuan, dan saling mendukung agar kemajuan tidak semata-mata diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Penulis: Sasta Rintis

Editor : M. Ainul Budi
logo sumpah pemuda sumpah pemuda 2026 makna sumpah pemuda sumpah pemuda