Radar Jember – Kabar mengenai dugaan proyek pengadaan 1,8 juta unit kipas angin senilai Rp1,8 triliun untuk program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih kian bergulir panas.
Polemik ini menjadi sorotan utama setelah dicecar dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono pada Rabu (16/7/2026).
Hingga saat ini, belum ada rilis resmi dari pemerintah terkait proyek raksasa tersebut, sehingga memicu kecurigaan dari pihak parlemen.
Di sisi lain, Kementerian Koperasi (Kemenkop) dengan tegas menyatakan sama sekali tidak terlibat dalam rantai pengadaan serta tidak mengantongi informasi detail mengenai isu tersebut.
DPR Curigai Anggaran Jumbo yang Tidak Wajar
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP), Mufti Anam, membeberkan bahwa dirinya telah berupaya menelusuri kebenaran kabar tersebut secara mandiri.
Namun, nihilnya penjelasan resmi dari otoritas berwenang membuat isu ini semakin liar di tengah publik.
"Hari ini masyarakat dihebohkan dengan isu pengadaan 1,8 juta unit kipas angin senilai Rp 1,8 triliun. Dari isu ini kami sudah mencari informasi, tetapi belum mendapatkan penjelasan resmi dari pemerintah," cetus Mufti dalam jalannya rapat kerja, Rabu (16/7/2026).
Mufti menilai kalkulasi anggaran tersebut sangat mencurigakan. Berdasarkan hasil riset yang ia lakukan di berbagai platform belanja daring (e-commerce), harga eceran untuk satu unit kipas angin model berdiri (standing fan) standar umumnya hanya berkisar antara Rp300.000 hingga Rp338.000 saja.
Bukan Barang Murah, Menkop Sebut Pakai Tipe Industri
Menjawab cecaran anggota Dewan, Menteri Koperasi Ferry Juliantono kembali meluruskan bahwa urusan pengadaan sarana fisik Kopdes Merah Putih bukanlah ranah kerja maupun kewenangan instansinya.
"Soal kipas angin itu saya tidak tahu. Pengadaannya bukan di kami," tegas Ferry.
Kendati mengaku tidak terlibat dalam proses teknis, Ferry memberikan sedikit gambaran logis mengenai disparitas harga barang. Ia memaparkan bahwa nilai sebuah kipas angin sangat ditentukan oleh spesifikasi dan kegunaannya.
Kipas angin yang diperuntukkan bagi skala industri berat tentu memiliki harga yang jauh melambung dibanding kipas angin rumah tangga biasa.
Ferry kemudian menyodorkan salah satu contoh produk kipas industri berspesifikasi tinggi, yakni merek Imatsu tipe MDF. Berdasarkan lembar data yang ia peroleh di tengah rapat, produk kelas industri tersebut dibanderol dengan harga mencapai belasan juta rupiah per unitnya.
Ferry menduga bahwa kipas dengan spesifikasi tangguh sejenis itulah yang dialokasikan untuk Kopdes Merah Putih, meskipun ia belum bisa memverifikasi kebenaran informasi tersebut secara menyeluruh.
“Tapi rasanya angka yang ada itu kalau bentuk kipas anginnya yang model ada di Imatsu MDF itu harganya di Shopee ini Rp 11.465.000. Tapi itu, saya enggak tahu persis,” jelas Ferry setelah berdiskusi singkat dengan jajaran staf yang mendampinginya di ruang sidang.
Penjelasan tersebut memberikan titik terang bahwa perbedaan harga satuan di lapangan dipengaruhi oleh kelas dan spesifikasi barang yang dipesan.
Namun, hingga rapat kerja berakhir, pihak Kementerian Koperasi tetap berpegang pada komitmen bahwa mereka bersih dari keterlibatan proyek triliunan rupiah tersebut.
Editor : Imron Hidayatullahh