Radar Jember – Gelombang besar transformasi dunia kerja akibat kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) kian nyata.
Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) memberikan peringatan serius: sekitar 92 juta pekerjaan di seluruh dunia, atau setara 8 persen dari total pekerjaan global, diprediksi akan hilang pada tahun 2030.
Risiko terbesar mengintai pekerjaan yang bersifat repetitif, administratif, dan memiliki pola yang mudah diprediksi.
Baca Juga: SPPG Beroperasi Lagi 31 Maret 2026, BGN Ancam Sanksi Tegas Mitra MBG Nakal
Berdasarkan riset dari McKinsey Global Institute, otomatisasi ini berpotensi menggeser belasan juta tenaga kerja di wilayah Amerika Serikat dan Eropa dalam waktu singkat.
Studi McKinsey yang dikutip melalui Forbes menyebutkan bahwa kecanggihan mesin saat ini telah melampaui kemampuan manusia dalam hal kecepatan dan ketepatan pengolahan data.
"Pengumpulan dan pengolahan data adalah dua kategori aktivitas lain yang semakin dapat dilakukan dengan lebih baik dan lebih cepat dengan mesin. Hal ini dapat menggantikan sejumlah besar tenaga kerja. Misalnya, dalam pengurusan hipotek, pekerjaan paralegal, akuntansi, dan pemrosesan transaksi back-office," demikian pernyataan resmi dalam laporan tersebut.
Daftar 21 Jabatan yang Terancam Hilang pada 2030:
- Petugas layanan pos
- Teller bank dan petugas terkait
- Kasir ritel dan petugas tiket
- Asisten administrasi dan sekretaris
- Staf input data
- Staf akuntansi dan payroll
- Pekerja percetakan
- Petugas pencatatan stok
- Petugas transportasi dan konduktor
- Sales door-to-door, penjual koran, dan pedagang kaki lima
- Desainer grafis
- Penilai klaim asuransi
- Pekerja hukum (legal officials)
- Sekretaris hukum
- Staf IT dasar
- Pekerja lini produksi
- Operator mesin
- Pekerja gudang (picking & handling)
- Telemarketer
- Underwriter asuransi
- Agen perjalanan
Baca Juga: Muktamar NU Ke-35 Diperkirakan Juli–Agustus, PBNU Mulai Matangkan Persiapan
Meski terdengar mengkhawatirkan, fenomena ini juga membuka peluang baru.
WEF memperkirakan akan tercipta sekitar 170 juta lapangan kerja baru yang berbasis ekonomi digital, AI, dan energi bersih.
Para pekerja pun sangat disarankan untuk mulai meningkatkan literasi digital, kemampuan analisis data, hingga keterampilan problem solving agar tetap relevan di masa depan.
Editor : Imron Hidayatullahh