Radar Jember - Banyu Biru, sebuah tempat pemandian alami yang terletak di Desa Sumber Rejo, memiliki reputasi mistis yang telah lama dikenal oleh masyarakat sekitar.
Subandi, juru kunci Banyu Biru, membagikan cerita tentang asal-usul dan kisah mistis yang menyelubungi tempat ini dalam sebuah wawancara dengan channel YouTube WARTABROMO TV.
Subandi telah menjadi juru kunci Banyu Biru sejak tahun 1992. Namun, perjalanannya menuju peran ini dimulai pada tahun 1985 ketika ia menemukan sebuah buku yang mengungkap asal-usul Desa Sumber Rejo.
“Saya sebenarnya bukan juru kunci,” kata Subandi. “Namun, ketika saya menemukan buku itu dan membacanya, saya merasa berterima kasih dan akhirnya menjadi juru kunci di sini.”
Sebelum Subandi, jabatan juru kunci Banyu Biru dipegang oleh beberapa orang, termasuk Pak Mat Kamil, yang juga bekerja di pemandian ini.
Subandi mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri di pemandian ini setelah bekerja sebagai tukang kebun atau yang dikenal dengan sebutan "babat alas."
Banyu Biru dikenal dengan berbagai cerita mistis yang membuat orang-orang enggan mengunjungi tempat ini pada malam hari.
“Dulu, orang-orang takut masuk Banyu Biru karena cerita gaib,” ungkap Subandi. “Jam 8 malam saja tidak ada yang berani masuk karena takut.”
Namun, berbekal pengetahuan dari buku yang ditemukannya, Subandi rutin melakukan tawasul setiap malam Jumat, memohon agar Banyu Biru terhindar dari hal-hal buruk.
“Saya niatkan setiap malam Jumat untuk berdoa agar tidak ada risiko yang tidak menyenangkan di Banyu Biru,” tambahnya.
Menurut Subandi, Banyu Biru dibangun oleh Belanda dan kerap dikunjungi oleh orang-orang yang ingin menjalankan Nazar.
Ada cerita tentang seseorang yang merasa sering melihat penampakan gaib di Banyu Biru dan akhirnya diberikan 'kunci hidup' berupa petunjuk untuk mencapai keberhasilan.
“Banyak yang datang ke sini untuk ‘minta-minta’ dan tidak mengalami hambatan,” kata Subandi.
Buku yang ditemukan Subandi juga mencantumkan peringatan untuk tidak mengungkapkan asal-usul Banyu Biru kecuali dengan banyak doa.
“Saya berani menunjukkan kapan sumber air ini ada asalkan yang diberi tahu tahu doa dan bisa Bahasa Sanskerta,” ujarnya.
Banyu Biru juga dikenal dengan berbagai mitos yang beredar di masyarakat. Beberapa di antaranya adalah mitos yang mengatakan bahwa Banyu Biru membutuhkan tumbal manusia, namun hal ini dibantah oleh Subandi.
Subandi mengatakan bahwa membutuhkan manusia itu bukan sebagai tumbal namun target pasar agar yang bekerja di Banyu Biru ini dapat pemasukan.
Selain itu, ada juga kepercayaan bahwa mandi di Banyu Biru bisa membuat awet muda mungkin terkait dengan suhu airnya yang sangat dingin.
Mandi air dingin diketahui dapat meningkatkan sirkulasi darah dan membantu menjaga kulit tetap kencang, yang bisa membuat seseorang terlihat lebih muda.
Terdapat juga cerita tentang dua ekor kerbau yang mandi di Banyu Biru, dan kepala mereka ditemukan di Danau Ranu Grati. Subandi menegaskan bahwa ini hanya isu belaka.
Subandi menekankan bahwa meskipun terdapat unsur gaib di Banyu Biru, tidak ada gangguan selama tidak ada yang memanggilnya. “Gaib itu ada, tapi tidak mengganggu, kecuali kita memanggilnya,” jelasnya.
“Orang-orang yang punya ‘ilmu’ saya larang untuk menggunakannya di sini.” Subandi memperingatkan bahwa memanggil gaib di Banyu Biru dapat berdampak buruk pada pengunjung, termasuk fenomena kesurupan.
Hal ini bisa membuat Banyu Biru sepi pengunjung, sehingga ia menegaskan pentingnya menghormati aturan dan tradisi yang ada di tempat ini.
Dengan cerita dan mitos yang menyelubungi Banyu Biru, tempat ini tetap menjadi daya tarik bagi mereka yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang misteri dan sejarahnya.
Bagi Subandi, Banyu Biru bukan hanya sekadar tempat kerjanya, tetapi juga bagian penting dari warisan budaya dan spiritual yang harus dijaga.
Editor : Radar Digital