Kampung itu disebut miliarder karena warga setempat kompak membeli mobil secara beramai-ramai. Namun setelah setahun berlalu sejumlah warga melakukan unjuk rasa di kantor PT Pertamina Grass Root Revenery (GRR) tuban, Senin (24/1). Warga berunjuk rasa menagih janji PT pertamina GRR Tuban yang akan memprioritaskan warga lokal sebagai pekerja.
Mereka warga sekitar proyek strategis nasional pembangunan kilang minyak itu mengaku menyesal telah menjual lahannya. Kini mereka kehilangan pekerjaan tetap sebagai petani dan menganggur. Mugi warga sekitar mengaku menyesal telah menjual menjual lahannya. Ia bahkan tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan.
“ya nyesel, dulu lahan saya ditanami jagung dan cabai setiap kali panen bisa menghasilkan Rp 40 juta,” ujar Mugi (59) warga sekitar.
Sejumlah warga mengaku terbujuk oleh rayuan petugas yang menjanjikan untuk memberikan pekerjaan dalam proyek pembangunan kilang apabila mereka bersedia untuk menjual tanahnya.
Senada Musanam mengaku menyesal telah menjual lahannya seluas 2,4 hektare dengan harga lebih dari Rp 2,5 miliar. Melalui lahannya itu ia bisa mendapatkan Rp 40 juta setiap kali panen. Kini ia harus menjual sapinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Punya enam ekor sapi mas, sudah tak jual tiga ekor kini tersisa tiga. Sapi-sapi itu saya jual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Musanam.
Reporter: Viona Alvioniza
Editor: Mahrus Sholih
Source: Berbagai Sumber Editor : Alvioniza