Ia mengatakan, karakter ball python adalah ular yang tidak begitu suka makan. Namun, itu merupakan sebuah proses adaptasi. Sebab, di negara asalnya, Afrika, ball python hidup di bawah tanah dan gua yang cenderung gelap. Sehingga ball python juga tidak begitu memiliki nafsu makan yang tinggi. “Tidak mau makan itu sebenarnya hal biasa. Bisa jadi, dia masih adaptasi. Dulu, saya, ya, bingung ketika ular saya tidak mau makan,” kenangnya.
Menurutnya, pada saat awal memiliki ball python, salah satu dari empat jenis yang ia miliki juga sempat mogok makan. Tak tanggung-tanggung, durasinya lumayan lama, sekitar satu hingga dua bulan. Slamet, yang saat itu masih pemula, mengaku bingung. Hingga akhirnya, salah seorang temannya menyarankan agar membiarkannya. “Yang penting saya kasih air,” ungkapnya.
Normalnya, dalam sepekan seekor ball python hanya makan dua kali. Biasanya adalah tikus putih. Slamet konsisten memberi makanan hewan piaraannya itu dengan tikus putih. Sebab, jenis makanan pada ball python akan memengaruhi bentuk badannya. Slamet anti memberi makan ular-ularnya dengan unggas. “Kalau unggas kan tidak tahu dia ada virusnya atau enggak. Selain itu, kalau makannya unggas nanti badannya bergelambir. Tidak padat. Sisik-sisik kilau di kulitnya itu juga tidak kelihatan,” jabarnya.
Jika ular peliharaannya enggan makan, maka Slamet cenderung membiarkan saja. Sebab, secara naluriah semua ular itu akan makan. “Kalau dia tidak mau makan, berarti di masih kenyang. Pasti akan makan,” pungkasnya. (ani/c2/rus). Editor : Maulana Ijal