Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Modal YouTube Doang? Pemuda Lumajang Buktikan Gagal Berulang Kali Malah Jadi Bos Selada Beromzet Rp 21 Juta!

Adeapryanis • Jumat, 1 Mei 2026 | 07:00 WIB
BERTANI: Pasutri muda asal Kecamatan Kedungjajang berhasil menyulap lahan kosong menjadi sentra pertanian hidroponik. (ADE APRYANIS/RAME)
BERTANI: Pasutri muda asal Kecamatan Kedungjajang berhasil menyulap lahan kosong menjadi sentra pertanian hidroponik. (ADE APRYANIS/RAME)

Radar Jember - Arif Hermawan, lulusan ekonomi syariah dari Universitas Islam Syarifudin (Unisya) Lumajang, sempat bekerja di sebuah kantor properti.

Namun, jalan hidupnya berubah arah. Berbekal rasa penasaran dari video-video inspiratif di YouTube, ia mulai menekuni hidroponik secara otodidak.

Awalnya penuh keterbatasan. Lahan sempit di atas rumah, peralatan seadanya, hingga pengetahuan yang masih minim.

Baca Juga: Pemkab Lumajang Dorong Jamin Keamanan Pangan

Percobaan pertama dilakukan dengan 70 botol bekas yang dipotong sebagai media tanam. Hasilnya jauh dari harapan. Tanaman kerap rusak diserang hama. Gagal, berulang kali. Namun Arif tak berhenti.

Ia kemudian beralih memanfaatkan loteng rumah seluas sekitar 40 meter persegi. Di sana, ia mulai membangun sistem hidroponik sederhana dengan 340 lubang tanam.

Perlahan, kehidupan mulai tumbuh. Selada, sawi, hingga kangkung berkembang dengan baik, menghadirkan warna hijau segar di ruang yang sebelumnya kosong.

Panen pertama tak langsung dijual. Arif memilih membagikannya ke tetangga. Dari situlah cerita berkembang. Respons positif menjadi bahan bakar semangatnya.

Permintaan mulai datang dari katering, warung makan, hingga penjual kebab dan burger. Dalam satu siklus panen 40–45 hari, Arif mampu menghasilkan sekitar 60 kilogram sayuran.

Baca Juga: DPRD Lumajang Desak Percepat Tangani Sampah

Titik balik itu membuatnya berani mengambil keputusan besar. Meninggalkan pekerjaannya dan fokus penuh pada hidroponik.

Seiring waktu, lahannya tak lagi sekadar di atas rumah. Arif memperluas area tanam hingga 220 meter persegi dengan sekitar 5.000 lubang tanam. Kini, ia memiliki empat greenhouse. Di dalamnya, deretan tanaman tumbuh lebih rapi dan terkontrol, terlindung dari cuaca ekstrem.

Produksi pun melonjak. Dalam satu periode panen, ia mampu menghasilkan lebih dari 7 kuintal selada.

Dengan harga rata-rata Rp 30 ribu per kilogram, omzetnya mencapai sekitar Rp 21 juta, dengan keuntungan bersih sekitar Rp 15 juta setiap panen.

Di dalam greenhouse itu, suasana terasa sejuk. Barisan tanaman tersusun simetris, air mengalir stabil, dan cahaya matahari difilter plastik UV.

Tak ada tanah, tak ada lumpur. Hanya akar putih bersih yang menggantung di aliran nutrisi. Sebuah kontras dari bayangan bertani konvensional.

Baca Juga: Santunan Korban Laka Lantas di Lumajang Tembus Rp 3 Miliar

Kini, tantangan Arif justru berbeda. Permintaan terus meningkat, terutama sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan sayuran segar dalam jumlah besar.

“Sekarang malah kekurangan pasokan karena pesanan terus bertambah. Satu dapur MBG saja bisa minta sampai 50 kilogram,” ujarnya. (dea/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#greenhouse #Mbg #Hidroponik #Pertanian Modern #Lumajang